Kasus MBG Trenggalek: 77 Siswa Alami Diare Massal
SR, Trenggalek – Sebanyak 77 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Aliyah (MA) Global di Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, dilaporkan mengalami keluhan diare, sakit perut, dan gejala lainnya yang diduga berkaitan dengan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Keluhan tersebut dilaporkan terjadi pada Selasa (15/09/2026), setelah para siswa mengonsumsi menu MBG sehari sebelumnya yakni pada Senin (14/09/2026) siang.
MBG tersebut, didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangan yang dikelola Yayasan Mulia Hiroku Gakkou.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto, menjelaskan bahwa laporan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan mendatangi lokasi bersama tim, yakni koordinator wilayah, Dinas Kesehatan, dan Puskesmas setempat “Yang tercatat ada 77 anak. Ini diduga dari proses makan MBG yang kemarin,” ujar Sunarto melalui pesan singkat, Rabu (16/09/2026).
Sunarto menjelaskan, dari penelusuran terhadap penerima MBG yang jumlahnya lebih dari 1.000 orang dari SPPG tersebut, sementara ini hanya 77 siswa yang terdeteksi mengalami keluhan diare hingga sakit perut.
Dari 77 penerima manfaat yang mengalami keluhan, sebanyak 34 orang berasal dari MA Global. Dengan rincian, 27 siswa dan tujuh guru.
Sementara dari SMP Global terdapat 43 orang, terdiri atas 41 siswa dan dua guru.
Saat ini, menurut Sunarto, penanganan terhadap penerima manfaat yang mengalami keluhan menjadi prioritas sebelum tim melakukan penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui kemungkinan penyebabnya.
“Yang kita lakukan yang pertama, kalau ada suatu kasus insiden apa pun, penerima manfaat yang terdampak itu harus ditangani dulu. Kemudian, kita lakukan penelusuran pada penerima manfaat,” kata Sunarto.
Atas kejadian tersebut, Satgas MBG juga melakukan pemeriksaan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan bagi para siswa.
Sunarto menegaskan, setiap insiden semacam ini akan ditindaklanjuti dengan pengambilan sampel makanan yang masih tersimpan di SPPG. Sampel tersebut nantinya diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya kontaminasi atau penyebab keluhan yang dialami penerima manfaat. “Setiap ada kasus insiden seperti ini, kita lakukan pengambilan sampel,” ungkap Sunarto.
Adapun menu MBG yang dikonsumsi siswa sehari sebelumnya terdiri dari ayam bumbu rendang tanpa santan, acar timun dan wortel, tempe goreng, serta buah melon.
Menurut Sunarto, tim akan menelusuri seluruh rangkaian proses penyediaan makanan, mulai dari bahan baku tiba di SPPG, proses pengolahan, hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa.
“Untuk kasus seperti ini biasanya kita mirip audit. Kita catat proses mulai dari bahan itu datang sampai nanti ke penerima manfaat. Itu nanti kita audit kasusnya,” ujar Sunarto.
Untuk memastikan penyebab keluhan, sampel makanan akan dikirim ke laboratorium di Surabaya yang memiliki kemampuan pemeriksaan lebih lengkap. Sunarto mengatakan, pemeriksaan di laboratorium tersebut dapat mencakup sejumlah jenis bakteri yang mungkin berkaitan dengan kontaminasi makanan. “Lab-nya nanti diambil, tetap dikirim ke Surabaya yang cukup lengkap. Kalau di sini hanya beberapa saja, seperti E-coli,” kata Sunarto.
Menurut Sunarto, pemeriksaan di laboratorium dengan fasilitas lebih lengkap juga diperlukan untuk mendeteksi bakteri tertentu yang relatif jarang ditemukan dalam kasus serupa, termasuk Bacillus cereus.
Dia menyebut, hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi salah satu dasar untuk mengetahui kemungkinan sumber penyebab keluhan yang dialami para siswa. Selain melakukan pemeriksaan, laporan insiden tersebut juga telah diteruskan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) di tingkat pusat.
Pihak SPPG yang terkait dengan insiden tersebut berpotensi mendapatkan penghentian sementara (suspend), namun keputusan masih menunggu perkembangan hasil penelusuran dan pemeriksaan lebih lanjut.
Hingga kini, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami 77 penerima manfaat tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut. Satgas MBG belum menyimpulkan bahwa keluhan tersebut disebabkan oleh menu MBG, sebelum hasil pemeriksaan laboratorium tersedia. (*/red)
Tags: Diare, mbg, siswa, superradio.id, Trenggalek
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





