Ritual 1 Suro di Petilasan Sri Aji Joyoboyo dan Sendang Tirto Kamandanu Ditiadakan

Yovie Wicaksono - 14 August 2020
Sendang Tirto Kamandanu. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Berbeda dari tahun sebelumnya, pelaksanaan upacara ritual 1 Suro yang biasa diadakan di petilasan Sri Aji Joyoboyo di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, terpaksa ditiadakan sementara waktu. Keputusan ini diambil terkait dengan kondisi saat ini yang berada di tengah pandemi Covid-19.

Guna menghindari datangnya gelombang massa, pihak panitia telah memasang spanduk bertuliskan “Antisipasi bahaya Covid-19, pelaksanaan upacara ritual 1 Suro tahun 2020 ditiadakan di Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri” di sejumlah titik pintu masuk, diantaranya di halaman depan pintu masuk Sendang Tirto Kamandanu dan lokasi lainnya.

Mbah Suratin, juru kunci Sendang Tirto Kamandanu mengatakan, imbauan ini sudah disampaikan oleh kepala desa sejak sepekan yang lalu, setelah pihak perangkat desa menggelar rapat bersama panitia 1 Suro, tokoh budaya dan masyarakat lingkungan setempat.

Dalam musyawarah tersebut  dicapai kesepakatan jika prosesi ritual tetap dilaksanakan,  namun peserta yang dilibatkan hanya orang tertentu khusus di lingkungan sekitar dan jumlahnya  tidak lebih dari 10 orang.

Kondisi yang dialami sekarang, sangat berbeda jika dibandingkan ritual 1 Suro tahun sebelumnya yang melibatkan lebih dari 200 orang. Mereka ini bukan hanya berasal dari panitia lokal Kediri melainkan dari luar daerah.

“Yang ditentukan hari H tanggal 20 Agustus 2020, upacara 1 Suro ditiadakan. Hanya terbentuk suatu panitia kecil, dari warga desa yang melaksanakan. Kira-kira melibatkan hanya 6 orang. Kalau biasanya 200 orang ada,” ujar Mbah Suratin, Kamis (13/8/2020).

Selain memasang spanduk imbauan, pihak panitia juga akan menutup dan melakukan penjagaan di setiap jalan menuju lokasi pada 1 Suro.

“Tidak diperbolehkan adanya orang lain datang bergerombol atau berkerumun. Mungkin saat hari H nanti akan ada penjagaan. Setiap jalan akan ditutup,” tandasnya.

Karena terbatasnya  peserta yang dilibatkan, pihak panitia juga berencana memangkas beberapa kegiatan  prosesi ritual yang akan dilaksanakan. Jika biasanya ada sekitar 30 tahapan ritual yang dilaksanakan, untuk tahun ini tidak sampai seutuhnya.

“Unjuk caos dahar, tabur bunga, lalu caos dahar ke 2 tempat busa dan mahkota. lalu setelah itu berdoa. Tapi sebelum prosesi ritual dilakukan, digelar kenduri lebih dulu. Kenduri itu selamatan adat budaya Jawa. Ini merupakan adat budaya leluhur yang perlu kita lestarikan,” pungkasnya.

Kenduri ini merupakan bentuk upacara sakral. Sementara pengertian lelaku caos dahar  merupakan ungkapan doa atas rasa wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lantaran adanya  tahapan prosesi ritual yang dipangkas, kemungkinan kegiatan tersebut memakan waktu cukup singkat tidak seperti biasanya.

“Kalau pelaksanaan upacara, biasanya mulai pukul 09.00 – 12.00 WIB di Sendang Tirto Kamandanu dan Petilasan Sri Aji Joyoboyo. Tapi kalau sekarang kemungkinan tidak sampai jam 12.00 WIB sudah selesai,” tuturnya.

Sekedar diketahui, di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, selama ini memiliki dua destinasi wisata religi yang lokasinya saling keterkaitan satu sama lain. Diantaranya petilasan Sri Aji Joyoboyo serta Petirtaan Sendang Tirto Kamandanu.

Sendang Tirto Kamandanu. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

Petirtaan Sendang Tirto Kamandanu merupakan situs peninggalan kerajaan di masa pemerintahan Sri Aji Joyoboyo pada abad ke 12 silam yang telah dipugar atas prakarsa Yayasan Hondodento Yogyakarta dan didukung segenap lapisan masyarakat. Tempat ini merupakan Patirtan (mata air yang dianggap suci) yang digunakan pada masa pemerintahan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo dan sampai sekarang masih lestari.

Selain sebagai tempat pemandian, air dari Sendang Tirto Kamandanu ini banyak digunakan untuk berbagai keperluan pengunjung sesuai dengan keyakinan masing-masing. Hal ini seiring keyakinan masyarakat bahwa Sendang Tirto Kamandanu digunakan untuk melukat (mandi dan bersuci) oleh sang prabu sebelum melakukan ‘parama moksa‘ (kembali menghadap Tuhan beserta raganya).

Apabila menginjak bulan Suro, dua tempat tersebut selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai daerah. Biasanya puncak kunjungan wisatawan  terjadi pada 1 Suro. Dimana di dua tempat tersebut setiap tahunya selalu diselenggarakan upacara ritual 1 Suro. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.