Masihkah Radio Didengarkan?

Yovie Wicaksono - 30 September 2023

“Theatre of mind” radio

Sejak dulu, radio telah dikenal dengan theatre of mind yang bisa mengajak pendengar ikut merasakan dan masuk dalam suatu topik yang dibahas oleh penyiar. Inilah kelebihan radio yang tidak dimiliki media lain.

“Kekuatan radio adalah audio. Audio atau suara itu sifatnya theater of mind. Gambar dalam radio itu jauh lebih bagus daripada televisi. Memang terkesan paradoks karena radio bukan media visual. Tapi justru itu kekuatannya,” kata Arief.

“Ketika kita menyampaikan sesuatu dan masuk dalam telinga, kemudian diproses dalam otak, itu akan memunculkan gambar. Gambar yang otak produksi sendiri itu menurut saya jauh lebih bagus daripada gambar yang ada di media visual. Hal semacam itu seharusnya dikuatkan kembali,” imbuhnya.

Untuk itu, radio perlu memproduksi konten yang kemudian mampu membawa imajinasi pendengar. Menguatkan keunggulan radio yang tidak dimiliki oleh media lain.

Sedangkan Yosua menambahkan, dibanding terburu-buru mengejar trend, lebih baik radio menguatkan kualitas audio dan program yang sesuai dengan segmen pendengar.

“Prospek radio akan tetap ada asal paradigma nya benar, kalau latah menggunakan radio visual maka radio akan hilang karena spirit tekad keyakinan dari kawan radio tidak maksimal untuk menguatkan audio,” kata Yosua.

Radio, kata Yosua, harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, namun tidak boleh melupakan tujuan awalnya sebagai media yang menghibur, informatif, dan menjadi kontrol sosial.

“Radio kan media sambi. Orang sambil nyetir, nyetrika, masak di rumah bisa mendengar radio. Nah kalau menurut saya yang terpenting dari radio adalah bagaimana tetap optimis dan menyesuaikan diri dengan selera pendengar dan platform,” jelasnya.

“Saya khawatir ketika radio ini memang terus berjuang mendapatkan ruang di konvergensi digital, malah meninggalkan segmen yang sebetulnya jadi pendengar setia radio contohnya usia 40-50 tahun, orang yang sedang di jalan, itu mereka lebih merasakan kenyamanan dengan adanya radio daripada visual,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari KPID Jatim, kata Yosua, pihaknya juga akan terus mendampingi awak radio agar dapat berjalan sesuai dengan fungsinya dan mampu bertahan ditengah disrupsi media.

“Perizinan sekarang sudah menggunakan sistem, KPID lebih fokus pada isi siaran. Sekarang kita fokus pada bagaimana isi siaran taat aturan dan sesuai dengan agenda setting bersama terkait fungsi media, informasi, hiburan yang sehat, edukasi, dan kontrol sosial, dan pendampingan ke kawan-kawan radio,” ungkapnya.

Sementara itu, disamping berbagai tantangan sekaligus peluang industri radio di saat ini, Ketua Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Timur, Ismet Jauhari menambahkan, PRSSNI sebagai wadah radio swasta juga akan terus melakukan berbagai penguatan agar radio tak hilang di telan zaman.

“Di Jawa Timur kami beranggotakan 87 radio, upaya yang kita lakukan agar radio tetap eksis adalah memberikan berbagai pelatihan berdasarkan kebutuhan, mulai dari pelatihan siaran hingga digital marketing. Ini sebagai modal awal bagi teman-teman untuk bisa melakukan kegiatan di radio masing-masing,” ujarnya.

Ia juga meyakini, apabila radio bisa mengakomodir dan menyajikan kebutuhan masyarakat dengan tetap tidak meninggalkan ciri khas dan daya tariknya, radio tidak akan pernah ditinggalkan oleh pendengarnya.

Tampilkan Semua

Tags: ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.