Jamasan Pusaka Bung Karno 

Yovie Wicaksono - 11 September 2019
Jamasan Pusaka di Situs Ndalem Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, pada Rabu (11/9/2019). Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Pusaka jenis keris dan tombak Presiden pertama RI Ir Soekarno, di jamas di Situs Ndalem Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, pada Rabu (11/9/2019).

Salah satu pemimpin ritual jamas pusaka, Andi menjelaskan, ini merupakan salah satu tradisi tahunan yang sudah dilaksanakan sejak puluhan tahun lampau ketika bulan Suro oleh keluarga besar Ndalem Pojok, rumah milik RM Soemosewoyo, ayah angkat semasa kecil Presiden Ir Soekarno.

Dulunya kegiatan ini dilakukan secara tertutup dan baru kali ini dibuka untuk umum.

“Tujuannya agar masyarakat tahu, tentang prosesi adat pencucian dan mengetahui jenis pusaka peninggalan para leluhur,” jelas Andi.

Jika ditilik dari sejarah, diperkirakan dua pusaka ini merupakan buatan Empu Supo Mandrangi yang hidup di abad 15 atau di era Kerajaan Brawijaya. Sedangkan untuk jenis pusaka yang dimiliki Presiden Soekarno merupakan jenis Sengkelat.

Andri menambahkan, Bung Karno mendapatkan keris tersebut dari seorang kepala desa di daerah Jawa Tengah pada periode tahun 1947.

“Tombak dan keris ini menurut Pakem Perkerisan adalah keris kyai Sengkelat. Dan keris ini harus dimiliki oleh raja di jaman dahulu. Kalau jaman dahulu Empu Supo membuat ini memang untuk dipegang Raja Brawijaya guna menumpas pemberontakan,” ujarnya.

Menurutnya, alasan kepala desa dulunya memberikan keris ini kepada Bung Karno dikarenakan yang bersangkutan tahu jika Bung Karno memanglah seorang pemimpin negeri yang dinilai pantas menerima dua benda pusaka tersebut.

Selain dua pusaka milik Bung Karno, sebanyak 33 pusaka milik masyarakat juga ikut di jamas dalam prosesi tersebut.

“Ada total 33 pusaka yang dicucikan disini. Kesemuanya itu merupakan milik masyarakat yang ingin pusakanya dicucikan disini,” imbuhnya.

Prosesi penjamasan yang dilakukan, sempat menarik perhatian masyarakat untuk datang melihat langsung ke lokasi.

Tidak hanya dari kalangan masyarakat biasa, sejumlah akademisi juga ikut melihat. Daya tarik yang membuat masyarakat datang ke sini dikarenakan prosesi jamasan dilakukan dengan dibalut adat tradisi Jawa yang kental dengan budayannya.

“Ini bisa menambah literasi saya, tentang budaya Jawa yang unik dan menarik untuk dimengerti sekaligus dipelajari. Ada banyak simbol disini yang perlu saya pahami,” ujar M Rosyid Shobikhi pria asal Lampung yang turut hadir menyaksikan.

Tidak hanya berupa ritual penjamasan, Pengurus Situs Ndalem Pojok juga melakukan gelar Selamatan dan Kirab Pusaka. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.