Ini Cara YPAB Surabaya Latih Motorik dan Sensorik Siswa MDVI
SR, Surabaya – Gelak tawa dan sorak-sorai membahana di halaman SMP dan SMA Yayasan Pendidikan Anak-Anak Buta (YPAB) Surabaya. Di balik riuhnya suasana perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia tersebut, terselip perjuangan para siswa disabilitas netra yang tengah mengasah kemampuan motorik dan sensorik mereka melalui serangkaian perlombaan khusus.
Selama dua hari berturut-turut sejak Selasa (11/8/2026), YPAB Surabaya menghadirkan beragam lomba yang dirancang inklusif. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah perlombaan bounce, yang secara khusus diperuntukkan bagi siswa dengan Multiple Disabilities and Visual Impairment (MDVI), yakni anak berkebutuhan khusus yang mengalami gangguan penglihatan sekaligus memiliki satu atau lebih hambatan fisik tambahan.
Melalui permainan ini, para siswa tidak hanya diajak bergembira menyambut kemerdekaan, tetapi juga dilatih untuk mengoordinasikan gerak tubuh, ketangkasan motorik, serta menguji ketajaman indra pendengaran dan perabaan mereka.
Guru SLB A YPAB Surabaya, Tutus Setiawan, menjelaskan bahwa pemilihan lomba bounce merupakan langkah edukatif yang disesuaikan dengan kebutuhan ruang gerak siswa MDVI.
“Kenapa kami memilih lomba bounce? Karena peserta lomba ini termasuk anak-anak MDVI atau tunanetra dengan hambatan fisik. Melalui dorongan pergerakan motorik ini, kami ingin anak-anak dapat mengoptimalkan panca indra yang mereka miliki, baik siswa low vision maupun yang totally blind (buta total),” ujar Tutus, Sabtu (15/8/2026).
Pria yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia tersebut menambahkan, setiap aturan permainan disesuaikan secara cermat agar seluruh siswa dapat berpartisipasi aktif tanpa merasa terbatasi oleh kondisinya.
“Para guru juga mendampingi siswa dengan MDVI secara melekat. Tujuannya adalah untuk memberikan arahan gerak dan membantu siswa mengeksplorasi kemampuan fisik mereka,” jelas lulusan Magister Pendidikan tersebut.
Selain lomba bounce yang menguji ketangkasan dan motorik halus-kasar, YPAB Surabaya juga menggelar berbagai kemeriahan lain. Di antaranya lomba orasi kemerdekaan, makan kerupuk, menangkap anak bebek, hingga estafet air.
Tak mau ketinggalan, para guru dan wali murid turut menyemarakkan suasana lewat lomba estafet tampah.

Salah satu siswa kelas 8, Nesya, tak sanggup menyembunyikan rasa bahagianya. Wajahnya berseri-seri setelah berhasil menyabet gelar juara pada lomba estafet air, sebuah lomba yang mengandalkan kerja sama tim dan kontrol motorik saat memindahkan air.
“Lomba estafet air itu seru banget! Ini lomba yang paling saya tunggu-tunggu karena bisa basah-basahan main air. Kalau boleh, tahun depan lombanya main air lagi atau lomba makan es krim,” tutur Nesya polos.
Bagi YPAB Surabaya, rangkaian lomba 17-an ini bukan sekadar agenda rutin tahunan. Lebih dari itu, ajang ini menjadi ruang tumbuh bagi siswa netra dan MDVI untuk terus melatih kemandirian gerak motorik, membangun rasa percaya diri, dan merayakan kemerdekaan dengan cara mereka yang luar biasa. (Lin/red)
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.


