Masihkah Radio Didengarkan?

Yovie Wicaksono - 30 September 2023

Tantangan radio di era konvergensi media

Perkembangan teknologi, secara tidak langsung membawa perubahan pada pola kerja radio yang semula hanya siaran analog atau melalui frekuensi, kini menjadi konvergensi media.

Dosen Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (UNTAG) Surabaya, Maulana Arief mengatakan, radio harus melakukan regenerasi pendengar agar bisa terus eksis, dengan cara konvergensi media.

Melalui hal tersebut, harapannya pengguna internet dan sosial media bisa masuk mendengarkan radio lagi.

“Radio harus berinteraksi atau berkolaborasi dengan teknologi. Misalnya, bisa melakukan manuver dengan memanfaatkan gadget sebagai alat siaran melalui streaming. Di zaman sekarang karena generasi muda sudah menggunakan media yang berbeda, awak radio juga harus menguasai media populer tersebut untuk kemudian bisa disinkronkan,” ujarnya.

Perubahan pesat ini dinilai Maulana menjadi tantangan tersendiri bagi industri radio.

“Tantangan radio sekarang adalah bersaing dengan berbagai macam konten yang tersebar di internet khususnya sosial media. Pekerjaan rumah terbesar radio zaman sekarang adalah melakukan regenerasi pendengar,” sambungnya.

Sejalan dengan itu, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jatim, Immanuel Yosua Tjiptosoewarno juga menyebut era radio belum punah, melainkan terkonvergensi ke bentuk media lain.

“Sebetulnya kalau mau dikaji secara mendalam, radio harus dilihat sebagai perangkat elektronik atau sebagai konten dulu. Kalau dari sisi konten saya kira radio ini eranya belum habis, bahkan beberapa istilah radio ini digunakan di media lain,” ujarnya.

Adaptasi radio ini, lanjutnya, bisa terlihat di berbagai platform media. Banyak program televisi hingga konten kreator yang membuat konten seperti podcast, menampilkan audio visual dengan konsep hingga desain menyerupai studio radio.

Hal ini membuktikan, fungsi radio masih dibutuhkan sebagai teman aktivitas dan berbagi informasi, hanya saja kini porsinya berbeda.

“Kita bisa lihat ada spotify dan sejenisnya itu radio on demand, nah itu menjadi sesuatu yang menarik,” ucapnya.

Ke depan radio harus bersaing dengan banyak platform yang menawarkan pengalaman serupa. Inovasi pun terus muncul demi mengikuti pangsa pasar yang ada, salah satunya radio visual.

Hal ini, kata Yosua merupakan satu kemajuan namun perlu diingat bahwa radio berbeda dengan televisi. Jika ini tidak dikerjakan dengan cermat dan hati-hati, maka hasilnya justru berdampak buruk untuk industri radio.

“Walaupun kalau diterapkan secara tepat tidak akan ada bedanya dengan televisi. Tapi pertanyaannya adalah hari ini seberapa banyak pengguna internet yang membiarkan kuotanya habis untuk mendengar radio visual,” tuturnya.

“Saya juga masih berpikir relevansi dari radio visual. Radio visual ini bagaimanapun kualitasnya akan beda dengan televisi karena peralatannya beda. Kalau tidak berhati-hati ini tidak ada bedanya dengan media sosial, tiba-tiba kita pakai hp lalu langsung ambil gambar dan lama-lama membosankan, coba kalau siaran satu jam, itu juga bisa mengurangi kenyamanan penyiar,” imbuhnya.

Pemimpin Redaksi Super Radio, Yovinus Guntur Wicaksono mengatakan, radio memang masih memiliki pangsa pasar yang belum tergantikan. Tetapi harus terus bergerak dinamis untuk mengikuti perkembangan teknologi.

“Radio masih tetap menjadi teman. Namun, kami harus terus menciptakan ruang agar mampu diterima semua generasi. Ini adalah tantangan kami,”ujarnya.

“Kami sudah mengantisipasi hal ini. Tinggal pada bagaimana implementasinya,”imbuhnya.

Tampilkan Semua

Tags: ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.