Krisis Karakter, Pendidikan Indonesia Mau Dibawa Kemana?

Rudy Hartono - 27 May 2025
Kepala Sekolah Paud-TK Cahaya Pertiwi Haris Teguh Nuning /mbak Ndut. (foto:hamidiah kurnia/superradio.id)

PAUD Cahaya Pertiwi Terapkan Ajaran Gus Dur

Masih soal pendidikan karakter ala Ki Hajar Dewantara, tim Super Radio terus melakukan penelusuran mendalam. Akhirnya pencarian tertuju ke PAUD Cahaya Pertiwi. Suatu jenjang pendidikan di Kabupaten Sidoarjo yang dikelola Haris Teguh Nuning bersama Yayasan Cempaka.

Tampak perbedaan mencolok ketika memasuki area sekolah. Bangunan dibentuk seperti rumah, dengan nuansa kuning biru dilengkapi beberapa permainan seperti perosotan, dan ayunan yang memunculkan suasana hangat. Siswa-siswa di sana pun tampak lebih aktif, berani berinteraksi dengan orang asing dan penuh rasa penasaran.

Kepala Sekolah PAUD-TK Cahaya Pertiwi Haris Teguh Nuning menyebut, konsep pendidikan mereka memang sedikit berbeda. Di sana tidak ada penilaian berbasis angka. Progres murid akan ditentukan sesuai peningkatan karakter. Rapor yang pada umumnya berisi angka-angka pun diganti dengan dokumentasi perkembangan siswa selama menempuh pendidikan di sana.

Bukan tanpa alasan. Perempuan yang akrab disapa Mbak Ndut itu menjelaskan, cita-cita pendidikan yang mereka bawa adalah membentuk pondasi karakter yang kuat untuk anak-anak.

Berdiri sejak 2012, ia menjadikan 9 nilai utama Gus Dur sebagai identitas pendidikan mereka. Nilai ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kekesatriaan, dan kearifan lokal diramu menjadi kurikulum khusus untuk mengajar para murid.

“Kami membuat program sekolah kami tetapkan 9 nilai utama Gus Dur sebagai pedoman, Jadi kami Gusdurian ingin ngomong Gus Dur memberi clue bahwa kita harus punya nilai kesatriaan dalam hidup kita. Itu juga yang coba kami kenalkan ke anak-anak sebagai identitas bahwa skeolah ini itu,” tutur aktivis lahir 42 tahun lalu itu.

Kepala Sekolah Paud-TK Cahaya Pertiwi Haris Teguh Nuning /mbak Ndut Gusdurian (42) saat ditemui di TK Cahaya Pertiwi, Sidoarjo.

Tak hanya itu, para murid juga diajarkan soal kesetaraan. Para murid dididik untuk menghormati dan menghargai orang lain tanpa embel-embel senioritas yang banyak terjadi di masyarakat. “Ini sangat terlihat ketika ada kegiatan luar kelas. Jadi karena kami mengajarkan kesetaraan, kami kenalkan karena kalau anak-anak berani, tidak takut pada orang baru tapi tidak diajarkan sopan santun juga bahaya. Jadi tetap harus ada patokannya,” sebutnya.

Nilai kemandirian pun tak kalah diperhatikan. Hal ini dilatih sejak anak pertama kali masuk ke PAUD Cahaya Pertiwi. Agar anak tak ketergantungan pada orang tua, di hari pertama, wali murid dilarang menunggu anaknya sekolah. Usai mengantar sampai depan gerbang, mereka wajib pergi dan meninggalkan anaknya sendiri di lingkungan sekolah. Tiap anak-anak bermain maka wajib membereskan mainannya, memasukkan ke tempat yang sudah disediakan.

Mbak Ndut mengakui, awalnya sulit mengubah kebiasaan itu ke wali murid. Di hari pertama, para murid pasti menangis namun tak berselang lama akan kembali tenang sambil diberi pengertian oleh para guru. “Bagi kami Cahaya Pertiwi, anak-anak harus bisa mandiri, karena sejak dini tidak dilatih mandiri mereka akan tidak PD, jadi tidak pinter karena tidak berani bertanya. Jadi kami merasa treatment ini berhasil karena memang sampai detik ini anak anak sudah luar biasa kemandiriannya,” jelasnya.

Segala nilai-nilai luhur tersebut diajarkan melalui praktek bukan teori. Salah satunya pada toleransi. Ada pembiasaan istirahat bersama. Di situ anak-anak akan duduk di meja panjang sambil memakan bekal yang mereka bawa. Ketika ada anak yang tidak bawa bekal, maka guru akan mengajak teman lainnya untuk berbagi makanan. Pun dengan mainan yang tersedia disana.

“Ketika anak tahu ada teman yang agamanya berbeda itu tidak menjadi persoalan. Bagiku beberapa aktivitas agama islam itu kultur soal infak, berbagi takjil. Jadi Iyel murid katolik juga ikut zakat, infaq, waktu dia merayakan natal itu kami bikin status di wa soal ucapan natal dan ternyata wali murid lainnya kirim pesan ke ortunya iyel untuk mengucapkan selamat natal,” terangnya.

Meski pendidikan berfokus pada pembentukan karakter namun pihaknya tetap memerhatikan pelajaran akademik, namun agak berbeda. Misalkan pada pelajaran mengenal macam-macam profesi. Pihak PAUD akan mendatangkan teman-teman dalang maupun sinden dan membiarkan anak untuk aktif bertanya ke narasumber.

“Jadi ketika kita didik anak dengan benar memang luar biasa, nah kalau ortu tidak siap ya dianggap nakal. Tapi mental anak anak itu bagus jadi tidak peduli dianggap nakal, mereka lebih senang membuktikan diengan nilai yang bagus. Angkatan pertama sekolah ini hampir 50 persen masuk universitas negeri,” jelasnya.

Lalu pada pengenalan huruf maupun angka. Siswa akan diajak mencari kata-kata dalam buku bergambar yang mengandung salah satu huruf  yang sedang dipelajari. “Kita sedang belajar huruf N jadi anak-anak diajak mencari kata yang ada huruf N nya nanti ditulis lalu kita baca bersama,” ujarnya yang juga anggota Gusdurian itu.

Tampilkan Semua

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.