Sanggar Senam Disulap Menjadi Dapur Umum Darurat

Yovie Wicaksono - 17 February 2021
Menteri Sosial Tri Rismaharini saat meninjau dapur umum. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Nganjuk – Sudah tiga hari ini dapur umum tanggap bencana didirikan di Dusun Selopuro, Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Lokasi dapur umum ini  berada di halaman luar tempat tinggal salah satu warga yang sebelumnya difungsikan sebagai sanggar latihan senam. Kini sementara waktu, tempat itu dipergunakan untuk keperluan memasak kebutuhan pangan bagi relawan dan pengungsi.

Koordinator Tagana Provinsi Jawa Timur, Priyo Prasojo mengatakan, awalnya saat pendirian dapur umum pihaknya sempat mengalami kendala terkait keterbatasan prasarana kelengkapan untuk memasak.

“Kalau kendala Alhamdulilah cuma keterbatasan di awal, karena waktu itu peralatan belum memadai. Jadi peralatan Tagana Nganjuk terbatas, akhirnya didukung dari provinsi, dari Kabupaten Kediri, Ponorogo, Tuban dan Bojonegoro. Tempat ini sanggar senam, milik masyarakat sini dipinjam,” ujarnya.

Priyo Prasojo kembali menjelaskan, untuk pemenuhan kebutuhan makanan para relawan dan pengungsi, setiap hari selalu disediakan 9 ribu porsi.

“Kami bisa melaksanakan pemenuhan kebutuhan dalam sekali makan itu 1000 bungkus. Setelah itu kami mendistribusikan sesuai dengan jam. Makan pagi maksimal sampai 09.00 WIB, Makan siang maksimal 14.30 WIB, makan malam maksimal sampai 19.00 WIB,” katanya.

Setiap sekali masak, porsi beras yang dibutuhkan seberat 100 kilogram. Jika dikalkulasi sehari 3 kali masak,  beras yang digunakan mencapai 300 kilogram. Logistik kebutuhan pangan yang ditempatkan di dapur umum ini merupakan bantuan dari Pemerintah, relawan, komunitas, serta dari masyarakat.

Pendirian dapur umum ini sendiri berlaku menyesuaikan waktu tanggap darurat penanganan bencana. Mereka yang dilibatkan dalam proses produksi memasak ini diantaranya Tagana, relawan dan PKH.

Bukan hanya sekedar memasak, Tim Tagana juga mempunyai tanggung jawab dalam pemenuhan gizi para pengungsi dan relawan.

“Disini kita memanfaatkan apa yang ada di stok bahan,  jadi kita laksanakan sesuai standar kami. Pemenuhan kebutuhan makan, jadi kita harus menyesuaikan menu gizinya juga. Gizinya juga harus di perhatikan karena petugas Basarnas meminta kami, butuh gizi yang besar. Disamping itu juga diperhatikan ke hegianisnya,” ujar pria berusia 43 tahun ini.

Disamping kelengkapan logistik untuk memasak, di lokasi juga didatangkan dua unit mobil dapur umum milik Provinsi dan Kabupaten Kediri. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.