Wisata Pasar Lawasan Ndonowati, Bukti Kekuatan Komunitas Muda
SR, Surabaya – Di balik ketidakpastian ekonomi dan banyaknya pengangguran di Kota Surabaya, masih ada segelintir pemuda yang peduli dan mau mengembangkan kampungnya.
Mereka adalah para pemuda Lidah Wetan yang tergabung di Paguyuban Perekonomian Mandiri, sebuah kelompok yang memprakarsai terbentuknya wisata Pasar Lawasan Ndonowati.
Paguyuban yang di ketuai Budi Kiswono itu berusaha keras membangkitkan kembali perekonomian kampungnya. Diskusi demi diskusi terus berlangsung. Berbagai pertimbangan dipikirkan dengan matang, hingga tercipta ide memberdayakan warga lewat wisata berkonsep nostalgia era pasar zaman dahulu.
Wisata tersebut bisa dinikmati segala kalangan usia dengan menghadirkan banyak saung, berbagai hidangan hingga dolanan jadul yang akan membawa tiap pengunjung seakan masuk ke masa tempo dulu.
“Tujuan kita adalah sosial, gak ada tujuan lain. Awal mulanya kita ada 7 orang tim inti kita rembukan bikin apa yang bisa meningkatkan ekonomi warga sekitar,” ujarnya.
Terhitung, butuh 30 hari untuk membangun pasar lawasan yang berlokasi di gang XI Lidah Wetan Lakarsantri Surabaya itu. Dengan modal seadanya, ia bersama 6 anggota lainnya bergantian membagi tugas. Ada yang menyiapkan ilalang dan bambu untuk membangun stan pasar, listrik, perizinan, konsep tempat, hingga koordinasi dengan tiap warga.
“Kalau ilalang itu kita bikin waktunya 30 hari, jadi kita beli online lalu kita kemas gimana pasar ini seperti di jaman dulu, jadi biar suasananya dapat seperti pasar lawasan. Bambu inipun waktu kita mau bikin kebetulan ada orang yang mau bangun lahan jadi bambunya ditebangi, nah itu kita beli jadi agak murah. Kita ambil yang ada, kita bikin,” tuturnya.
Meski awalnya berjalan lancar, ternyata perjuangan masih panjang. Pihaknya harus meyakinkan warga sekitar untuk mau berdagang di 30 stan yang telah disediakan. Berbagai upaya dilakukan untuk meyakinkan warga.
“Jadi pedagang kita bagi dari luasan stan nya. Untuk masalah menu kita bagi, targetnya menu lawas dimana itu harus terisi di tiap stan dan menunya gak boleh sama. Kita bebaskan memilih menu tapi harus tradisional. Untuk harga dan porsi itu gak boleh terlalu banyak. Kita bikin porsinya tanggung biar orang bisa merasakan semua jajanan disini,” terangnya.
Pihaknya pun kembali menjelaskan bahwa tujuan utamanya adalah untuk sosial. Panitia hanya menarik 5 persen dari hasil penjualan untuk operasional. Hanya saja ada beberapa aturan yang harus dipatuhi, yakni, tiap pedagang wajib menjual makanan atau minuman tradisional dengan harga terjangkau, tidak boleh menjual hidangan yang sama dengan penjual lain, dan dianjurkan memakai pakaian tradisional.
“Hasil penjualan ini sebenarnya dari semua pedagang kita hanya kenakan potongan 5 persen dari hasil penjualan. Jadi 5 persen itu untuk operasional, listrik, untuk konsumsi panitia, sedangkan pembagian lain itu gak ada. Tim panitia kita gaji lewat stan, jadi dikasih stan satu-satu silahkan jualan disitu dan hasilnya bisa diambil untuk gaji,” ucapnya.
Akhirnya, satu persatu warga mau menempati stan yang ada. Kesanggupan warga pun terus bertambah usai dilakukan simulasi bersama konten kreator dan viral di media sosial, dan puncaknya terjadi di pembukaan Pasar Wisata Lawasan Ndonowati pada 16 Desember 2023 yang berlanjut hingga sekarang.
“Awal kita menawarkan ke warga, kita datangi door to door itu yang mau cuma 10 orang, lalu kita bikin video simulasi akhirnya kita share di medsos kita undang salah satu content creator alhamdulilah bertambah jadi 21 orang pedagang yang mau, setelah itu kita gebyar di hari pertama kelihatan ramai otomatis baru banyak orang mau datang kesini,” jelasnya.
Wisata yang buka tiap Sabtu dan Minggu ini pun terbukti menarik perhatian. Bukan hanya Surabaya, banyak juga warga luar kota dari Sidoarjo, Gresik, hingga Mojokerto yang datang.
Pasar Lawasan ini memenuhi nuansa klasik dari segala sisi. Mulai dari tempat yang didominasi rumbai ilalang khas jaman dulu, hidangan yang disajikan, dolanan, live musik, hingga alat yang digunakan untuk transaksi yakni koin kayu dengan logo pasar Ndonowati yang masing-masing bernilai Rp 2ribu dan punya masa berlaku.
Selain itu, pasar lawasan itu juga ramah lingkungan, karena tak ada peralatan yang terbuat dari plastik, dan pengunjung dianjurkan membawa tumblr atau membeli tote bag yang disediakan sebagai pengganti kresek.
“Dolanannya (permainannya, red) ada yang gratis dan berbayar, yang berbayar ini karena ada hadiahnya. Ada egrang, gledekan bola bekel, lempar gelang, lempar bola, tembak-tembakan air. Di pasar ini ada makanan nasi pecel, urap, rujak cingur, lontong mie, lontong kikil, gethuk, lemet, kucur, sari kedelai, es tebu, es teh, kunyit asam, beras kencur, dawet, bubur,” ucapnya.
Penggunaan koin kayu tak hanya sebagai alat transaksi melainkan sebagai alat evaluasi perkembangan tiap pedagang. Jika ada pedagang yang penjualannya menurun akan dicarikan solusi bersama.
“Kita gunakan itu karena kita bisa mengevaluasi hasil penjualan dari teman-teman pedagang, karena dengan kepingan itu semua pedagang ketika selesai berdagang kan setor ke kita untuk pencairan dana. Jadi kita cek perkembangannya. Kalau kelihatan sepi nanti kita bantu solusinya,” lanjutnya.
Tak berhenti disini, pihaknya beharap ke depan wisata lokal ini bisa berkembang dan dilirik Pemkot Surabaya menjadi wisata kuliner yang makin meningkatkan perekonomian warga.
“Kita targetnya untuk menjadi wisata kuliner, jadi orang-orang tidak hanya bisa makan saja disini tapi makanannya juga dikemas dan dijadikan oleh-oleh. Nanti semua pedagang kita harapkan bisa jadi binaan UMKM Surabaya. Jadi gimana caranya walaupun jualannya cuma di Sabtu Minggu tapi tiap hari pedagang ini bisa produksi, bisa jualan. Jadi rencananya nanti bisa dijual di online. Jadi satu pintu,” jelasnya.
“30 pedagang nanti kita sebut sebagai pedagang inti jadi tidak bisa digantikan. Nanti kita gagas 10 pedagang tamu yang akan kita gilir di setiap RW. ini masih di RW 6 jadi minggu depan kita gilir ke warga RW lain, karena semenjak kita buka ini banyak warga luar yang tanya untuk stan pedagang,” imbuhnya.
Terlebih, kegiatan tersebut terbukti membantu warga sekitar. Salah satunya Eni warga lokal yang berjualan jajanan jemblem dan pilus. Ia yang dulunya ibu rumah tangga merasa sangat terbantu sebab bisa menambah ekonomi keluarganya.
“Alhamdulillah ada tambahan pemasukan dan kegiatan tambahan, semoga makin lancar. Sehari bisa jualan 50 biji masing-masing jadi total 100 biji, alhamdulillah sering habis kalau jualan di sini,” kata Eni. (hk/red)
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.








