Wayang Kulit Gagrak Porongan di 12 Kecamatan Kembali Digelar Pemkab Sidoarjo
SR, Sidoarjo – Wayang Kulit Gagrak Porongan kembali digelar Pemkab Sidoarjo secara estafet di 12 kecamatan berbeda dalam kurun waktu bulan Juli hingga November 2025. Program ini kembali dicanangkan sebagai upaya pelestarian kebudayaan sebagai amanat UU nomor 5 tahun 2012 tentang pemajuan kebudayaan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo Dr Tirto Adi MPd menyebut Wayang Gagrak Porongan merupakan salah satu budaya asli dari Kabupaten Sidoarjo yang pantas untuk terus dipromosikan. “Sesungguhnya Sidoarjo punya banyak ragam jenis seni dan budaya, namun para seniman dan budayawan Sidoarjo sepakat bahwa Gagrak Porongan Adalah wayang khas Sidoarjo yang layak dipopulerkan ke masyarakat,” paparnya Sabtu (2/8/2025) malam di titik kedua pelaksanaan Gagrak Porongan di Balai Desa Jati Kalang, Kecamatan Krian, Sidoarjo.
Selain tujuan pelestarian budaya, pagelaran wayang kulit merupakan seni tradisional yang sudah turun temurun menjadi hiburan rakyat. Di dalam lakon yang dimainkan tersimpan pesan moral, nasihat Kebajikan, hiburan, komedi, bahkan promosi program pemerintah yang dikemas dalam sebuah tontonan cerita dan atraksi dalang memainkan tokoh di layar.

“Kabupaten Sidoarjo ada banyak dalang wayang yang berada dalam satu paguyuban. Maka dari itu saya pastikan pagelaran Gagrak Porongan akan diisi oleh dalang-dalang lokal agar bisa tampil di tengah-tengah warga Sidoarjo,” kata Tirto. “Kripik gedang godong telo, sitik edang podho roto (serba sedikit asal semua kebagian -Red),” selorohnya sambil melempat sepenggal parikan (pantun).
Ekonomi Rakyat Bergerak
Dalam sambutannya, Tirto juga surprise dengan antusias warga yang ikut memeriahkan gelaran wayang. Sepanjang jalan menuju lokasi pagelaran puluhan pedagang menjajakan makanan minuman atau menggelar arena permainan anak.
“Saya bangga sekali datang ke Desa Jati Kalangan, dari ujung timur hingga ke barat banyak sekali UMKM UMKM yang berjualan. Saya sangat senang sekali. Karena ini menunjukkan bahwa ekonomi rakyat warga Jati Kalang dan sekitarnya ikut bergerak dengan adanya kegiatan budaya ini,”komentar pejabat bergelar doktor bidang pendidikan dari Universitas Negeri Malang itu.

Tirto juga mengingatkan penting membangun kehidupan bermasyarakat yang guyub dan rukun. Salah satu yang bisa dijadikan sarananya adalah kesenian dan kebudayaan. Dengan tumbuhnya kerukunan bisa memunculkan inisiatif gotong royong membangun sidoarjo. “Karena itu mari kita bersama-sama membangun desa, membangun kabupaten Sidoarjo, holopis kuntul baris (kerjasama gotong royong) sa’ iyeg sa’ eko proyo (bersatu dalam satu tujuan yang positif),” imbaunya.
Sebelum perhelatan wayang dibuka, ibu-ibu PKK ikut tampil apik menyanyikan lagu Indonesia raya dan juga Mars PKK. Acara juga diselingi tari remo dan juga menghadirkan penyanyi cilik Sidoarjo, Bismo Ndaru.
Disamping acara seni hiburan, Kepala Desa Jati Kalang Wiyatmoko SH memanfaatkan momentum berkumpulnya warga untuk berbagi kebahagiaan. Wiyatmoko memberi apresiasi kepada warganya yang telah memenangi sejumlah lomba antarkampung seperti lomba RT Sehat, RT Hijau, dan RT Mandiri. Selain itu Wiyatmoko melalui BUMDes memberi belasan hadiah bernilai belasan juta rupiah kepada warga yang beruntung karena patuh membayar pajak.

“BumDes sebagai pengepul SPPT PBB berterimakasih kepada warga yang bayar pajak. Jika tahun depan ingin hadiah lebih banyak lagi, diimbau warga bayar pajak PBB melalui BUMDes jangan ke Indomaret atau Bank Jatim. Jadi dari rakyat untuk rakyat,” pesan Kades tiga periode itu .
Lakon Kereta Guntaka

Menandai dimulainya wayang kulit Gagrak Porongan, Tirto Adi menyerahkan gunungan kepada Ki Dalang Rohmat Hadi yang akan membawakan lakon “Kereta Guntaka”. Lakon itu diambil dari nukilan kisah Baratayuda, saat Krisna memerintahkan Arjuna –salah seorang ksatria Pandawa, mencari Kereta Guntaka, sebuah kereta mitologi yang sulit ditemukan apalagi mendapatkannya. Belum lagi harus menghadapi pasukan Kurawa yang ingin menghalangi dan bahkan merebutnya.
Misi pencarian “Kereta Guntaka” ini sesungguhnya simbolisasi proses penempaan batin seorang ksatria. Kereta itu bermakna jalan lurus sedangkan guntaka bermakna ksatria. Untuk dapat “Kereta Guntaka”, Arjuna harus meninggalkan ego pribadinya. “Di dalam kehidupan sekarang ini sifat dan karakter berkorban untuk rakyat diperlukan oleh seorang pemimpin, tidak boleh egois. Jadi Wayang Gagrak Porongan itu syarat gagasan, bukan sekedar tontonan,namun juga tuntutan bagi semua manusia,”paparnya.
Hadir menyaksikan pagelaran wayang kulit di Balai Desa Jati Kalang di antaranya Komandan Koramil, perwakilan Camat, perwakilan Kapolsek Krian, Kepala Desa Katerungan, Lurah Kemasan, para dalang dari Paguyuban Dalan Gagrak Porongan, dan mahasiswa kuliah kerha nyata (KKN) dari Universitas Maarif Hasyim Latif (Umaha) Sidoarjo.
Selanjutnya masyarakat bisa menghadiri pagelaran wayang Gagrak Porongan di 12 titik yang sudah terjadwal sebagai berikut:
- 19 Juli 2025, Dalang Ki Sholeh & Ki Joko di Desa Sidokepung, Kecamatan Buduran
- 2 Agustus 2025, Dalang Ki Rochmat Hadi di Desa Jati Kalang, Kecamatan Krian
- 9 Agustus 2025, Dalang Ki Bambang Sugio, di Desa Bangah, Kecamatan Gedangan
- 30 Agustus 2025, Dalang Ki Slamet Darmawan, di Kecamatan Tulangan
- 6 September 2025, Dalang Ki Suwaji di Desa Suruh Kecamatan Sukodon
- 10 September 2025, Dalang Ki Surono di Desa Pabean, Kecamatan Sedati
- 20 September 2025, Dalang Ki Didik Iswandi, di Desa Rangkah Kidul, Kecamatan Sidoarjo
- 4 Oktober 2025, Dalang Ki Hadiyono, di Desa Janti, Kecamatan Tarik
- 25 Oktober 2025, Dalang Ki Hasan & Ki Ngadollah di Desa Jenggot, Kecamatan Krembung
- 1 November 2025, Dalang Ki Suparno & Ki Suastomo di Desa Gedangrowo, Kecamatan Prambon
- 8 November 2025, Dalang Ki Johan Susilo, di Desa Gelam, Kecamatan Candi
- 15 November 2025, Dalang Ki Tejo & Ki Ken, Desa Jimbaran Wetan Wono ayu (ton)
Tags: gagrak porongan, sidoarjo, superradio.id, tirto adi, wayang kulit
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





