Mengenal Disabilitas Psikososial : Ketika Definisi Disabilitas Tidak Lagi Soal Tubuh 

Rudy Hartono - 3 August 2026
Ilustrasi panti rehabilitasi disabilitas psikososial.

SR, Surabaya  – Selama ini, disabilitas kerap diidentikkan dengan keterbatasan fisik, seperti penggunaan kursi roda, tongkat, atau alat bantu dengar. Padahal, pemahaman tersebut telah berkembang.

Menurut World Health Organization (WHO) melalui International Classification of Functioning, Disability and Health (ICF), disabilitas tidak hanya berkaitan dengan kondisi tubuh, tetapi juga dengan hambatan lingkungan yang membatasi partisipasi seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Dr. Geoffrey M. Reed dalam artikelnya yang berjudul What’s in a Name? Mental Disorders, Mental Health Conditions and Psychosocial Disability menjelaskan bahwa pendekatan model sosial disabilitas (social model of disability) memandang disabilitas bukan semata-mata sebagai persoalan individu.

Berbeda dengan medical model, pendekatan ini menekankan bahwa seseorang mengalami disabilitas ketika kondisi kesehatannya bertemu dengan berbagai hambatan, seperti stigma, diskriminasi, keterbatasan akses layanan, maupun lingkungan yang belum inklusif.

Perspektif ini juga menjadi dasar dalam memahami disabilitas psikososial. Apa Itu Disabilitas Psikososial? WHO mendefinisikan disabilitas psikososial sebagai kondisi yang muncul akibat interaksi antara gangguan kesehatan mental dengan hambatan sosial dan lingkungan yang menghalangi seseorang untuk berpartisipasi secara setara di masyarakat.

Hambatan tersebut dapat berupa stigma, diskriminasi, eksklusi sosial, maupun terbatasnya akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan layanan kesehatan.

Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengelompokkan disabilitas psikososial sebagai bagian dari disabilitas mental. Beberapa gangguan kesehatan mental yang dapat berkembang menjadi disabilitas psikososial apabila menimbulkan hambatan fungsi yang signifikan meliputi skizofrenia, gangguan bipolar, depresi mayor, gangguan kecemasan, gangguan obsesif kompulsif (OCD), serta gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Gejala Sering Tidak Disadari

Berbeda dengan disabilitas fisik, disabilitas psikososial umumnya tidak terlihat secara kasat mata. Karena itu, banyak individu baru mendapatkan pertolongan ketika kondisinya telah memburuk.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain perubahan suasana hati yang berkepanjangan, rasa cemas berlebihan, menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, hingga munculnya halusinasi atau keinginan menyakiti diri sendiri. Apabila gejala tersebut berlangsung lama dan mulai mengganggu aktivitas, diperlukan pemeriksaan oleh tenaga profesional.

Peran Keluarga Sangat Penting

Keluarga menjadi pihak yang paling dekat untuk mengenali perubahan perilaku sejak dini. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga berperan penting dalam membantu individu memperoleh pertolongan lebih cepat, meningkatkan keberhasilan pemulihan, serta memperbaiki kualitas hidup penyandang disabilitas psikososial.

Bentuk dukungan tersebut dapat dimulai dari hal sederhana, seperti memperhatikan perubahan perilaku, membangun komunikasi tanpa menghakimi, memberikan dukungan emosional, serta mendorong anggota keluarga untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater ketika gejala mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

WHO juga menegaskan bahwa keterlibatan keluarga dan komunitas merupakan bagian penting dari pendekatan berbasis hak (rights-based approach) dalam layanan kesehatan mental untuk mengurangi stigma, diskriminasi, dan pengucilan sosial. Meski telah diakui dalam berbagai regulasi internasional maupun nasional, penyandang disabilitas psikososial masih menghadapi tantangan dalam memperoleh pekerjaan, pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan berpartisipasi secara setara di masyarakat. Karena itu, meningkatkan pemahaman publik menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif sekaligus mengurangi stigma terhadap penyandang disabilitas psikososial. (*/dv/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.