Sidoarjo ‘Juara’ Pengangguran di Jatim, Agkatan Kerja Didominasi Gelar Sarjana

Rudy Hartono - 29 May 2025
Sejumlah pelamar kerja di job fair yang digelar oleh Pemkab Sidoarjo di gedung serbaguna GDS. (foto:rri)

SR, Sidoarjo – Kabupaten Sidoarjo kembali mencatatkan diri sebagai wilayah dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi di Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sidoarjo per Agustus 2024, TPT daerah ini mencapai 6,49 persen, jauh di atas rata-rata provinsi yang hanya sebesar 4,19 persen.

Meski mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 8,05 persen, posisi Sidoarjo tetap berada di peringkat teratas dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur dalam hal jumlah penganggur.

Lebih mengkhawatirkan lagi, lulusan perguruan tinggi menjadi penyumbang utama pengangguran di kabupaten ini. BPS mencatat, tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan universitas mencapai 7,68 persen, tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.

Sementara itu, pengangguran dari lulusan SMA masih cukup tinggi meski telah turun drastis dari 11,10 persen pada 2023 menjadi 6,09 persen pada 2024.

Kepala BPS Kabupaten Sidoarjo, Mohamad Isma’il, mengungkapkan bahwa tingginya pengangguran di kalangan lulusan sarjana disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki lulusan dengan kebutuhan pasar kerja (mismatch), serta karakteristik pencari kerja muda yang cenderung selektif dan kurang pengalaman.

“Banyak lulusan baru yang terlalu menunggu pekerjaan ideal sesuai latar belakang pendidikannya, sehingga waktu tunggu menjadi lebih panjang,” ujar Isma’il, Rabu (28/5/2025).

Fenomena ini diperparah oleh posisi Sidoarjo sebagai daerah penyangga Ibu Kota Provinsi Jawa Timur. Dengan pertumbuhan ekonomi tinggi (6,16 persen) dan upah minimum yang juga besar (Rp4,5 juta/bulan), persaingan kerja di wilayah ini menjadi sangat ketat. Daya tarik ekonomi Sidoarjo yang tinggi juga turut menarik masuknya pencari kerja dari daerah lain, meningkatkan tekanan pada pasar kerja lokal.

Di sisi lain, sektor industri yang sebelumnya mengalami penurunan dalam penyerapan tenaga kerja menunjukkan sedikit pemulihan dengan penambahan pekerja sebanyak 10,26 ribu orang pada 2024. Namun, sektor jasa tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, yaitu 63,05 persen dari total pekerja.

BPS menekankan perlunya peningkatan sinergi antara dunia pendidikan dan industri melalui program link and match serta job fair untuk mengurangi angka pengangguran, terutama di kalangan terdidik.

Isma’il juga menambahkan pentingnya adaptasi lulusan pendidikan tinggi terhadap realita kebutuhan pasar kerja, serta peningkatan kompetensi yang relevan dan fleksibel. (*/rri/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.