Melawan Kekerasan terhadap Perempuan lewat Film dan Monolog

Rudy Hartono - 3 December 2024
seniman dan pembuat film menyoroti kekerasan terhadap perempuan melalui film dan monolog (foto:rri)

SR, Surabaya – Para seniman dan pembuat film menyoroti kekerasan terhadap perempuan melalui film dan monolog. Acara bertajuk Perempuan Bersuara ini berlangsung di Gedung Nasional Indonesia (GNI), Minggu (1/12/2024) malam.

Acara ini menampilkan film pendek “Pulih” dan monolog “Pelaminan Kosong” yang membahas isu kekerasan perempuan. Kedua karya seni tersebut menyuarakan pentingnya menghentikan narasi yang mempasifkan perempuan.

Direktur Gen Epistree, Muhammad Irfansyah, menjelaskan film Pulih dibuat bersama Women’s Crisis Center (WCC) Jombang. “Isi film ini berdasarkan pengalaman advokasi pendamping korban kekerasan seksual,” katanya.

Menurutnya, film ini tak sekadar karya seni, tapi juga alat kampanye melawan kekerasan seksual. Irfansyah menegaskan semua aktor dan seniman yang terlibat dipilih secara profesional. “Kami libatkan aktor terbaik untuk menciptakan karya yang mendukung pendamping korban,” jelasnya. Kolaborasi ini menjadi bagian dari kampanye menghentikan kekerasan terhadap perempuan.

Selain film, monolog “Pelaminan Kosong” juga menjadi sorotan dalam acara ini. Monolog ini merupakan kerja sama Gen Epistree dengan Reaktor untuk menyuarakan isu perempuan dari sudut pandang seni.

Direktur WCC Jombang, Anna Abdullah, menilai film adalah media yang efektif untuk kampanye. “Media kreatif seperti film mampu mentransformasi nilai secara lebih menarik,” katanya.

Anna menjelaskan, film “Pulih” menggambarkan kerja keras pendamping korban dalam mendukung penyintas. Hal ini memberikan wawasan tentang pentingnya peran pendamping dalam pemulihan psikologis.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pendamping menghadapi tantangan besar dalam memberi penguatan kepada korban,” jelasnya. Ia menegaskan kampanye ini akan terus dilakukan demi melawan kekerasan seksual.

WCC Jombang juga aktif sebagai bagian dari Satuan Tugas Penjagaan Penanganan Kekerasan (SATGAS PPK). Organisasi ini berkomitmen menyuarakan pentingnya pencegahan dan penanganan kekerasan di berbagai lingkup.

Melalui film dan seni, kampanye ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat. Kolaborasi kreatif ini menjadi langkah strategis menghentikan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. (*/rri/red)

 

 

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.