Jamu dan Generasi Muda. Dikonsumsi atau Ditinggalkan?
Kampung Jamu di Kota Metropolitan
Pelestarian jamu ternyata masih dilakukan oleh warga Kedurus Pasar Lama RT 1 RW 1 kota Surabaya. Ada sekira 45 warga dari total 150 kepala keluarga yang berprofesi sebagai pembuat sekaligus penjual jamu, hingga membuat wilayah ini disebut sebagai Kampung Jamu Segerwaras.
“Dulu jumlahnya lebih banyak, sekarang tinggal segitu karena banyak yang sudah pensiun karena usia, ada juga yang berganti profesi. Kami rata-rata dari Solo yang memang secara turun menurun pembuat jamu, ini sudah generasi ke 2 dan ke 3,” ujar Ketua RT setempat, Sularno.
Dijelaskan, awal terbentuknya Kampung Jamu Segerwaras dimulai pada tahun 2017 saat warga membentuk paguyuban jamu, hingga akhirnya saat pandemi 2021 mereka memutuskan menggunakan nama tersebut untuk semakin memperkenalkan kepada masyarakat bahwa terdapat sebuah kampung yang mayoritasnya berprofesi sebagai pembuat sekaligus penjual jamu.
Para penjual jamu ini rata-rata berjualan keliling di wilayah Karang Pilang, Kebraon, Gunungsari, Wiyung dan sekitarnya dengan menggunakan sepeda motor, sepeda ontel, gerobak dorong, hingga di gendong khas pedagang jamu tempo dulu.
Rerata langganan jamu mereka 75 persen berusia 40 tahun ke atas dan sisanya usia anak-anak hingga dewasa lantaran dikenalkan dan disarankan orang tua untuk minum jamu.
Adapun jamu yang banyak dicari adalah paitan, lempuyang, kudu laos, suruh, beras kencur, hingga kunyit asem. Sedangkan untuk anak-anak ataupun generasi muda biasanya mengonsumsi buyung upik, beluntas, sinom, temulawak, beras kencur dan kunyit asem.
“Soal anggapan jamu minuman orang tua ya gimana ya, karena yang minum memang kebanyakan orang tua-tua, dan anak muda kalau dengar kata jamu pasti mikirnya pasti pahit rasanya. Karena itu akhirnya saya membuat inovasi rasa, menambahkan buah-buahan seperti melon, stroberi jadi ada manisnya, tanpa mengurangi khasiat jamu dan tidak tabrakan dengan kandungan lainnya,” ujar Sularno yang telah berjualan jamu sejak tahun 1985 ini.
Mengingat jamu buatan mereka tanpa bahan pengawet, maka jamu hanya bisa bertahan dalam satu hari satu malam untuk di suhu ruangan, dan bisa bertahan 2-3 hari jika di simpan di dalam lemari es.
“Sebenarnya bisa sampai satu minggu kalau dikulkas, tapi tentu rasa dan khasiatnya akan berubah. Makanya kita selalu sampaikan kepada pembeli kalau beli jamu botolan penyimpanannya seperti apa dan tahan berapa lama,” jelasnya.
Untuk pemasaran, mereka rerata mengandalkan dari mulut ke mulut. Sebenarnya, mereka sempat mencoba melalui media sosial, namun tak berlangsung lama bertahan mengingat tak ada yang memiliki waktu luang untuk menjalankan dan memaksimalkannya.
Sehari, mereka bisa melayani puluhan bahkan ratusan pembeli jamu dengan harga yang relatif cukup terjangkau. Untuk satu gelas jamu, dibanderol sekira 2000 hingga 3000 rupiah. Lalu untuk botol 600 ml dijual dengan harga 7000 hingga 10.000 rupiah. Kemudian untuk botol ukuran 1500 ml dijual 15.000 hingga 20.000 rupiah, tergantung lokasi berjualan, apakah di kampung dan di perumahan serta dengan kualitas yang berbeda.
Keberadaan Kampung Jamu Segerwaras, menjadi bukti bahwa jamu menjadi salah satu kekayaan budaya yang harus terus dilestarikan. Lewat jamu, Indonesia bisa mengembangkan kesehatan, kebudayaan dan pariwisata di tiap daerah. Bahkan keanekaragaman rempah tersebut bisa menjadi daya tarik dan memiliki nilai jual yang tinggi jika diolah dengan baik.
“Jamu itu merawat sosial memori kita tentang kekayaan budaya bangsa. Hampir semua etnik punya cara menjaga kesehatan kebugaran melalui rempah yang ada di wilayah masing-masing,” tutur Dosen Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya, Pinky Saptandari.
Untuk itu perlu peran semua pihak untuk menjadikan jamu sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Pemahaman tentang jamu yang sudah lama keliru perlu diluruskan sehingga tercipta kesetaraan antara jamu tradisional dengan medis modern.
“Kita bicara implementasi kenyataannya masih sangat jauh karena pemahaman secara utuh tentang jamu itu tidak ada. Masih banyak yang melihat dari efek sampingnya, tidak ilmiah jadi menempatkan jamu seolah bertentangan dengan medis modern, padahal misal di Cina jamu atau herbal mereka ini berada dalam posisi setara dengan obat modern,” ucapnya.
Dari sisi produsen, bisa memulai dengan melakukan inovasi jamu dengan pengemasan dan rasa yang lebih kekinian. Produk jamu bisa dimodifikasi dalam bentuk permen atau menjadi campuran minuman sehingga masyarakat juga terbiasa dengan rasa-rasa tanaman herbal yang menyehatkan. Lalu dari sisi pendidikan juga perlu memasukan pelajaran tentang jamu. Murid bisa diajak untuk mengenal jenis tanaman herbal dan meracik sendiri jamu yang mereka inginkan.
Selain itu, para akademisi dan medis, lanjutnya, perlu berkomitmen bersama dan menyuarakan manfaat-manfaat tanaman herbal sebagai alternatif obat. Regulasi pemerintah juga harus mendorong kekayaan budaya asli yakni jamu agar tetap lestari, salah satunya dengan mewajibkan tiap layanan publik untuk menjual jamu tradisional.
“Kalau ini tidak berubah ya akan susah sampai kapanpun. Jadi harus ada perubahan dari sisi regulasi, bagaimana antara kebiasaan masyarakat dan regulasi itu harus dipertemukan. Promosinya bisa dari flyer, media sosial juga bisa atau dari sineas film juga bisa ikut mempromosikan lewat adegan dalam film,” ucapnya.
“Dan memang balik lagi ke kebijakan, karena ada satu gambaran yang dikonstruksikan masyarakat itu harus ilmiah dan dikotomi ini memang dibuat untuk bisnis. Kita sebagai konsumen harus cerdas jangan mau jadi objek, kita harus jadi tuan di rumah sendiri. Kalau semua bersungguh-sungguh dan komitmen melestarikan maka generasi selanjutnya akan terjamin dan terbiasa dengan jamu,” pungkasnya. (fos/hk/red)
Tampilkan SemuaTags: Eksistensi jamu, generasi muda, Gerakan minum jamu, jamu, Minuman herbal, Rempah Indonesia, Tradisi nenek moyang
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.






