Kenali Gejala hingga Dampak Anak Kecanduan Internet

Yovie Wicaksono - 11 October 2021

Orang yang Berharga Ada di Sekitar Kita, Bukan Dunia Maya

Selain game online, media sosial memiliki risiko kecanduannya lebih tinggi. Terlebih, media sosial pada era sekarang ini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari dari hampir semua orang, salah satunya adalah Sylvia Martha, mahasiswi semester 7 Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya.

Perempuan kelahiran tahun 2000 ini mengaku bahwa pada 2018 lalu, ia sempat kesulitan untuk menghentikan diri saat sedang asik menggunakan media sosial, utamanya Instagram. Tanpa terasa, ia bisa menghabiskan beberapa jam disana hingga mengganggu jam tidurnya.

“Dulu bisa lebih dari tiga jam per hari untuk buka Instagram, kerjain tugas dikit lalu buka medsos jadi tugas gak selesai-selesai, tidur malam yang biasanya jam 10 bisa jadi jam 12 malam karena terlalu keasikan scroll foto atau video,” ujarnya.

Bahkan, Sylvia juga memiliki akun kedua di Instagram yang berisi beberapa teman terdekatnya, dimana akun tersebut sebagai tempatnya untuk berkeluh kesah.

“Dulu banyak yang punya akun kedua di media sosial, termasuk saya. Jadi apa-apa selalu update disitu, mengeluh, ada kejadian apa dikit di posting, bahkan sampai merasa oversharing,” kata bungsu dua bersaudara ini.

Semakin lama menghabiskan waktu ‘berselancar’ di Instagram, Sylvia jadi seringkali membandingkan dirinya dengan orang lain hingga berpikir berlebihan. Sampai suatu saat, untuk menghentikan semua itu akhirnya ia memilih menonaktifkan akun Instagram miliknya selama dua minggu.

“Saya pilih menonaktifkan akun Instagram saya dua minggu dan terlama pernah sampai satu bulan setengah, karena kalau hanya meng-uninstall aplikasi ataupun logout dari akun itu saya masih tetap terus ingin buka,” tandasnya.

Ia tak menampik bahwa itu semua pada awalnya tidak mudah, bahkan ia membutuhkan waktu sekira 6 bulan untuk bisa benar-benar tidak masalah jika tidak membuka media sosial miliknya. Dan itu berhasil hingga sekarang. Ia tak pernah lagi menghabiskan waktunya berjam-jam saat menggunakan Instagram, melainkan hanya sekira 15 menit saja rerata.

Kini, Sylvia menyadari bahwa apa yang dilakukannya dulu hanyalah membuang waktunya saja, padahal ia sangat bisa menggunakan waktunya untuk melakukan hal yang lebih produktif.

“Saya juga paham kalau tidak perlu lagi membandingkan diri dengan orang lain, karena kita juga tidak bisa menilai bahwa orang lain lebih bahagia, pintar, kaya dan segalanya hanya berdasarkan postingannya. Karena setiap orang punya pahit manis dalam kehidupannya masing-masing,” pungkas Sylvia.

Ia pun mengingat perkataan gurunya semasa sekolah bahwa orang yang paling berharga adalah orang yang saat ini berada di sekitar kita, yang tanpa disadari seringkali terabaikan lantaran kita asik dengan dunia kita sendiri, yakni dunia maya.

“Jadi kalau sedang berkumpul entah dengan keluarga, teman, atau lainnya ya jangan nunduk terus karena asik sendiri dengan gadget, tapi nikmati momen kebersamaan itu, ngobrol. Karena mereka adalah orang yang berharga,” ujarnya.

Menurutnya, memang hal ini terlihat sangat sepele, namun setelah mengetahui dampaknya, Sylvia mengingatkan para generasi muda lainnya agar tidak membuang waktu profuktifnya secara percuma lantaran kecanduan internet, khususnya media sosial.

“Kelihatannya sepele, tapi jangan sampai menghabiskan waktu hanya untuk hal yang tidak produktif, karena jujur itu semua tidak akan terasa, tiba-tiba sudah ketinggalan banyak hal yang harus dikerjakan. Jangan sampai menyesal,” tandasnya. (fos/red)

Tampilkan Semua

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.