Perspektif Perempuan dalam Menjaga Kebhinekaan dan Meneguhkan Kebangsaan

Yovie Wicaksono - 21 December 2019
FGD dengan tema Perspektif Perempuan dalam Menjaga Kebhinekaan dan Meneguhkan Kebangsaan, di Aula DPD PDI Perjuangan Jatim, Jumat (20/12/2019). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Menjelang peringatan Hari Ibu, Perayaan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, DPD PDI Perjuangan Jawa Timur menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Perspektif Perempuan dalam Menjaga Kebhinekaan dan Meneguhkan Kebangsaan, di Aula DPD PDI Perjuangan Jatim, Jumat (20/12/2019).

Ketua Panitia Acara, Ronny H Mustamu mengatakan, acara ini bertujuan agar para peserta FGD memahami berbagai pemikiran yang berkembang tentang gagasan kebangsaan di tengah kebhinnekaan Indonesia.

Aktivis Gender, Esthi Susanti Hudiono yang menjadi salah satu narasumber dalam acara tersebut mengatakan, perempuan untuk bisa mencapai puncak bukanlah jalan yang mudah. Terlebih hingga saat ini sistem patriarki belum bisa dihilangkan.

Ia mengatakan, gerakan perempuan Indonesia pada masa lalu jauh lebih powerful, salah satunya adalah Gayatri Rajapatni yang merupakan sosok perempuan hebat di balik kebesaran Kerajaan Majapahit.

“Harusnya kita juga bisa. Bukan berarti kompetisi, bahwa laki-laki dan perempuan itu sama, tidak ada yang lebih hebat. Yang terpenting adalah peran, bagaimana kita berkontribusi,” ujarnya.

Sementara itu, Teolog dan Pegiat Kajian Perdamaian Linda Bustan menambahkan, secara teologis masyarakat sudah terkena masalah konstruksi identitas perempuan yang mengakibatkan perempuan dipandang sebelah mata. Ia mencontohkan terkait rencana penciptaan manusia, kapan Tuhan menciptakan Hawa, sesudah atau sebelum Adam diciptakan?.

Linda mengatakan, banyak yang berasumsi bahwa Hawa diciptakan setelah Tuhan menciptakan Adam untuk melengkapi Adam. Kebermaknaan Hawa bergantung pada seberapa Hawa berguna untuk Adam, yang akhirnya menimbulkan adanya ketimpangan peran antara Adam dan Hawa, laki-laki dan perempuan.

“Namun hal tersebut tidaklah benar, dalam kitab menyatakan penciptaan manusia. Manusia itu sendiri merupakan kata jamak yang berarti laki-laki dan perempuan. Maka Allah menciptakan laki-laki dan perempuan secara bersamaan,”

Linda menegaskan, kebenaran dari kitab adalah sebuah kepastian, namun tidak semua penafsiran kitab selalu benar. Oleh sebab itu, ia mengatakan mentafsirkan kitab tidak boleh lepas dari konteksnya.

“Ketika ada ketimpangan, misinterpretasi, ada cara pandang sebelah yang mengakibatkan perempuan itu tidak bisa melakukan perannya. Maka yang rugi sebenarnya adalah laki-laki dan perempuan, karena keduanya tidak bisa secara maksimal menjalankan perannya, karena relasi laki-laki dan perempuan bukan hierarki, tapi relasi partner atau rekan. Bukan atas dan bawah,” tandasnya.

Ia yakin, ketika masyarakat sudah tidak lagi memiliki pola pikir yang menempatkan perempuan pada sektor domestik maka akan terwujudlah keadilan sosial yang berperspektif gender, isu kebhinnekaan dan kebangsaan akan tuntas. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.