Tolak Rektor Baru, Mahasiswa UINSA Protes UKT & Fasilitas

Rudy Hartono - 17 September 2026
Aksi mahasiswa merusak dan membakar karangan bunga ucapan selamat atas pelantikan Akh. Muzakki sebagai rektor periode 2026-2030 di Twin Tower UINSA, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (16/9/2026). (net)

SR, Surabaya – Aksi penolakan terhadap pelantikan kembali Akh. Muzakki sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya periode 2026-2030 tidak hanya mempersoalkan proses pelantikan, Rabu (16/9/2026).

Mahasiswa juga menyuarakan sejumlah persoalan kebijakan kampus yang mereka nilai berdampak terhadap kehidupan akademik dan kegiatan kemahasiswaan.

Wakil Presiden BEM UINSA Surabaya, Fadlurrakhman Fazle Purwardana, mengatakan terdapat sejumlah kebijakan pada masa kepemimpinan Muzakki yang menjadi sorotan mahasiswa.

Fadlurrakhman menyebut mahasiswa mempertanyakan sejumlah pergantian atau reshuffle pimpinan di lingkungan kampus yang menurut mereka dilakukan secara sepihak.

Ia juga mengatakan sejumlah dosen pernah menyampaikan keberatan mengenai kebijakan kampus melalui mahasiswa.

“Dulu itu sempat ada kasus Dekan Fahum yang dicopot secara paksa, secara sepihak, dan kemudian menjadi titik tanya dari kami,” kata Fadlurrakhman saat ditemui dalam aksi mahasiswa di kampus UINSA, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (16/9/2026).

Menurut Fadlurrakhman, persoalan tersebut menjadi salah satu alasan mahasiswa mempertanyakan pola pengambilan keputusan di lingkungan kampus.

Selain tata kelola kepemimpinan, mahasiswa menyoroti penggunaan fasilitas kampus untuk kegiatan organisasi.

Fadlurrakhman mencontohkan penggunaan Sport Center dan gedung kampus yang disebut mengharuskan organisasi mahasiswa mengeluarkan biaya.

“Beberapa persen dari penghasilan kegiatan kami itu harus diserahkan ke Pusat Bisnis. Makanya ini kan jelas sekali, adanya komersialisasi pendidikan,” ujarnya.

Tuntutan Mahasiswa

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan tuntutan kepada pihak kampus dan pemerintah.

  1. Mahasiswa meminta Muzakki mundur dari jabatan rektor atau dicopot dari jabatannya.
  2. Mahasiswa mendesak pimpinan UINSA memberikan pernyataan publik mengenai Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) yang baru terbentuk pada 2025.
  3. Mereka juga meminta persoalan tersebut dibuka terkait pelaksanaan mandat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.
  4. Mahasiswa meminta kasus di LLDIKTI Wilayah IV yang mereka sebut melibatkan Muzakki sebagai terlapor diusut hingga tuntas.
  5. Mahasiswa meminta kejelasan dan tenggat waktu terkait keterlambatan pembagian buku, kartu tanda mahasiswa (KTM), dan almamater bagi mahasiswa baru.
  6. Mahasiswa meminta pertanggungjawaban terkait penerimaan mahasiswa baru yang dinilai terlalu banyak sehingga berdampak pada keterbatasan fasilitas kampus.
  7. Mahasiswa meminta kebijakan jam malam dihapus karena dinilai tidak mengakomodasi kegiatan nonakademik mahasiswa.
  8. Mahasiswa meminta pertanggungjawaban terkait penentuan uang kuliah tunggal (UKT) mahasiswa baru yang mereka nilai tidak berpihak kepada kelompok mahasiswa menengah ke bawah.
  9. Mahasiswa meminta mekanisme peminjaman tempat di kampus dihapus karena dinilai mempersulit kegiatan mahasiswa.

Fadlurrakhman mengatakan mahasiswa berharap Muzakki datang dan berdialog langsung dengan massa aksi.

“Kami akan tetap bertahan dan kita akan tetap bergandengan untuk berjaga sampai beliau datang,” katanya.

Ia mengatakan mahasiswa memperoleh informasi bahwa Muzakki berada di Jombang, Jawa Timur, bersama Direktur Jenderal Kementerian Agama ketika aksi berlangsung.  (*/red)

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.