Masihkah Radio Didengarkan?

Yovie Wicaksono - 30 September 2023

SR, Surabaya – Memperingati Hari Radio Nasional, 11 September 2023. Super Radio melakukan survei acak yang melibatkan sekira 100 responden usia 15-54 tahun di Surabaya untuk mengetahui bagaimana eksistensi radio di tengah perkembangan zaman. Survei ini dilakukan pada 9-20 September 2023.

Hasilnya, sebanyak 66,3 persen responden masih mendengarkan radio hingga saat ini lantaran radio menjadi salah satu media massa untuk mendapatkan informasi ataupun hiburan.

Dengan mendengarkan radio, mereka merasa terhibur melalui suguhan musik yang menarik dan berbagai informasi terbaru yang bisa didapatkannya. Terlebih dengan adanya seorang penyiar yang membuat mereka merasa tidak sendirian, utamanya saat sedang dalam perjalanan.

“Biasanya mendengarkan radio saat di mobil dalam perjalanan untuk mendengarkan musik dan berita terkini,” ujar salah satu responden, Nailul Aqilatul Izzah.

“Alasan masih mendengarkan radio ya karena bisa mendengarkan lagu secara acak, gratis dan ditemani oleh suara penyiar sambil melakukan berbagai aktivitas,” kata responden lain, Andika Bima Prasetyo.

Hasil survei juga menyebut popularitas radio tidak terlepas dari konsep media komunikasi, khususnya hiburan, yang mudah diakses dan bisa dinikmati sembari melakukan aktivitas.

Hingga kini budaya radio melekat dengan media hiburan melalui berbagai program favorit yang sangat populer di telinga pendengar.

Tantangan radio di era konvergensi media

Perkembangan teknologi, secara tidak langsung membawa perubahan pada pola kerja radio yang semula hanya siaran analog atau melalui frekuensi, kini menjadi konvergensi media.

Dosen Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (UNTAG) Surabaya, Maulana Arief mengatakan, radio harus melakukan regenerasi pendengar agar bisa terus eksis, dengan cara konvergensi media.

Melalui hal tersebut, harapannya pengguna internet dan sosial media bisa masuk mendengarkan radio lagi.

“Radio harus berinteraksi atau berkolaborasi dengan teknologi. Misalnya, bisa melakukan manuver dengan memanfaatkan gadget sebagai alat siaran melalui streaming. Di zaman sekarang karena generasi muda sudah menggunakan media yang berbeda, awak radio juga harus menguasai media populer tersebut untuk kemudian bisa disinkronkan,” ujarnya.

Perubahan pesat ini dinilai Maulana menjadi tantangan tersendiri bagi industri radio.

“Tantangan radio sekarang adalah bersaing dengan berbagai macam konten yang tersebar di internet khususnya sosial media. Pekerjaan rumah terbesar radio zaman sekarang adalah melakukan regenerasi pendengar,” sambungnya.

Sejalan dengan itu, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jatim, Immanuel Yosua Tjiptosoewarno juga menyebut era radio belum punah, melainkan terkonvergensi ke bentuk media lain.

“Sebetulnya kalau mau dikaji secara mendalam, radio harus dilihat sebagai perangkat elektronik atau sebagai konten dulu. Kalau dari sisi konten saya kira radio ini eranya belum habis, bahkan beberapa istilah radio ini digunakan di media lain,” ujarnya.

Adaptasi radio ini, lanjutnya, bisa terlihat di berbagai platform media. Banyak program televisi hingga konten kreator yang membuat konten seperti podcast, menampilkan audio visual dengan konsep hingga desain menyerupai studio radio.

Hal ini membuktikan, fungsi radio masih dibutuhkan sebagai teman aktivitas dan berbagi informasi, hanya saja kini porsinya berbeda.

“Kita bisa lihat ada spotify dan sejenisnya itu radio on demand, nah itu menjadi sesuatu yang menarik,” ucapnya.

Ke depan radio harus bersaing dengan banyak platform yang menawarkan pengalaman serupa. Inovasi pun terus muncul demi mengikuti pangsa pasar yang ada, salah satunya radio visual.

Hal ini, kata Yosua merupakan satu kemajuan namun perlu diingat bahwa radio berbeda dengan televisi. Jika ini tidak dikerjakan dengan cermat dan hati-hati, maka hasilnya justru berdampak buruk untuk industri radio.

“Walaupun kalau diterapkan secara tepat tidak akan ada bedanya dengan televisi. Tapi pertanyaannya adalah hari ini seberapa banyak pengguna internet yang membiarkan kuotanya habis untuk mendengar radio visual,” tuturnya.

“Saya juga masih berpikir relevansi dari radio visual. Radio visual ini bagaimanapun kualitasnya akan beda dengan televisi karena peralatannya beda. Kalau tidak berhati-hati ini tidak ada bedanya dengan media sosial, tiba-tiba kita pakai hp lalu langsung ambil gambar dan lama-lama membosankan, coba kalau siaran satu jam, itu juga bisa mengurangi kenyamanan penyiar,” imbuhnya.

Pemimpin Redaksi Super Radio, Yovinus Guntur Wicaksono mengatakan, radio memang masih memiliki pangsa pasar yang belum tergantikan. Tetapi harus terus bergerak dinamis untuk mengikuti perkembangan teknologi.

“Radio masih tetap menjadi teman. Namun, kami harus terus menciptakan ruang agar mampu diterima semua generasi. Ini adalah tantangan kami,”ujarnya.

“Kami sudah mengantisipasi hal ini. Tinggal pada bagaimana implementasinya,”imbuhnya.

“Theatre of mind” radio

Sejak dulu, radio telah dikenal dengan theatre of mind yang bisa mengajak pendengar ikut merasakan dan masuk dalam suatu topik yang dibahas oleh penyiar. Inilah kelebihan radio yang tidak dimiliki media lain.

“Kekuatan radio adalah audio. Audio atau suara itu sifatnya theater of mind. Gambar dalam radio itu jauh lebih bagus daripada televisi. Memang terkesan paradoks karena radio bukan media visual. Tapi justru itu kekuatannya,” kata Arief.

“Ketika kita menyampaikan sesuatu dan masuk dalam telinga, kemudian diproses dalam otak, itu akan memunculkan gambar. Gambar yang otak produksi sendiri itu menurut saya jauh lebih bagus daripada gambar yang ada di media visual. Hal semacam itu seharusnya dikuatkan kembali,” imbuhnya.

Untuk itu, radio perlu memproduksi konten yang kemudian mampu membawa imajinasi pendengar. Menguatkan keunggulan radio yang tidak dimiliki oleh media lain.

Sedangkan Yosua menambahkan, dibanding terburu-buru mengejar trend, lebih baik radio menguatkan kualitas audio dan program yang sesuai dengan segmen pendengar.

“Prospek radio akan tetap ada asal paradigma nya benar, kalau latah menggunakan radio visual maka radio akan hilang karena spirit tekad keyakinan dari kawan radio tidak maksimal untuk menguatkan audio,” kata Yosua.

Radio, kata Yosua, harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, namun tidak boleh melupakan tujuan awalnya sebagai media yang menghibur, informatif, dan menjadi kontrol sosial.

“Radio kan media sambi. Orang sambil nyetir, nyetrika, masak di rumah bisa mendengar radio. Nah kalau menurut saya yang terpenting dari radio adalah bagaimana tetap optimis dan menyesuaikan diri dengan selera pendengar dan platform,” jelasnya.

“Saya khawatir ketika radio ini memang terus berjuang mendapatkan ruang di konvergensi digital, malah meninggalkan segmen yang sebetulnya jadi pendengar setia radio contohnya usia 40-50 tahun, orang yang sedang di jalan, itu mereka lebih merasakan kenyamanan dengan adanya radio daripada visual,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari KPID Jatim, kata Yosua, pihaknya juga akan terus mendampingi awak radio agar dapat berjalan sesuai dengan fungsinya dan mampu bertahan ditengah disrupsi media.

“Perizinan sekarang sudah menggunakan sistem, KPID lebih fokus pada isi siaran. Sekarang kita fokus pada bagaimana isi siaran taat aturan dan sesuai dengan agenda setting bersama terkait fungsi media, informasi, hiburan yang sehat, edukasi, dan kontrol sosial, dan pendampingan ke kawan-kawan radio,” ungkapnya.

Sementara itu, disamping berbagai tantangan sekaligus peluang industri radio di saat ini, Ketua Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Timur, Ismet Jauhari menambahkan, PRSSNI sebagai wadah radio swasta juga akan terus melakukan berbagai penguatan agar radio tak hilang di telan zaman.

“Di Jawa Timur kami beranggotakan 87 radio, upaya yang kita lakukan agar radio tetap eksis adalah memberikan berbagai pelatihan berdasarkan kebutuhan, mulai dari pelatihan siaran hingga digital marketing. Ini sebagai modal awal bagi teman-teman untuk bisa melakukan kegiatan di radio masing-masing,” ujarnya.

Ia juga meyakini, apabila radio bisa mengakomodir dan menyajikan kebutuhan masyarakat dengan tetap tidak meninggalkan ciri khas dan daya tariknya, radio tidak akan pernah ditinggalkan oleh pendengarnya.

Radio sebagai corong informasi publik

Selain sebagai media yang menghibur, radio juga berperan sebagai media informasi publik yang menyampaikan kebijakan pemerintah kepada publik sekaligus menjadi kontrol sosial.

Pemerintah kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Surabaya pun mendiseminasi (menyebarluaskan) informasi dengan memanfaatkan semua kanal (media), termasuk radio.

“Sekarang adalah era digitalisasi, itu semua kita manfaatkan. Semakin banyak kanal yang kita gunakan maka suaranya semakin luas,” kata Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Surabaya, Indriatno Heryawan.

Menurutnya, radio berperan besar dalam mengawal perjalanan bangsa Indonesia dari sebelum kemerdekaan hingga sekarang. Selain sebagai media penyampai informasi dan hiburan, radio memiliki fungsi yang sangat strategis terutama dalam menjaga integritas.

Mengingat daya jangkau radio yang cukup jauh dan luas, pihaknya menjadikan radio sebagai salah satu opsi untuk penjembatan, menyampaikan informasi kepada publik, terutama terkait program, kebijakan, maupun aturan-aturan yang dibuat oleh Pemkot Surabaya. (tim/red)

Tags: ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.