Kenali Gejala hingga Dampak Anak Kecanduan Internet

Yovie Wicaksono - 11 October 2021

SR, Surabaya – Penggunaan internet pada masa pandemi Covid-19 diketahui meningkat di seluruh dunia. Hal tersebut ditandai dengan peningkatan bandwidth (penggunaan) internet pada negara-negara seperti Belanda, Brazil, Jerman, Afrika Selatan, Jepang, dan Singapura. Bahkan, Asia menjadi penyumbang  pengguna internet terbanyak di dunia per 31 Maret 2021, yaitu 53,4 persen.

Indonesia sendiri pada  Januari 2021 menduduki peringkat ke-8 waktu penggunaan internet tertinggi di dunia, yaitu  hampir 9 jam per hari. Indonesia juga berada di peringkat ke-9 waktu penggunaan media sosial di dunia.

Bagaimana tidak, di tengah pandemi ini, semua aktivitas secara tidak langsung dipaksa beralih dari yang awalnya offline menjadi online, mulai dari bekerja hingga sekolah.

Selain untuk bekerja dan belajar, internet juga digunakan sebagai hiburan selama masa pandemi karena pembatasan interaksi fisik (isolasi dan  lockdown), kehilangan pekerjaan dan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari, masalah finansial dan banyaknya waktu luang yang menyebabkan bosan, stres, perubahan mood, mudah marah, hingga cemas.

Di samping sisi positif dan kemudahan yang didapatkan dari internet, tanpa disadari sebagian orang telah kecanduan terhadap internet, hal itu bahkan juga dialami oleh anak-anak.

Kepala Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) –  Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Kristiana Siste mengatakan bahwa kecanduan internet saat ini tengah menjadi masalah dan menjadi  perhatian dunia. Kecanduan internet sendiri masuk dalam klasifikasi gangguan jiwa menurut ICD-11 yaitu “Gambling Disorder” dan “Gaming Disorder” serta pada DSM-5 sebagai “Internet Gaming Disorder”.

Berdasarkan survei yang telah dilakukannya bersama dokter Enjeline dan timnya di 34 provinsi di Indonesia selama masa pandemi Covid-19 (Mei-Juli 2020) menunjukkan bahwa angka kecanduan internet adalah 19,3 persen pada remaja dan 14,4 persen pada dewasa muda.

Sejumlah 2.933 remaja mengalami peningkatan durasi online dari 7,27 jam menjadi 11,6 jam  perhari atau meningkat sekira 59,7 persen. Sedangkan pada 4.734 dewasa muda mengalami peningkatan durasi online menjadi 10 jam per hari.

Kemudian sebanyak 73,1 persen laki-laki dan 26,9 persen perempuan di  Indonesia mengalami kecanduan gim daring, dengan jenis permainan yang paling banyak dimainkan adalah MOBA (multiplayer online battle arena) sebanyak 46 persen. Proporsi  penggunaan utama media sosial di selama masa pandemi di Indonesia sebanyak 23,2 persen.

Ia mengatakan, bermain game online dan media sosial memiliki risiko kecanduannya lebih tinggi, karena dalam game online dan media sosial mereka memiliki otonomi sendiri dan bisa kontak dengan orang lain dari berbagai negara, merasa memiliki eksistensi dan rasa kompetisi menjadi tinggi.

Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi seseorang kecanduan internet, diantaranya usia pertama kali menggunakan internet, masalah emosi dan perilaku, lingkungan yang buruk, dan gangguan tidur.

“Ketika mereka mengalami masalah emosi, remaja yang memang ada masalah depresi, kecemasan, citra diri yang rendah itu memiliki risiko kecanduan internetnya tinggi,” ujarnya dalam konferensi pers daring beberapa waktu lalu.

Tampilkan Semua

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.