Rupiah Melemah, Sampai Kapan Pemerintah Bertahan Tak Naikkan BBM
SR, Surabaya – Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Prof. Imron Mawardi menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS berpotensi menekan perekonomian nasional. Kondisi ini dinilai berdampak luas karena industri Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor.
“Banyak sekali industri kita masih tergantung pada produk-produk impor. Terutama bahan baku dan bahan penolong,” ujar Imron .
Menurutnya, bukan hanya bahan baku industri, sejumlah bahan pangan juga masih didominasi impor. Salah satunya bahan untuk produk makanan seperti roti yang disebut masih bergantung penuh pada pasokan luar negeri.
“Kalau kita bicara makanan seperti roti. Bahan utamanya bisa dikatakan 100 persen masih dari impor,” katanya.
Imron menegaskan pelemahan rupiah otomatis berdampak pada perekonomian nasional. Kenaikan biaya impor akan memicu tekanan pada berbagai sektor, termasuk transportasi dan distribusi barang.
Saat ini, pemerintah disebut masih berupaya menahan dampak tersebut melalui subsidi energi. Namun, kebijakan itu dinilai memiliki keterbatasan karena kemampuan fiskal pemerintah tidak tanpa batas.
“Pemerintah masih mencoba menahan kenaikan harga BBM melalui subsidi. Tetapi kapasitas pemerintah juga terbatas,” jelasnya.
Ia menambahkan, jika subsidi mulai dikurangi atau harga energi industri meningkat, dampaknya akan meluas ke masyarakat. Kenaikan biaya operasional sektor usaha berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap harga kebutuhan sehari-hari.
“Solar industri yang mahal akan menimbulkan multiplier effect. Dan akhirnya berdampak pada masyarakat,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, nilai tukar rupiah tercatat menembus Rp17.700 per dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan biaya produksi nasional. (*/rri/red)
Tags: Ekonom, rupiah lemah, subsidi BBM, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





