Bahaya Paham Radikalisme di Era Digital

Yovie Wicaksono - 1 August 2022

SR, Surabaya – Bagai pisau bermata dua, cepatnya penyebaran informasi di ranah digital justru memiliki sisi gelap sebagai praktik intoleransi dan radikalisme. 

Hal ini diungkapkan Mantan Kepala Instruktur Perakitan Bom Jamaah Islamiyah, Ali Fauzi saat menjadi pembicara dalam acara Gerakan Nasional Pemda Penggerak Transformasi Digital Implementasi dan Penguatan Kebhinekaan di Era Digital, Minggu (31/7/2022).

Pria yang sekarang mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian itu mengungkapkan, internet mengambil peranan besar dalam penanaman bibit terorisme. “Saat ini yang banyak mendapat simpati adalah ajakan lewat online,” kata Ali Fauzi.

Ada 4 elemen dalam radikalisasi, yakni dari tahap messenger lalu disalurkan lewat message dan media lalu diterima oleh receiver. “Jadi ada ustadznya, pendidik, dan isi pesan lebih kepada kebencian balas dendam,” ujarnya.

Para receiver yang dalam hal ini merupakan calon anggota direkrut lewat profiling individu dan mereka di doktrin dengan ideologi jihad. “Dilihat psikologi yang bersangkutan, kalau dia dalam keadaan terdesak, kacau balau pikirannya itu masa yang paling pas untuk direkrut,” ucapnya.

Kemudian mereka dirangkul dan ditawarkan banyak support oleh kelompok terorisme sehingga anggotanya merasa nyaman dan tidak punya keberanian untuk keluar. “Pada dasarnya sebuah komunitas teroris menawarkan support moral dan material. Sehingga jika keluar mereka tidak punya teman, dikucilkan, dimusuhi, bahkan diancam pembunuhan,” ungkapnya.

Untuk mencegah hal tersebut, maka diperlukan komitmen bersama dalam terus menanamkan nilai-nilai Pancasila dan mengkampanyekan kedamaian.

“Akar terorisme tidak tunggal bahkan saling berkaitan. Karena itu cara penanganannya juga tidak bisa dilakukan dengan metode tunggal. Harus banyak aspek, perspektif dan metodologi,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan Penggiat Lintasagama, Aan Anshori. Ia menyebut, persoalan radikalisme kini sering menyasar lintas agama dan suku. 

Untuk itu, perlu adanya pemasifan nilai-nilai toleransi, mulai dari postingan media sosial, menjalin keakraban dengan teman lintas agama, dan sebagainya. 

Ia mencontohkan, untuk teman muslim bisa mulai bertukar cerita, diskusi dengan teman yang berbeda agama. Lalu bisa juga dengan memposting sesuatu yang menggambarkan kedamaian toleransi. 

“Makin sering diajak ngobrol maka mereka akan mendapat pandangan yang berbeda bahwa orang beragama lain tidak seburuk yang dipikirkan,” ujar aktivis GUSDURian Jombang itu.

Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur Agatha Retnosari menambahkan, dalam ranah digital kita harus pintar menyaring informasi yang diterima agar tidak mudah terprovokasi. 

“Kita juga bisa melakukan kampanye tolak hoax. Jadi hanya ada satu kata, kita harus melawan hoax dengan melakukan saring sebelum kita share,” ucapnya.

Selain itu, media sosial juga diibaratkan seperti rumah kaca yang tiap orang bebas melihat aktivitas kita. Sehingga perlu pula menyaring apa yang akan di posting. “Saat ini provokasi bisa datang dengan cepat karena adanya media sosial,” pungkasnya. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.