Dua Mahasiswa UNP Kembangkan Usaha di Tengah Pandemi

Yovie Wicaksono - 27 December 2020
Dua Mahasiswa UNP Kembangkan Usaha di Tengah Pandemi. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Di sela-sela waktu luang usai mengikuti proses  belajar daring dari rumah, dua mahasiswa Universitas Nusantara PGRI Kediri (UNP) Kediri Kota Kediri ini mencari peluang berwirausaha.

Didin Trianggoro (21) dan Bagus Nugroho, ingin hidup mandiri dan tidak mau membebani orang tuanya. Salah satu bentuk ikhtiar yang sudah dilakukan selama 6 bulan terakhir ini adalah mereka memproduksi sekaligus berjualan makanan ringan, yakni makaroni goreng yang dikemas sangat menarik, dan layak dikonsumsi oleh segala kategori usia.

“Satu bulan sebelum pandemi, kita sudah mulai usaha, ide awalnya dari teman sekaligus rekan usaha saya Bagus Nugroho,” kata mahasiswa semester 5 jurusan Sistem Informasi ini.

Didin Trianggoro merasa bersyukur, karena selama ini usaha rintisannya tersebut telah mendapat dukungan secara penuh dari orang tua.

“Alhamdulillah, kedua orang tua kami mendukung, untuk proses produksi penggorengan makaroni dibantu oleh ibunya Bagus di rumah. Sedangkan orang tua saya juga ikutan membantu mengemasi,” ujarnya.

Didin Trianggoro mengungkapkan alasannya memilih memproduksi makanan ringan jenis makaroni karena selama ini makaroni dinilai sebagai makanan yang murah dan sudah dikenal luas oleh generasi milenial.

“Sebenarnya makaroni itu kalau kita lihat, bahannya murah. Tapi kemudian kita berusaha bagaimana caranya makanan seperti ini, bisa menjadi produk makanan dengan daya beli tinggi. Kemudian kita bikin kemasan yang terlihat menarik hingga bisa masuk penjualanya menyasar ke kafe. Bagaimana makaroni yang semula biasa, bisa menjadi elegan,” ungkapnya.

Adapun modal awal yang harus dikeluarkan saat itu kurang lebih Rp 1 juta untuk membeli bahan sekaligus pesan plastik kemasan.

Karena masih baru produksi, Didin tidak berani berspekulasi untuk membeli bahan dalam jumlah banyak. Bahan makaroni mentah yang dibeli ketika itu hanya 2 kilo gram saja.

“Untuk sekarang kita sudah berani beli bahan makaroni sampai 25 kilo gram,” tandasnya.

Makanan ringan kemasan itu kemudian diberi merek Two Brothers Factory. Agar pelanggan tidak bosan, ada berbagai varian rasa yang ditawarkan antara lain pedas gurih, pedas manis, barbeque dan keju. Rencananya ada tambahan varian rasa lagi yang bakal disajikan yaitu jagung bakar dan coklat.

Selama ini untuk proses produksi pembuatan dilakukan dikediaman Bagus Nugroho. Racikan bumbu aneka rasa yang disajikan semuanya berbahan alami tanpa pengawet. Agar kualitas rasa tetap terjaga dan terasa segar, dalam racikan bumbu disisipi daun jeruk.

“Kita racik sendiri, dengan campuran bumbu. Bahannya kita ambil sendiri dari daun jeruk dan rempah-rempah,” katanya

Dari sekian varian rasa yang ditawarkan untuk segmen anak-anak paling laku rasa barbeque dan keju. Sedangkan  Untuk kategori usia dewasa paling banyak peminatnya adalah makaroni pedas gurih level 4.

Satu  kemasan makaroni ini dijual ke sejumlah kafe dengan harga Rp 8 ribu. Oleh pihak kafe kemudian dijual kembali Rp 10 ribu. Sementara untuk pembelian reseller dalam jumlah banyak diberi harga khusus Rp 7 ribu. Selain melayani pembelian offline, kedua mahasiswa ini juga memasarkan produknya melalui online yang dibanderol Rp 8 ribu per kemasan.

“Kita juga jualan di Facebook dan Instagram, kita berusaha untuk mengembangkannya di media digital. Pertama kali bikin produksi hampir 25 pcs, itu tidak langsung kita jual melainkan dibuat tester lebih dulu ke teman-teman kampus. Setelah itu kita dapat masukan, semuanya membutuhkan waktu, proses. Setelah dipastikan rasanya enak baru kita jual ke pasaran,” ujarnya.

“Untuk pembelian sistem COD saja, bisa laku 25-45 dalam sehari. Paling sepi 15 pcs. Jadi waktu kita bagi, malam goreng paginya kuliah,” imbuhnya.

Selain melayani pembelian via COD melalui sistem online. Sementara untuk jatah kafe, setiap minggunya titip jual 15 kemasan. Jika jatah titipan masih ada tidak laku terjual, ditarik diganti yang baru.

“Kemarin produk kita, dikenalkan dipasarkan  oleh Pemda melalui salah satu toko online dan Alhamdulilah ludes semua laku terjual 30 pcs lebih.  Bukan hanya melayani pembelian dari lokalan Kediri saja melainkan juga menyasar ke daerah Sidoarjo, Malang, Surabaya dan Jombang,” katanya.

Selain ikut membantu memasarkan secara online, Pemda juga pernah mengajaknya ikut berjualan di pusat perbelanjaan modern (Mall). Disamping itu, ia juga sering diikutsertakan  berupa pelatihan marketing digital, packing, foto produk dan perizian.

Bagus Nugroho menambahkan, jika selama ini keuntungan dari hasil penjualan produk kulinernya tersebut dipergunakan untuk membayar kuliah serta sisanya diperuntukan membantu masyarakat sekitar yang mengalami kekurangan.

“Dan yang jelas juga untuk mengembangkan usaha ini, agar terus maju di kemudian hari,” kata Bagus Nugroho optimis. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.