Gusdurian Surabaya Galang Persaudaraan Lintas Iman di Peringatan Bom Gereja 13 Mei
SR, Surabaya – Tokoh lintas agama, aktivis, dan keluarga korban kompak berkumpul, mendoakan korban di malam refleksi sewindu tragedi bom 13 Mei, di Cakdurasim Surabaya, Jumat (22/5/2026).
Kegiatan yang digagas Gusdurian bersama lintas iman itu pun berlangsung khidmat. Para peserta memberikan penghormatan kepada para korban dan sosok-sosok yang dianggap sebagai pahlawan dalam peristiwa tersebut.
Seperti diketahui, bom 13 mei 2018 merupakan tragedi yang terjadi delapan tahun silam dan menyasar tiga gereja di Surabaya, yakni Paroki Santa Maria Tak Bercela (SMTB), GKI Diponegoro, dan GPPS Arjuno.
Ketua Panitia Refleksi, Adi Sujatmiko, menyebut, kegiatan itu menjadi momentum memperkuat persaudaraan dan menegaskan komitmen “menolak lupa” terhadap peristiwa kelam yang pernah mengguncang Kota Pahlawan.
Ia menekankan, gelaran ini bukan bertujuan untuk membuka luka lama, melainkan sebagai bentuk aksi nyata kepedulian sesama. Untuk itu ia mengajak seluruh lini mendoakan para petugas keamanan atau jemaat yang gugur saat mencoba menghalangi pelaku.
“Marilah kita semua nanti akan mendoakan para arwah yang sudah dengan gagah berani tanpa panjang menghadang pelaku sehingga bisa meminimalisir dampak dari ledakan,” ujarnya.
Ia pun berharap hal ini meningkatkan kepekaan sosial warga terhadap lingkungan sekitar, mulai dari tetangga hingga rekan kerja. “Jadi manusia itu adalah bentuk yang harus kita pegang. Coba untuk semakin menyempurnakan bagaimana memanusiakan manusia dan tentunya kita memperjuangkan juga kehadiran kesetaraan persaudaraan di antara kita semuanya,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan Katua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Wilayah Jawa Timur, Pendeta Simon Filantropa. Dalam orasi kebangsaannya ia memberi pandangan mendalam terkait makna pengampunan yang menjadi inti dari refleksi ini. Menurutnya, menolak lupa juga berarti berani menghadapi proses belajar yang paling sulit dalam beragama, yaitu memaafkan.
“Mengampuni yang paling sulit itu kalau mengampuni di atas luka. Luka itu tidak gampang tapi kan orang harus terus belajar,” tegas Pendeta Simon.
Lebih lanjut ia mengingatkan, semangat kesatuan Indonesia lahir, justru karena adanya perbedaan, bukan sebagai alat untuk menyeragamkan. Karena itu kesatuan harus digunakan untuk merawat perbedaan, bukan melarangnya.
“Justru karena kita berbeda maka kita membutuhkan kesatuan. Jangan kesatuan dipakai menjadi ngomong yang melarang perbedaan, justru kita merawat perbedaan dengan kesatuan itu,” imbuhnya.
Untuk itu, masyarakat tak cukup hanya waspada pada tragedi bom. Banyak ancaman baru yang lebih memiliki daya rusak terhadap kemanusiaan. Seperti fenomena pinjaman online (pinjol) ilegal, judi online, hingga perusakan lingkungan yang daya rusaknya jauh berkepanjangan sampai generasi berikutnya.
“Ada pinjol, ada judi, ada perusakan lingkungan. Dan ketika lingkungan dirusak itu merusak kemanusiaan. Daya ledaknya tidak kalah dengan daya ledak 13 Mei,” pungkasnya.
Refleksi sewindu tragedi bom 13 Mei ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, di antaranya Ketua PCNU Kota Surabaya, KH Muhammad Nizam Assofa, Romo Kiai Zaiful Halim, serta perwakilan dari komunitas Gusdurian Surabaya. Peringatan ini diakhiri dengan doa lintas iman agar bangsa Indonesia terus bergerak menuju arah yang lebih baik melalui persaudaraan yang setara. (hk/red)
Tags: bom gereja, gusdurian, refleksi, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





