Krisis Karakter, Pendidikan Indonesia Mau Dibawa Kemana?

Rudy Hartono - 27 May 2025
Senam sebelum memulai pembelajaran di Paud Cahaya Pertiwi (foto:hamidiah kurnia/superradio.id)

Kunci Efektif Pendidikan Karakter ala Ki Hajar Dewantara

Jika ingin Ajaran Ki Hajar Dewantara tetap relevan, maka setiap orang harus sadar. “Dirinya adalah guru dan setiap rumah menjadi sekolah karakter”, maka integritas akan tumbuh tidak sebagai perintah, melainkan sebagai budaya hidup.

“Hanya melalui kolaborasi Tripusat Pendidikan yang berkelanjutan dan reflektif, kita dapat membangun masyarakat masa depan yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab. Suatu kolaborasi tripusat pendidikan yang subur bagi tumbuh kembang manusia cerdas berintegritas,” sebutnya.

Ia pun mendesak adanya revitalisasi dialektika Tripusat Pendidikan secara sadar, terencana dan bersinambung. Dari lingkup terdekat misalnya.

  • Keluarga harus menghidupkan kembali fungsi pendidikan karakter dasar, nilai moral, dan sikap sosial anak; menjadikan nilai kejujuran sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan sehari-hari, bukan sekadar mengandalkan sekolah.
  • Sekolah harus mendesain ulang pendekatan pendidikan karakter, mengintegrasikan nilai-nilai integritas ke dalam program kurikuler maupun kokurikuler dan ekstrakurikuler, menciptakan sistem evaluasi yang menghargai proses maupun hasil belajar. Ditunjang tata kelola dan ekosistem sekolah yang menyuburkan budaya kejujuran dan bebas dari korupsi, serta keteladan guru dan kepemimpinan sekolah berbasis integritas, transparan dan akuntabel.
  • Masyarakat perlu terus berusaha memperkuat ekosistem yang konsisten melalui media, komunitas, dan ruang publik yang menempatkan integritas sebagai nilai dasar kehidupan sosial. Disamping itu, perlu peningkatan kontrol sosial dan penguatan budaya malu atas sikap perilaku tidak jujur, serta penegakan hukum yang seadil-adilnya terhadap siapapun yang melanggar hukum, utamanya terhadap pelaku KKN.
Kepala Dinas Pendidikan Yusuf Masruh saat ditemui usai upacara Hardiknas 2025 di Surabaya. (foto:hamidiah kurnia/superradio.id)

Penerapan Pendidikan Karakter di Surabaya

Untuk mengetahui bagaimana penerapan pendidikan karakter, tim Super Radio telah menelusuri daerah yang memilliki klaim sebagai kota ramah anak, salah satunya Surabaya. Kepala Dinas Pendidikan Yusuf Masruh menyebut, pendidikan karakter telah lama menjadi fokus mereka. Hal tersebut dimulai dari jenjang PAUD.

Di usia belia, anak-anak mulai dilatih menerapkan 7 kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat, yang dilengkapi dengan gorotng royong dan berani.

Lalu pada aspek budaya lokal yang juga dikenalkan sejak usia dini. Dalam hal ini pihaknya turut melibatkan para wali murid dan bunda PAUD. Mulai dari bahasa Jawa, hingga berbagai kesenian tari. “Di tempat kita ada tujuh kebiasaan mulai Paud-SMP itu pemerintah kota kita tambahi dua yaitu gotong royong dan berani. Anak anak berani berkekspresi, berani berprestasi, anak anak berani berinovasi,” ucapnya.

Selain itu, ada pula program SAS (Sekolahe Arek Surabaya). Terbaru, program ini akan dikolaborasikan dengan rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) yakni metode Deep Learning. Apabila Deep Learning mengenalkan Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning, SAS menerapkan konsep Aman, Kreatif, Edukatif, dan Kegotong-royongan.

Untuk mematangkan sistem tersebut, pihaknya pun akan membekali guru-guru termasuk guru inklusi dengan pelatihan yang sesuai. “Untuk PAUD saat ini sama ya, kita juga mengacu dari kementerian jadi pak wali menyampaikan ada coding, AI (artificial intelegence), bahasa Inggris. Kalau di PAUD kita mengenalkan misalkan kosa kata, nanti SD merakit, SMP nya sudah bidang studi,” tuturnya.

Tak hanya itu, karakter anak-anak Kota Pahlawan juga dimatangkan lewat pendidikan berbasis asrama bertajuk Kampung Anak Negeri. Konsep ini menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Sosial (Dinsos) untuk membina karakter anak, mengembangkat bakat mereka.

Ditemui secara terpisah, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan dibanding dibawa ke barak, lebih baik anak-anak yang dicap nakal oleh masyarakat itu dibina karakternya di Kampung Anak Negeri. Disana mereka akan diberi pendampingan terkait karakter disertai fasilitas berkualitas. Dipantau hingga lulus kuliah dan mendapat pekerjaan.

“Tapi jangan berpikir anak nakal dimasukkan asrama, tidak. Asrama ini adalah baiti jannati, rumah-rumah kita adalah surga nanti. Jadi semuanya kita betulkan, ini seperti anak-anakku sendiri, tidak ada bedanya,” tuturnya.

“Ini sekolah, bukan tempat penitipan anak nakal. Anak-anak ini tidak nakal, tapi memang memiliki kelebihan yang memang harus diatur,” imbuhnya.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya Arjuna Rizky Dwi Krisnayana. (foto:hamidiah kurnia/superradio.id)

Hal ini pun mendapat respons positif dari banyak pihak, salah satunya Sekretaris Komisi D DPRD Surabaya, Arjuna Rizki Dwi Krisnayana. Poitisi muda itu menyebut konsep deep learning yang diintgerasikan dengan SAS akan membentuk karakter yang berbasis nilai luhur Pancasila. Tentu nilai-nilai tersebut juga disesuaikan dengan kultur Surabaya.

“Apalagi soal deep learning perlu diperdalam karakter sesuai kultur. Yang seperti itu perlu, budi pekerti, sopan santun,” jelasnya.

Meski demikian, masih ada beberapa hal yang perlu dimaksimalkan. Contohnya pada pemerataan pendidikan. Seperti diketahui saat ini Surabaya memiliki 284 SD negeri dan 117 swasta, serta 63 SMP negeri dan 255 sekolah swasta.

Jumlah ini, dinilai belum maksimal merangkul seluruh wilayah di Kota Pahlawan. Ada beberapa kecamatan yang bahkan belum memiliki sekolah negeri. Sedangkan ketika akan bersekolah di sekolah swasta, masyarakat terbentur persoalan ekonomi. “Memang banyak yang saya lihat kesusahan untuk mendapat akses pendidikan terutama di tingkat SMA karena sistem zonasi yang saya lihat harus diperluas lagi,” jelasnya.

Ia pun mengapresiasi rencana pemkot yang akan membangun 5 SMP Negeri baru di tahun 2025. Namun perlu diperhatikan kesiapannya. Bagaimana kualitas sekolah, jumlah tenaga didik, hingga jarak antar sekolah negeri dan swasta. Jangan sampai ada kesenjangan yang menyebabkan beberapa sekolah kekurangan murid.

“Di dapil (daerah pemilihan) saya itu juga banyak yang kesusahan, wilayah Kecamatan Wonokromo, Sawahan, Gayungan, Jambangan, Sukomanunggal. Itu padat penduduk, sekolah masih terbatas dan banyak swasta yang kosong,” tuturnya.

Selanjutnya, pada fasililitas dan kualitas sekolah. Dari pantauannya selama di Dapil, masih ada kesenjangan fasilitas dan kualitas pembelajaran antar sekolah negeri dan swasta disana. Untuk itu ia berharap ada pemerataan pendidikan disana, agar dimanapun wilayahnya, anak-anak Surabaya tetap bisa mendapat pendidikan yang layak. “Semoga pendidikan merata dari akses hingga fasilitas juga bisa terpenuhi dari hulu sampai hilir,” pungkasnya.

Tampilkan Semua

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.