Rupiah Tembus Rp 17.700 Per Dollar AS Dampak Ketergantungan Barang Impor
SR, Surabaya – Nilai tukar rupiah sempat bergerak anjlok hingga Rp 17.700 per dollar Amerika Serikat (AS). Pakar ekonomi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Muhammad Ubaidillah Al Mustofa membeberkan penyebab dan solusi mitigasinya.
Semakin melemahnya nilai tukar rupiah ini memberikan efek domino, terutama bagi kalangan pelaku industri dan importir. Ubaid mengatakan, depresiasi nilai tukar rupiah dapat menjadi early warning indicator bagi kondisi perekonomian nasional. Pelemahan rupiah akan berdampak besar apabila ketergantungan terhadap barang impor masih tinggi.
“Jika rupiah terus terdepresiasi sedangkan kebutuhan konsumsi masih didominasi produk impor, maka kondisi ini dapat merugikan perekonomian dalam jangka panjang,” kata Ubaid, Rabu (20/5/2026).
Penyebab rupiah anjlok Dosen Departemen Studi Pembangunan ITS Surabaya tersebut menuturkan bahwa lemahnya rupiah disebabkan karena faktor eksternal dan internal.
Dari sisi eksternal, kondisi geopolitik global akibat eskalasi konflik yang terjadi di negara-negara Timur Tengah turut memberikan dampak terhadap ekonomi dunia, terutama pada kenaikan harga minyak dan energi.
Minyak dan energi merupakan dua komoditas penting untuk keberlanjutan ekonomi di banyak negara. Indonesia tak terkecuali. Karena, minyak dan negeri menjadi bahan baku utama pada industri. Sementara itu, faktor internal berasal dari sentimen investor terhadap kebijakan pemerintah di bidang industri dan investasi.
Menurutnya, ketidakpastian kebijakan dapat memicu capital outflow atau keluarnya modal asing dari Indonesia. “Ketika investor menarik investasinya dalam bentuk dollar AS, maka permintaan dollar meningkat dan nilai rupiah semakin tertekan,” sambungnya.
Meski begitu, Ubaid melihat kondisi ekonomi Indonesia di level grassroots masih relatif kuat karena ditopang oleh perputaran konsumsi masyarakat di Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Upaya mitigasi
Akademisi asal Sidoarjo tersebut menyoroti pentingnya penguatan hilirisasi sumber daya alam (SDA) dalam memperbaiki ketahanan ekonomi nasional. “Fokus pengembangan komoditas menjadi barang setengah jadi atau barang jadi dapat meningkatkan nilai tambah ekspor Indonesia,” terangnya.
Di sektor industri, depresi rupiah akan menyebabkan kenaikan harga pada kebutuhan pokok di dalam negeri karena beberapa kebutuhan masih bergantung impor. “Kenaikan harga bahan baku energi, hingga kebutuhan pokok lainnya dapat menurunkan daya beli masyarakat,” bebernya.
Oleh karena itu, Ubaid mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif saat ini. Sebaiknya menghindari pola belanja yang berlebihan, serta mengurangi pengeluaran berdasarkan keinginan. Selain itu, ia juga mengingatkan agar masyarakat menghindari pinjaman dengan bunga tinggi karena fluktuasi ekonomi dapat memengaruhi tingkat suku bunga. (*/red)
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





