Kisah Kedekatan Bung Karno dan Bung Hatta
SR, Jakarta – Presiden RI Kelima Megawati Soekarnoputri mengatakan bahwa hubungan ayahnya, Presiden RI Pertama Ir. Soekarno dengan Wakil Presiden Pertama Mohammad Hatta, adalah persahabatan sejati.
Megawati menceritakan hubungan dua keluarga proklamator RI itu sangat-sangat dekat. Namun banyak yang menyebut bahwa hubungan keduanya, di akhir-akhir, banyak perbedaan. Hingga Hatta mundur diri sebagai wakil presiden. Dan Bung Karno tak pernah memiliki wakil setelah Bung Hatta mundur.
“Tapi coba pikir, kenapa Bapak saya sampai akhir tidak mempunyai wapres? Karena itu suatu bentuk penghargaan loh pada Bung Hatta. Dia tak mau ada wakil lagi. Tetapi cuma Pak Hatta. Itu persahabatan sejati,” kata Megawati dalam acara webinar peringatan HUT Mohammad Hatta ke-119, yang digelar oleh Badan Nasional Kebudayaan Pusat (BKNP) PDI Perjuangan, secara virtual melalui akun youtube resmi @bknp pdiperjuangan, Kamis (12/8/2021).
Megawati juga bercerita, persahabatan keduanya tetap erat, ketika Ir. Soekarno menjadi tahanan oleh rezim Orde Baru, tanpa selembar kertas berisi status itu, keluarganya hendak menggelar pernikahan. Yakni kakak Megawati, Guntur Soekarnoputra yang hendak menikahi seorang Mojang Priangan.
“Bayangkan ayah saya tak bisa hadir akibat peristiwa politik saat itu, meski tidak ada secarik kertas pun yang memberi status hukum bagaimana Bung Karno dikenakan tahanan rumah. Akhirnya ibu saya minta ke Pak Hatta dan Tante Rahmi mewakili, bisa tidak Pak Hatta mewakili keluarga Bung Karno? Spontan Pak Hatta bilang oke, kalian kan anak saya juga. Itu satu keindahan tersendiri,” kata Megawati.
Maka itu, Megawati mengatakan persahabatan Bung Karno dan Bung Hatta pasti akan abadi, selama Indonesia Raya berdiri.
“Kalau sekarang ada yang masih berusaha dikutak kutik itu pasti aneh. Orang-orang itu bilang perbedaan Bung Karno dan Bung Hatta, ini lah itu lah. Saya bilang orang itu mengerti tidak ya yang sebenarnya?” tegas Megawati.
Putri sulung Bung Hatta, Meutia Farida Hatta yang turut hadir dalam acara tersebut juga mengakui soal persahabatan kedua keluarga mereka. Dia mengingat bagaimana ayahnya memang menjadi wakil keluarga Soekarno saat Guntur Soekarno menikah. Namun, Meutia juga mengakui, bahwa Bung Karno adalah yang menguburkan ari-arinya saat dirinya dilahirkan.
Saat itu, Hatta memilih untuk buru-buru ke Istana Kepresidenan untuk menghadiri rapat kabinet. Namun Bung Karno yang datang menjenguk, memahami pentingnya budaya menanam ari-ari sebagai orang Jawa. Sehingga Bung Karno yang menanam ari-arinya.
“Ini satu timbal balik yang manusiawi, tetapi juga sebuah persahabatan luar biasa,” kata Meutia Farida Hatta.
Tak hanya kedekatan secara pribadi, dua Bapak Bangsa, Soekarno dan Hatta juga saling menopang satu sama lain untuk Indonesia. Mereka merupakan pejuang demokrasi ekonomi Indonesia.
“Bunga Karno dan Bung Hatta orang utama yang sangat berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Bung Hatta berjuang di Eropa dan Bung karno di Indonesia,” ujar Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Sri Edi Swasono.

Sementara itu, Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam menyebut adanya rekayasa Orde Baru untuk membenturkan Soekarno dan Mohammad Hatta. Dimana dalam buku disebarkan pada masa Orde Baru mengatakan Bung Karno melecehkan Bung Hatta dan juga pendiri bangsa lainnya Sutan Sjahrir.
“Saya bertanya di mana, di mana sumbernya, apa dokumennya? Dan dikatakan bahwa itu ditulis di dalam buku Bung Karno (berjudul) Penyambung Lidah Rakyat yang diterbitkan oleh Gunung Agung pada masa Orde Baru,” kata Asvi.
Asvi pun akhirnya menanyakan ke Syamsul Hadi, dari Yayasan Bung Karno. Syamsul adalah orang yang berperan memperbaiki atau revisi dari terjemahan buku Karya Cindy Adams, penulis berkebangsaan Amerika Serikat, mengenai Bung Karno.
Dan ternyata, rekayasa itu ada dalam dua alinea tambahan atau rekayasa ala Orde Baru. Salah satu teks atau alinea itu dituliskan Bung Karno seolah tidak membutuhkan Hatta dan Sjahrir yang dikatakan menolak memperlihatkan diri di saat pembacaan Proklamasi.
“Kemudian Syamsul Hadi itu memeriksa buku aslinya yang berbahasa Inggris dan ternyata tidak ada dua alinea yang sangat melecehkan itu, sama sekali tidak ada dalam bahasa Inggrisnya. Jadi kalau begitu, ada orang yang menambahkan dua alinea itu dan itu dibaca sepanjang Orde Baru,” tegas Asvi.
Ia juga memaparkan fakta tentang kepemimpinan Dwitunggal masa awal Republik Indonesia berdiri yakni Soekarno-Hatta. Menurut Asvi, Bung Karno dan Bung Hatta selalu bersama dalam memperjuangkan kemerdekaan hingga keduanya memimpin bangsa bersama.
“Tidak ada proklamasi kemerdekaan tanpa Bung Karno. Tidak ada proklamasi kemerdekaan tanpa Bung Hatta. Tidak ada proklamasi kemerdekaan tanpa Bung Karno dan Bung Hatta,” tutur Asvi.
Kemudian, sejarah membuktikan, Bung Karno adalah penggali Pancasila, sementara Bung Hatta lah pengawal dan penyelamat Pancasila.
“Bung Hatta lah yang pada tanggal 18 Agustus 1945 membicarakan dengan beberapa tokoh Islam tentang penghapusan 7 kata (Piagam Jakarta) dan mencantumkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kalau tidak ada Hatta, 7 kata itu akan tetap ada sampai sekarang,” tandas Asvi. (*/red)
Tags: Asvi Warman Adam, Bapak Bangsa, Bung Karno dan Bung Hatta, Guru Besar Universitas Indonesia (UI), HUT Mohammad Hatta, Kisah Kedekatan Bung Karno dan Bung Hatta, LIPI, megawati soekarnoputri, Meutia Farida Hatta, Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, proklamator, Sejarah bangsa, Sri Edi Swasono
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





