Krisis Karakter, Pendidikan Indonesia Mau Dibawa Kemana?
SR, Surabaya – Indonesia sering menggunakan semboyan Ki Hajar Dewantara “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Namun faktanya, seiring berkembangnya zaman kualitas pendidikan semakin mundur. Pendidikan karakter yang sudah dibibit lewat Taman Siswa seakan hilang.
Ajaran Ki Hajar Dewantara yang membentuk karakter siswa berakar pada budaya lokal dan menuntun anak membentuk karakter yang baik, beradab rasanya belum tercapai.
Terbukti kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak makin marak terjadi. Pada 30 November 2024, MAS, seorang remaja usia 14 tahun di Jakarta Selatan tega melukai ibu dan membunuh ayah serta neneknya karena dipaksa belajar. Selain itu, kasus pemerkosaan dan pembunuhan siswi SMP oleh anak usia 16 dan 13 tahun di Sumatra Selatan pada 1 September 2024. Ada lagi, siswa SMA di Demak membacok gurunya pada 25 september 2023 karena tidak puas pada nilai ujian yang didapat.
Lantas, bagaimanakah seharusnya karakter pendidikan yang dianut di Indonesia?
Integritas Pendidikan Indonesia masih Lemah
Pengamat Pendidikan Malang, Sirmadji mengatakan, saat ini sistem pendidikan Indonesia memang memiliki banyak PR besar. Jika mengacu pada Ki Hajar Dewantara, sepatutnya dalil “setiap orang adalah guru, setiap rumah adalah sekolah” tergambar nyata.
Namun faktanya berbeda. Dalam konteks kekinian, hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 yang dilakukan oleh KPK menunjukkan, bahwa integritas pendidikan lemah: skor 69,5 indeks Korektif; lebih rendah dari 2023: skor 73,7 indeks Adaptif. Dan secara rinci ditemukan praktik menyontek pelajar di 78 persen sekolah dan mahasiswa di 98 persen Perguruan Tinggi.
“Dalil ini bukan sekadar seruan moral, melainkan sebuah pandangan filosofis yang revolusioner, pendidikan sebagai usaha kolektif terus-menerus, yang bermula dari kesadaran bahwa karakter dan integritas manusia dibentuk dalam jejaring sosial yang luas, bukan hanya di ruang kelas sekolah,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Lemahnya integritas dunia pendidikan, lanjutnya, tak hanya mempertaruhkan kualitas intelektual, tetapi juga masa depan bangsa Indonesia. Tegasnya berpotensi menghasilkan SDM berintegritas rendah dan rawan terseret korupsi yang nota bene akar masalah bangsa Indonesia.

Kolaborasi Tripusat Tidak Berjalan
Politikus senior itu menyebut, persoalan ini bukan hanya tentang guru bersama tenaga pendidikan lain dan sekolah semata, tetapi juga mencerminkan kegagalan struktural dalam kolaborasi tripusat pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Pertama, keluarga sebagai pusat pendidikan awal lemah daya bina nilai integritas sejak dini. Boleh jadi orang tua lebih utamakan prestasi akademik dibandingkan kejujuran dan ketekunan dalam proses pencapaian. Tanpa sadar keluarga ikut menyemai budaya pragmatisme: yang penting nilai tinggi, bukan bagaimana nilai itu diperoleh.
Kedua, sekolah sebagai pusat pendidikan formal belum sepenuhnya berhasil menanggulangi pengikisan nilai dan budaya integritas. Standarisasi ujian, sistem evaluasi yang hanya mengutamakan capaian kognitif, dan lemahnya keteladanan, menjadi lahan subur bagi normalisasi perilaku curang. Sekolah, yang seharusnya menjadi laboratorium pembentukan karakter, justru terkadang terjebak dalam logika angka semata.
Ketiga, masyarakat turut memperkuat bias nilai integritas. Budaya instan, glorifikasi keberhasilan tanpa mempertimbangkan proses. “Masih marak contoh ketidakjujuran dan praktik KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme –Red) di ruang publik, serta lemahnya kontrol sosial dan penegakan hukum membentuk iklim sosial yang permisif terhadap pelanggaran integritas,” jelasnya.
Perlu proses panjang mengatasi kemerosotan nilai integritas ini. Menurutnya, sinergi ini harus berjalan dalam kesadaran kolektif, bahwa membangun generasi berintegritas adalah upaya jangka panjang, memerlukan konsistensi, keteladanan, dan ekosistem yang sehat.

Kunci Efektif Pendidikan Karakter ala Ki Hajar Dewantara
Jika ingin Ajaran Ki Hajar Dewantara tetap relevan, maka setiap orang harus sadar. “Dirinya adalah guru dan setiap rumah menjadi sekolah karakter”, maka integritas akan tumbuh tidak sebagai perintah, melainkan sebagai budaya hidup.
“Hanya melalui kolaborasi Tripusat Pendidikan yang berkelanjutan dan reflektif, kita dapat membangun masyarakat masa depan yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab. Suatu kolaborasi tripusat pendidikan yang subur bagi tumbuh kembang manusia cerdas berintegritas,” sebutnya.
Ia pun mendesak adanya revitalisasi dialektika Tripusat Pendidikan secara sadar, terencana dan bersinambung. Dari lingkup terdekat misalnya.
- Keluarga harus menghidupkan kembali fungsi pendidikan karakter dasar, nilai moral, dan sikap sosial anak; menjadikan nilai kejujuran sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan sehari-hari, bukan sekadar mengandalkan sekolah.
- Sekolah harus mendesain ulang pendekatan pendidikan karakter, mengintegrasikan nilai-nilai integritas ke dalam program kurikuler maupun kokurikuler dan ekstrakurikuler, menciptakan sistem evaluasi yang menghargai proses maupun hasil belajar. Ditunjang tata kelola dan ekosistem sekolah yang menyuburkan budaya kejujuran dan bebas dari korupsi, serta keteladan guru dan kepemimpinan sekolah berbasis integritas, transparan dan akuntabel.
- Masyarakat perlu terus berusaha memperkuat ekosistem yang konsisten melalui media, komunitas, dan ruang publik yang menempatkan integritas sebagai nilai dasar kehidupan sosial. Disamping itu, perlu peningkatan kontrol sosial dan penguatan budaya malu atas sikap perilaku tidak jujur, serta penegakan hukum yang seadil-adilnya terhadap siapapun yang melanggar hukum, utamanya terhadap pelaku KKN.

Penerapan Pendidikan Karakter di Surabaya
Untuk mengetahui bagaimana penerapan pendidikan karakter, tim Super Radio telah menelusuri daerah yang memilliki klaim sebagai kota ramah anak, salah satunya Surabaya. Kepala Dinas Pendidikan Yusuf Masruh menyebut, pendidikan karakter telah lama menjadi fokus mereka. Hal tersebut dimulai dari jenjang PAUD.
Di usia belia, anak-anak mulai dilatih menerapkan 7 kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat, yang dilengkapi dengan gorotng royong dan berani.
Lalu pada aspek budaya lokal yang juga dikenalkan sejak usia dini. Dalam hal ini pihaknya turut melibatkan para wali murid dan bunda PAUD. Mulai dari bahasa Jawa, hingga berbagai kesenian tari. “Di tempat kita ada tujuh kebiasaan mulai Paud-SMP itu pemerintah kota kita tambahi dua yaitu gotong royong dan berani. Anak anak berani berkekspresi, berani berprestasi, anak anak berani berinovasi,” ucapnya.
Selain itu, ada pula program SAS (Sekolahe Arek Surabaya). Terbaru, program ini akan dikolaborasikan dengan rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) yakni metode Deep Learning. Apabila Deep Learning mengenalkan Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning, SAS menerapkan konsep Aman, Kreatif, Edukatif, dan Kegotong-royongan.
Untuk mematangkan sistem tersebut, pihaknya pun akan membekali guru-guru termasuk guru inklusi dengan pelatihan yang sesuai. “Untuk PAUD saat ini sama ya, kita juga mengacu dari kementerian jadi pak wali menyampaikan ada coding, AI (artificial intelegence), bahasa Inggris. Kalau di PAUD kita mengenalkan misalkan kosa kata, nanti SD merakit, SMP nya sudah bidang studi,” tuturnya.
Tak hanya itu, karakter anak-anak Kota Pahlawan juga dimatangkan lewat pendidikan berbasis asrama bertajuk Kampung Anak Negeri. Konsep ini menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Sosial (Dinsos) untuk membina karakter anak, mengembangkat bakat mereka.
Ditemui secara terpisah, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan dibanding dibawa ke barak, lebih baik anak-anak yang dicap nakal oleh masyarakat itu dibina karakternya di Kampung Anak Negeri. Disana mereka akan diberi pendampingan terkait karakter disertai fasilitas berkualitas. Dipantau hingga lulus kuliah dan mendapat pekerjaan.
“Tapi jangan berpikir anak nakal dimasukkan asrama, tidak. Asrama ini adalah baiti jannati, rumah-rumah kita adalah surga nanti. Jadi semuanya kita betulkan, ini seperti anak-anakku sendiri, tidak ada bedanya,” tuturnya.
“Ini sekolah, bukan tempat penitipan anak nakal. Anak-anak ini tidak nakal, tapi memang memiliki kelebihan yang memang harus diatur,” imbuhnya.

Hal ini pun mendapat respons positif dari banyak pihak, salah satunya Sekretaris Komisi D DPRD Surabaya, Arjuna Rizki Dwi Krisnayana. Poitisi muda itu menyebut konsep deep learning yang diintgerasikan dengan SAS akan membentuk karakter yang berbasis nilai luhur Pancasila. Tentu nilai-nilai tersebut juga disesuaikan dengan kultur Surabaya.
“Apalagi soal deep learning perlu diperdalam karakter sesuai kultur. Yang seperti itu perlu, budi pekerti, sopan santun,” jelasnya.
Meski demikian, masih ada beberapa hal yang perlu dimaksimalkan. Contohnya pada pemerataan pendidikan. Seperti diketahui saat ini Surabaya memiliki 284 SD negeri dan 117 swasta, serta 63 SMP negeri dan 255 sekolah swasta.
Jumlah ini, dinilai belum maksimal merangkul seluruh wilayah di Kota Pahlawan. Ada beberapa kecamatan yang bahkan belum memiliki sekolah negeri. Sedangkan ketika akan bersekolah di sekolah swasta, masyarakat terbentur persoalan ekonomi. “Memang banyak yang saya lihat kesusahan untuk mendapat akses pendidikan terutama di tingkat SMA karena sistem zonasi yang saya lihat harus diperluas lagi,” jelasnya.
Ia pun mengapresiasi rencana pemkot yang akan membangun 5 SMP Negeri baru di tahun 2025. Namun perlu diperhatikan kesiapannya. Bagaimana kualitas sekolah, jumlah tenaga didik, hingga jarak antar sekolah negeri dan swasta. Jangan sampai ada kesenjangan yang menyebabkan beberapa sekolah kekurangan murid.
“Di dapil (daerah pemilihan) saya itu juga banyak yang kesusahan, wilayah Kecamatan Wonokromo, Sawahan, Gayungan, Jambangan, Sukomanunggal. Itu padat penduduk, sekolah masih terbatas dan banyak swasta yang kosong,” tuturnya.
Selanjutnya, pada fasililitas dan kualitas sekolah. Dari pantauannya selama di Dapil, masih ada kesenjangan fasilitas dan kualitas pembelajaran antar sekolah negeri dan swasta disana. Untuk itu ia berharap ada pemerataan pendidikan disana, agar dimanapun wilayahnya, anak-anak Surabaya tetap bisa mendapat pendidikan yang layak. “Semoga pendidikan merata dari akses hingga fasilitas juga bisa terpenuhi dari hulu sampai hilir,” pungkasnya.

PAUD Cahaya Pertiwi Terapkan Ajaran Gus Dur
Masih soal pendidikan karakter ala Ki Hajar Dewantara, tim Super Radio terus melakukan penelusuran mendalam. Akhirnya pencarian tertuju ke PAUD Cahaya Pertiwi. Suatu jenjang pendidikan di Kabupaten Sidoarjo yang dikelola Haris Teguh Nuning bersama Yayasan Cempaka.
Tampak perbedaan mencolok ketika memasuki area sekolah. Bangunan dibentuk seperti rumah, dengan nuansa kuning biru dilengkapi beberapa permainan seperti perosotan, dan ayunan yang memunculkan suasana hangat. Siswa-siswa di sana pun tampak lebih aktif, berani berinteraksi dengan orang asing dan penuh rasa penasaran.
Kepala Sekolah PAUD-TK Cahaya Pertiwi Haris Teguh Nuning menyebut, konsep pendidikan mereka memang sedikit berbeda. Di sana tidak ada penilaian berbasis angka. Progres murid akan ditentukan sesuai peningkatan karakter. Rapor yang pada umumnya berisi angka-angka pun diganti dengan dokumentasi perkembangan siswa selama menempuh pendidikan di sana.
Bukan tanpa alasan. Perempuan yang akrab disapa Mbak Ndut itu menjelaskan, cita-cita pendidikan yang mereka bawa adalah membentuk pondasi karakter yang kuat untuk anak-anak.
Berdiri sejak 2012, ia menjadikan 9 nilai utama Gus Dur sebagai identitas pendidikan mereka. Nilai ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kekesatriaan, dan kearifan lokal diramu menjadi kurikulum khusus untuk mengajar para murid.
“Kami membuat program sekolah kami tetapkan 9 nilai utama Gus Dur sebagai pedoman, Jadi kami Gusdurian ingin ngomong Gus Dur memberi clue bahwa kita harus punya nilai kesatriaan dalam hidup kita. Itu juga yang coba kami kenalkan ke anak-anak sebagai identitas bahwa skeolah ini itu,” tutur aktivis lahir 42 tahun lalu itu.

Tak hanya itu, para murid juga diajarkan soal kesetaraan. Para murid dididik untuk menghormati dan menghargai orang lain tanpa embel-embel senioritas yang banyak terjadi di masyarakat. “Ini sangat terlihat ketika ada kegiatan luar kelas. Jadi karena kami mengajarkan kesetaraan, kami kenalkan karena kalau anak-anak berani, tidak takut pada orang baru tapi tidak diajarkan sopan santun juga bahaya. Jadi tetap harus ada patokannya,” sebutnya.
Nilai kemandirian pun tak kalah diperhatikan. Hal ini dilatih sejak anak pertama kali masuk ke PAUD Cahaya Pertiwi. Agar anak tak ketergantungan pada orang tua, di hari pertama, wali murid dilarang menunggu anaknya sekolah. Usai mengantar sampai depan gerbang, mereka wajib pergi dan meninggalkan anaknya sendiri di lingkungan sekolah. Tiap anak-anak bermain maka wajib membereskan mainannya, memasukkan ke tempat yang sudah disediakan.
Mbak Ndut mengakui, awalnya sulit mengubah kebiasaan itu ke wali murid. Di hari pertama, para murid pasti menangis namun tak berselang lama akan kembali tenang sambil diberi pengertian oleh para guru. “Bagi kami Cahaya Pertiwi, anak-anak harus bisa mandiri, karena sejak dini tidak dilatih mandiri mereka akan tidak PD, jadi tidak pinter karena tidak berani bertanya. Jadi kami merasa treatment ini berhasil karena memang sampai detik ini anak anak sudah luar biasa kemandiriannya,” jelasnya.
Segala nilai-nilai luhur tersebut diajarkan melalui praktek bukan teori. Salah satunya pada toleransi. Ada pembiasaan istirahat bersama. Di situ anak-anak akan duduk di meja panjang sambil memakan bekal yang mereka bawa. Ketika ada anak yang tidak bawa bekal, maka guru akan mengajak teman lainnya untuk berbagi makanan. Pun dengan mainan yang tersedia disana.
“Ketika anak tahu ada teman yang agamanya berbeda itu tidak menjadi persoalan. Bagiku beberapa aktivitas agama islam itu kultur soal infak, berbagi takjil. Jadi Iyel murid katolik juga ikut zakat, infaq, waktu dia merayakan natal itu kami bikin status di wa soal ucapan natal dan ternyata wali murid lainnya kirim pesan ke ortunya iyel untuk mengucapkan selamat natal,” terangnya.
Meski pendidikan berfokus pada pembentukan karakter namun pihaknya tetap memerhatikan pelajaran akademik, namun agak berbeda. Misalkan pada pelajaran mengenal macam-macam profesi. Pihak PAUD akan mendatangkan teman-teman dalang maupun sinden dan membiarkan anak untuk aktif bertanya ke narasumber.
“Jadi ketika kita didik anak dengan benar memang luar biasa, nah kalau ortu tidak siap ya dianggap nakal. Tapi mental anak anak itu bagus jadi tidak peduli dianggap nakal, mereka lebih senang membuktikan diengan nilai yang bagus. Angkatan pertama sekolah ini hampir 50 persen masuk universitas negeri,” jelasnya.
Lalu pada pengenalan huruf maupun angka. Siswa akan diajak mencari kata-kata dalam buku bergambar yang mengandung salah satu huruf yang sedang dipelajari. “Kita sedang belajar huruf N jadi anak-anak diajak mencari kata yang ada huruf N nya nanti ditulis lalu kita baca bersama,” ujarnya yang juga anggota Gusdurian itu.

Sistem Pengajaran Melibatkan Guru dan Orang Tua ala Ki Hajar Dewantara
Nuning bercerita, membentuk model pendidikan ini memang tak mudah. Kurikulum yang berbeda dengan kurikulum nasional membuatnya perlu pengajar yang sejalan dengan visi misi mereka.
Bagi Nuning, guru harus betul-betul menjadi pelindung bagi murid-muridnya. Membentak dengan nada tinggi hingga kasar dan melakukan kekerasan ke siswa adalah hal yang dilarang disana. Nuning menyebut, metode pengajarannya lebih pada ketegasan bukan kekerasan. Sebab hal itu akan merenggangkan hubungan siswa dengan guru yang berdampak ke proses pembentukan karakter.
“Sejak awal duah kami sampaikan visi misi sekolah, target kami bukan bisnis. Gesekan pasti ada, ketika di lapangan gak semua orang bisa memahami. Jadi sejak awal saya tanya dulu, kita training tiga bulan, kalau tidak cocok yang tidak kita lanjutkan,” ucapnya.
Guru juga dilarang menegur kesalahan murid di depan umum. Jika ada anak yang membuat kesalahan maka anak tersebut diajak masuk ke ruangan, diajak ngobrol empat mata dengan gurunya.
“Jadi kalau ada anak bikin kesalahan kita ajak masuk dan ngobrol. Anak anak itu juga butuh dihargai dan kami menjaga itu. Jadi bebebrapa SOP memang bener bener guru itu sebagai pelindung, makanya anak anak merasa nyaman dan tidak takut di sekolah,” imbuhnya.
Tak hanya pada guru, pihaknya juga aktif melibatkan orang tua dalam mendidik. Ndut menyadari metode pendidikan yang mereka ajarkan di sekolah tak akan berhasil jika lingkungan rumah tak mendukung. Segala ajaran yang mereka tanamkan bisa sia-sia jika saat di rumah orang tua kembali ke pola awal.
Untuk itu pihaknya menyediakan layanan psikologi anak dan anak berkebutuhan khusus (ABK). Ada kelas parenting yang digelar 2 kali dalam sebulan untuk tukar pengalaman sekaligus mengarahkan orang tua untuk melanjutkan kebiasaan yang telah diajarkan di sekolah.
“Sebulan dus kali kami parenting ajdi kami coba jelaskan ke orang tua soal meotde pembelajaran kami dan itu membuat orang tua terbiasa melanjutkan apa yang kami ajarkan itu diterapkan di rumah. Misalkan kalau aku bilang soal anak boleh main hp tapi hanya boleh satu dua jam sudah cukup,” akunya.
“Disitu anak anak belajar soal tanggung jawab. Misal ada anak di rumah ditanya orabg tuanya untuk pilih ngaji atau main hp dulu, dan harus tanggung jawab dengan pilihannya. Kalau rewel biarkan saja. Waktu naik kereta juga anak-anak tidak rewel,” lanjutnya.
Tantangan Mengelola Paud Cahaya Pertiwi
Meski punya niat mulia, namun perjalanan PAUD Cahaya Pertiwi tak semulus kelihatannya. Nuning mengungkapkan, diawal berdirinya sekolah tersebut sempat dipandang sebelah mata oleh masyarakat sekitar.
Dibangun dengan uang pribadi, Nuning bersama saudaranya bercita-cita membangun sekolah yang menciptakan lulusan kritis, berkarakter kuat dengan nilai luhur, bukan menjadi orang yang mencari hasil tanpa memerdulikan proses.
Tumbuh di lingkungan aktivis membuat Nuning kecil resah pada system pendidikan yang dialaminya ketika kecil. Seiring berjalannya waktu, Nuning mulai menggeluti dunia aktivis, mendatangi beberapa sekolah alam dan sekolah Cikal yang didirikan oleh Lisa Wachid. Dari sana, mimpinya kembali bangkit.
Sekolah-sekolah tersebut membuatnya terinspirasi hingga akhirnya di usia 25 tahun, ia bersama saudaranya memutuskan membuat sekolah bernama Paud-TK Cahaya Pertiwi. Merombak rumah peninggalan orang tua untuk menjadi bangunan sekolah. Sekolah yang mementingkan pendidikan karakter dan menggratiskan biaya sekolah bagi siswa kurang mampu. “Hal yang menginspirasi itu membuat aku jadi makin semangat. kata almarhum bapak itu hidup harus bermanfaat, itu sudah terpatri jadi kita buat sekolah ini,” jelasnya.
“2008 ketika kami rembukan dengan keluarga, februari kami putuskan rumah orang tua ini kami pakai untuk sekolah supaya bermanfaat. Ibu bapakku itu aktif di kampung, pasar depan itu yang bikin bapak ku, waktu jadi rw bapak ku melihat warga kalau mau ke pasar jauh dan diusahakan agar warga punya pasar yang dekat,” imbuhnya.
Namun sayangnya hal tersebut justru dipandang beda oleh masyarakat sekitar. Bentuk sekolah yang mirip rumah, ditambah biaya sekolah yang murah justru membuat warga sekitar ragu dengan kualitas pendidikan disana. “Di sekolah kami gak mahal, SPP cuma Rp. 60ribu perbulan, uang masuk Rp. 900 ribu sudah dapat seragam, dan bisa dicicil. Karena ini basicnya sosial,” terangnya.
“Awalnya niat bikin sekolah ini untuk anak-anak tidak mampu, ternyata kemudian ada beberapa anak membutuhkan sekolah disini akhirnya berjalan sampai sekarang,” lanjutnya.
Namun Nuning tak kecil hati. Ia terus berjuang membangun PAUD Cahaya Pertiwi. Dan terbukti dari yang awalnya hanya berisi 10 murid, kini sekolahnya bahkan harus menolak siswa yang ingin masuk sebab kuota sudah penuh.
“Angkatan pertama cuma 10 anak, jadi kayak laskar pelangi, tapi alhamdulillah tahun kedua dan seterusnya sudab berkembang. Ketika paud lain kesulitan mencari murid, sekolah kami alhamdulillah selalu ramai pendaftaran. Aku juga gak promosi, cuma pasang banner dan promosi ig tiktok, rata-rata orang jauh yang sekolah disini,” sebutnya.
“Orang sini malah enggak karena mereka gengsi disini dianggap sekolahnya orang gak mampu karena sekolahnya gratis. Sampai sekarang masyarakat sekitar juga pemikirannya masih sama, sedangkan masyarakat disini itu banyak yang gak mampu tapi memilih sekolah di tempat lain,” lanjutnya.
Seiring berjalannya waktu, sekolah yang awalnya diniatkan untuk sosial akhirnya bisa menggandeng yayasan untuk pendanaan operasional. Ada subsidi silang untuk murid tidak mampu, ditambah dengan bantuan pemerintah.
“Karena ini basicnya sosial maka kami mencari pendanaan dari luar. Yang pertama itu donatur. Anak yang tidak mampu itu mereka dipegang orang tua asuh, kami bikin proposal presentasi untuk bisa membantu anak yang tidak mampu, mereka yang mendanai uang sekolah anak anak,” pungkasnya. (tim/red)
.
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





