Rabu Abu di Gereja Santa Maria Tak Bercela

Yovie Wicaksono - 23 February 2023
Rabu Abu di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Rabu (22/3/2023). Foto : (Super Radii/Hamidiah Kurniasari)

SR, Surabaya – Umat katolik di seluruh dunia mulai Rabu (22/2/2023) memasuki masa Pra Paskah. Mengawali masa puasa dan pantang, mereka menghadiri Misa Rabu Abu, seperti di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya.

Sekira 1500 umat dengan khusyuk menjalani rangkaian prosesi Rabu Abu, mulai dari ritus pembuka, pengolesan abu ke dahi peserta, hingga komuni.

Romo Agustinus Pratisto Trinarso mengatakan, tahapan pra paskah ini merupakan simbol pertobatan sebelum memasuki puasa 40 hari.

“Kita mengawali puasa dan pantang. Ini adalah awal dari pertobatan dengan sikap perilaku, mawas diri, jadi pertobatan dari diri sendiri,” ujarnya.

Tiap tahun, ucapnya, dipilih tema yang harus didalami tiap umat. Untuk tahun ini, masa Prapaskah bertema spiritualitas di keluarga.

“Nanti diisi dengan kegiatan bermacam-macam. Di lingkungan, kelompok komunitas ada pendalaman iman itu mereka kumpul, melakukan aksi sosial berbagi ke sesama,” ucapnya.

Hal ini dipilih sebab ada keprihatinan pada perkembangan milenial di masa kini sehingga diharap pendalaman bisa meningkatkan keimanan dan kualitas umat.

“Keprihatinannya kalau secara dasar keuskupan memang ingin meningkatkan kualitas umat. Kita pilih ini karena dampak milenial itu ke keluarga,” tuturnya.

Ia berharap umat bisa menjalani masa pertobatan dengan serius, fokus memperbaiki diri serta bebagi ke sesama dengan niat yang tulus.

“Harapannya umat siap memasuki masa pra paskah jadi siap melakukan perubahan diri dan pertobatan lalu puasa dan pantang dan amal kasih. Kurangi kegiatan hura-hura,” ungkapnya.

Di sisi lain, Ketua Bidang Kerasulan Umum Gereja Santa Maria Tak Bercela, FX Ping Teja menambahkan, pelaksanaan Rabu Abu adalah tahapan sakral bagi umat katolik, karena itu segala persiapan dilakukan dengan matang, termasuk antisipasi membludaknya kapasitas.

“Abu yang dioleskan di dahi itu hasil dari batang pohon palma pada tahun lalu, itu dibawa umat pulang, dibawa kembali kesini dan itu dibakar jadi abunya, butuh 20ribu batang pohon palma,” ucapnya.

“Sudah kami siapkan juga antisipasi untuk kalau ada kelebihan kapasitas. Protokol kesehatan masih ada tapi sekarang gak terlalu ketat,”pungkasnya. (hk/red)

Tags: ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.