Krisis Karakter, Pendidikan Indonesia Mau Dibawa Kemana?

Sistem Pengajaran Melibatkan Guru dan Orang Tua ala Ki Hajar Dewantara
Nuning bercerita, membentuk model pendidikan ini memang tak mudah. Kurikulum yang berbeda dengan kurikulum nasional membuatnya perlu pengajar yang sejalan dengan visi misi mereka.
Bagi Nuning, guru harus betul-betul menjadi pelindung bagi murid-muridnya. Membentak dengan nada tinggi hingga kasar dan melakukan kekerasan ke siswa adalah hal yang dilarang disana. Nuning menyebut, metode pengajarannya lebih pada ketegasan bukan kekerasan. Sebab hal itu akan merenggangkan hubungan siswa dengan guru yang berdampak ke proses pembentukan karakter.
“Sejak awal duah kami sampaikan visi misi sekolah, target kami bukan bisnis. Gesekan pasti ada, ketika di lapangan gak semua orang bisa memahami. Jadi sejak awal saya tanya dulu, kita training tiga bulan, kalau tidak cocok yang tidak kita lanjutkan,” ucapnya.
Guru juga dilarang menegur kesalahan murid di depan umum. Jika ada anak yang membuat kesalahan maka anak tersebut diajak masuk ke ruangan, diajak ngobrol empat mata dengan gurunya.
“Jadi kalau ada anak bikin kesalahan kita ajak masuk dan ngobrol. Anak anak itu juga butuh dihargai dan kami menjaga itu. Jadi bebebrapa SOP memang bener bener guru itu sebagai pelindung, makanya anak anak merasa nyaman dan tidak takut di sekolah,” imbuhnya.
Tak hanya pada guru, pihaknya juga aktif melibatkan orang tua dalam mendidik. Ndut menyadari metode pendidikan yang mereka ajarkan di sekolah tak akan berhasil jika lingkungan rumah tak mendukung. Segala ajaran yang mereka tanamkan bisa sia-sia jika saat di rumah orang tua kembali ke pola awal.
Untuk itu pihaknya menyediakan layanan psikologi anak dan anak berkebutuhan khusus (ABK). Ada kelas parenting yang digelar 2 kali dalam sebulan untuk tukar pengalaman sekaligus mengarahkan orang tua untuk melanjutkan kebiasaan yang telah diajarkan di sekolah.
“Sebulan dus kali kami parenting ajdi kami coba jelaskan ke orang tua soal meotde pembelajaran kami dan itu membuat orang tua terbiasa melanjutkan apa yang kami ajarkan itu diterapkan di rumah. Misalkan kalau aku bilang soal anak boleh main hp tapi hanya boleh satu dua jam sudah cukup,” akunya.
“Disitu anak anak belajar soal tanggung jawab. Misal ada anak di rumah ditanya orabg tuanya untuk pilih ngaji atau main hp dulu, dan harus tanggung jawab dengan pilihannya. Kalau rewel biarkan saja. Waktu naik kereta juga anak-anak tidak rewel,” lanjutnya.
Tantangan Mengelola Paud Cahaya Pertiwi
Meski punya niat mulia, namun perjalanan PAUD Cahaya Pertiwi tak semulus kelihatannya. Nuning mengungkapkan, diawal berdirinya sekolah tersebut sempat dipandang sebelah mata oleh masyarakat sekitar.
Dibangun dengan uang pribadi, Nuning bersama saudaranya bercita-cita membangun sekolah yang menciptakan lulusan kritis, berkarakter kuat dengan nilai luhur, bukan menjadi orang yang mencari hasil tanpa memerdulikan proses.
Tumbuh di lingkungan aktivis membuat Nuning kecil resah pada system pendidikan yang dialaminya ketika kecil. Seiring berjalannya waktu, Nuning mulai menggeluti dunia aktivis, mendatangi beberapa sekolah alam dan sekolah Cikal yang didirikan oleh Lisa Wachid. Dari sana, mimpinya kembali bangkit.
Sekolah-sekolah tersebut membuatnya terinspirasi hingga akhirnya di usia 25 tahun, ia bersama saudaranya memutuskan membuat sekolah bernama Paud-TK Cahaya Pertiwi. Merombak rumah peninggalan orang tua untuk menjadi bangunan sekolah. Sekolah yang mementingkan pendidikan karakter dan menggratiskan biaya sekolah bagi siswa kurang mampu. “Hal yang menginspirasi itu membuat aku jadi makin semangat. kata almarhum bapak itu hidup harus bermanfaat, itu sudah terpatri jadi kita buat sekolah ini,” jelasnya.
“2008 ketika kami rembukan dengan keluarga, februari kami putuskan rumah orang tua ini kami pakai untuk sekolah supaya bermanfaat. Ibu bapakku itu aktif di kampung, pasar depan itu yang bikin bapak ku, waktu jadi rw bapak ku melihat warga kalau mau ke pasar jauh dan diusahakan agar warga punya pasar yang dekat,” imbuhnya.
Namun sayangnya hal tersebut justru dipandang beda oleh masyarakat sekitar. Bentuk sekolah yang mirip rumah, ditambah biaya sekolah yang murah justru membuat warga sekitar ragu dengan kualitas pendidikan disana. “Di sekolah kami gak mahal, SPP cuma Rp. 60ribu perbulan, uang masuk Rp. 900 ribu sudah dapat seragam, dan bisa dicicil. Karena ini basicnya sosial,” terangnya.
“Awalnya niat bikin sekolah ini untuk anak-anak tidak mampu, ternyata kemudian ada beberapa anak membutuhkan sekolah disini akhirnya berjalan sampai sekarang,” lanjutnya.
Namun Nuning tak kecil hati. Ia terus berjuang membangun PAUD Cahaya Pertiwi. Dan terbukti dari yang awalnya hanya berisi 10 murid, kini sekolahnya bahkan harus menolak siswa yang ingin masuk sebab kuota sudah penuh.
“Angkatan pertama cuma 10 anak, jadi kayak laskar pelangi, tapi alhamdulillah tahun kedua dan seterusnya sudab berkembang. Ketika paud lain kesulitan mencari murid, sekolah kami alhamdulillah selalu ramai pendaftaran. Aku juga gak promosi, cuma pasang banner dan promosi ig tiktok, rata-rata orang jauh yang sekolah disini,” sebutnya.
“Orang sini malah enggak karena mereka gengsi disini dianggap sekolahnya orang gak mampu karena sekolahnya gratis. Sampai sekarang masyarakat sekitar juga pemikirannya masih sama, sedangkan masyarakat disini itu banyak yang gak mampu tapi memilih sekolah di tempat lain,” lanjutnya.
Seiring berjalannya waktu, sekolah yang awalnya diniatkan untuk sosial akhirnya bisa menggandeng yayasan untuk pendanaan operasional. Ada subsidi silang untuk murid tidak mampu, ditambah dengan bantuan pemerintah.
“Karena ini basicnya sosial maka kami mencari pendanaan dari luar. Yang pertama itu donatur. Anak yang tidak mampu itu mereka dipegang orang tua asuh, kami bikin proposal presentasi untuk bisa membantu anak yang tidak mampu, mereka yang mendanai uang sekolah anak anak,” pungkasnya. (tim/red)
.
Tampilkan Semua
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





