Kisah Inspiratif Perempuan Netra, Kuasai Tujuh Bahasa Lewat Game dan Youtube
SR, Surabaya – Bermain game yang awalnya dilakukan untuk mengusir rasa bosan di rumah, justru membawa Fifi Clrissa mengenal berbagai bahasa dari teman mancanegara di dunia maya. Hasilnya sungguh luar biasa, kini perempuan disabilitas netra ini menguasai 6 bahasa asing diluar bahasa Indonesia.
Saat ditemui di Yayasan Pendidikan Anak-Anak Buta (YPAB) Surabaya, perempuan dengan rambut sebahu ini mengatakan dirinya mampu memahami dan menguasai bahasa Inggris, bahasa Jepang, bahasa Thailand, bahasa Hindi, bahasa Turki, dan bahasa Mandarin. Semuanya itu diperoleh dari kebiasaan berkomunikasi saat bermain game dan berinteraksi dengan teman-teman secara online.
“Saya tidak memperoleh kemampuan tersebut melalui pendidikan bahasa secara khusus, namun belajar secara bertahap dari lingkungan pertemanan di dunia maya. Kebiasaan teman-teman yang menggunakan bahasa tertentu saat bermain membuat saya mengenal dan memahami bahasa yang digunakan,” ujarnya, Senin (14/9/2026).
Perempuan yang mengenakan baju merah muda ini menyebut dari tujuh bahasa yang dipahami, bahasa Inggris menjadi salah satu bahasa yang paling sering digunakan ketika bermain game. Sementara itu, bahasa Turki dan bahasa Mandarin menjadi dua bahasa yang paling sulit untuk dipahami.
Fifi mengaku kemampuan tujuh bahasa yang dimilikinya masih berada pada tingkat dasar. Ia belum sepenuhnya mampu mengikuti percakapan yang berlangsung dengan cepat atau percakapan panjang menggunakan bahasa-bahasa tersebut.
“Aku tahu bisa paham tujuh bahasa itu cuma basic-nya aja sih, bukan yang kayak ngobrol cepat gitu. Kalau ngobrol banyak, aku masih bingung sih,” katanya sembari tersenyum.
Bagi Fifi, game bukan hanya menjadi sarana hiburan, melainkan menjadi tempat untuk bertemu dengan orang-orang baru sekaligus belajar memahami bahasa yang digunakan oleh teman-temannya.
Salah satu game yang biasa dimainkan Fifi adalah Legend of the King. Dari permainan tersebut, ia mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan pemain lain dan membangun pertemanan secara online.
Ketertarikannya bermain game sendiri berawal dari rasa bosan karena lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Namun, seiring berjalannya waktu, aktivitas tersebut justru memberikan pengalaman baru bagi Fifi, termasuk mengenal bahasa dan budaya dari teman-temannya.
Tidak berhenti pada game dan kemampuan bahasa, Fifi juga mengembangkan kreativitasnya melalui teknologi. Ia memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence atau AI untuk membuat suara dubber.
Konten dubber yang dibuat Fifi berasal dari karangan dan imajinasinya sendiri. Ia kemudian menuangkan ide tersebut ke dalam bentuk karya digital dengan bantuan teknologi AI. Aktivitas membuat konten tersebut juga ia bagikan melalui akun YouTube miliknya. Fifi telah mulai mengunggah konten di YouTube sejak sekitar delapan bulan lalu.
”Kalau soal dubber AI itu karena aku suka berimajinasi gitu jadi akhirnya aku buat pake dubber AI,” ungkapnya.
Melalui YouTube, Fifi memiliki ruang untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mengembangkan ketertarikannya terhadap dunia digital. Ia memanfaatkan teknologi yang tersedia untuk mengubah ide dan imajinasinya menjadi sebuah karya.
Pengalaman Fifi menunjukkan bahwa hobi sederhana seperti bermain game dapat menjadi pintu untuk mengembangkan kemampuan baru. Dari berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai negara, Fifi mampu memahami 6 bahasa asing. Di sisi lain, ketertarikannya terhadap teknologi juga membuatnya berkarya melalui konten dubber berbasis AI yang dibagikan melalui kanal YouTube. (Berlian/red)
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.


