Sisi Lain Carok, Peran Perempuan Madura Lindungi Kehormatan Keluarga
SR, Surabaya – Dibandingkan hal-hal lain, kekerasan atau praktik carok (duel antara dua laki-laki untuk mempertahankan kehormatan) barangkali merupakan hal yang paling sering diidentikkan dengan masyarakat Madura.
Sebab paling umum mengawali terjadinya carok adalah persoalan kehormatan perempuan. Terlepas dari benar tidaknya anggapan tersebut, perempuan dalam masyarakat Madura sebenarnya merupakan bagian penting dalam struktur sosial karena menjadi simbol sekaligus penjaga prestise dan kehormatan sebuah keluarga.
Menurut budayawan dari Kedaton Ati, Wejoseno Yuli Nugroho, konsep emansipasi sebenarnya telah lama ada dalam budaya Madura. Ketika carok berlangsung, peran perempuan menjadi sangat krusial.
“Pada budaya Madura pada zaman dahulu, saat para lelaki bertarung carok, para istri akan menunggu di sudut arena dengan membawa cundrik (pisau kecil khas Madura) sebagai langkah antisipatif,” katanya saat menjadi pemateri di seminar Reaktualisasi Wayang Gedhog Madura, di Gedung Cak Durasim, Surabaya, Jumat (8/11/2014).
“Bila ada musuh yang mencoba melarikan diri, maka tugas istri adalah mengejar dan menjaga kehormatan keluarga dengan cundrik tersebut,” Lanjutnya.
Lebih jauh, Seno menambahkan, tradisi ini menunjukkan bahwa perempuan Madura tidaklah pasif. Mereka bukan hanya pendukung dari jauh, melainkan berperan langsung dalam menjaga harga diri keluarga.
Peran ini mencerminkan bentuk feminisme lokal yang telah ada sejak lama, jauh sebelum konsep feminisme berkembang di dunia Barat. “Madura sudah lebih feminis dari Barat sebelum feminisme berkembang di sana,” klaim Seno.
Nilai dalam tradisi carok ini, kata Seno, menunjukkan bahwa masyarakat Madura secara historis telah memberikan ruang penting bagi perempuan untuk berkontribusi dan menunjukkan eksistensinya secara langsung dan setara dalam isu kehormatan keluarga.
Di sisi lain, keterlibatan perempuan Madura dalam tradisi carok bukan sekadar soal keberanian fisik, melainkan juga tentang komitmen dan kesetiaan dalam menjaga nilai-nilai yang dianggap sakral.
Seno berharap, generasi muda dapat melihat dan memahami sisi lain dari tradisi carok ini sebagai bentuk kesetaraan dan penghormatan terhadap perempuan. Feminisme bukan sekadar teori di Madura, sebab sudah menjadi nilai budaya yang diwariskan, mengajarkan bahwa perempuan punya peran yang sama pentingnya dalam menjaga kehormatan keluarga. (nio/red)
Tags: carok, duel anak laki, madura, Peran perempuan, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





