Pesantren di Sampang Produksi Paving Block dari Sampah Plastik

Rudy Hartono - 24 July 2026
Sampah Plastik Disulap Jadi Paving Blok di Pesantren Nurut Thullab Sampang (sumber: rri)

SR, Sampang – Pesantren Nurut Thullab di Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, memilih cara berbeda dalam mengelola sampah plastik. Limbah yang selama ini kerap menjadi persoalan lingkungan diolah menjadi paving blok yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha bagi pesantren dan masyarakat sekitar.

Inovasi tersebut lahir dari kerja sama antara pesantren dengan warga sekitar yang mengumpulkan sampah plastik sebagai bahan baku. Setelah melalui proses pengolahan, limbah tersebut diubah menjadi paving blok yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan konstruksi sederhana.

Selain mengurangi timbunan sampah, kegiatan ini juga memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat yang terlibat dalam penyediaan bahan baku. Pengembangan usaha ini mulai mendapat dorongan setelah Pesantren Nurut Thullab bergabung dalam Program One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur pada 2026.

Selain paving blok, pesantren juga mengembangkan sejumlah produk lain, seperti keripik pisang dan keripik singkong. Namun, paving blok berbahan plastik menjadi produk yang paling menonjol karena menggabungkan aspek ekonomi dan kepedulian terhadap lingkungan.

Pengurus Pesantren Nurut Thullab, Gus Hairul Umam, Rabu (22/7/2026), mengatakan pendampingan melalui Program OPOP membantu pesantren mengembangkan usaha produktif yang dapat menopang kemandirian ekonomi. Menurutnya, semakin banyak pesantren yang memiliki unit usaha, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

“Kami berharap Program OPOP terus berkembang sehingga semakin banyak pesantren yang mampu mandiri secara ekonomi dan memiliki usaha produktif yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Gus Hairul Umam.

Sekretaris Jenderal OPOP Jawa Timur, Gus Ghofirin, menilai pemanfaatan sampah plastik menjadi paving blok mencerminkan penerapan ekonomi sirkular di lingkungan pesantren. Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga mendorong kesadaran masyarakat untuk mengurangi limbah plastik.

“Ketika sampah plastik dapat diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi, yang tumbuh bukan hanya usahanya, tetapi juga kepedulian masyarakat terhadap lingkungan,” ujar Gus Ghofirin, melalui keterangan tertulisnya.

Bagi Pesantren Nurut Thullab, paving blok bukan sekadar produk usaha. Inovasi itu menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang ekonomi melalui kolaborasi antara pesantren dan masyarakat.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pesantren mengembangkan peran sebagai pusat pendidikan sekaligus pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal. (*/rri/red)

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.