Puasa saat Pandemi, Ahli Gizi Tekankan Jaga Hygiene dan Sanitasi

Yovie Wicaksono - 23 April 2021
Ilustrasi.

SR, Surabaya – Untuk kedua kalinya, tahun ini umat muslim dunia, khususnya Indonesia harus menjalankan puasa di tengah masa pandemi Covid-19.

Kondisi itu tentu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, mengingat aktivitas di luar rumah masih dibatasi dan perlu ekstra menjaga imun tubuh agar tidak mudah terpapar virus meskipun sedang berpuasa.

Melihat hal itu, salah seorang Ahli Gizi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Mahmud Aditya Rifqi menyebutkan, menjaga keamanan dari segi hygiene dan sanitasi sangat diperlukan pada masa pandemi sekarang ini.

Hygiene adalah suatu upaya untuk memelihara kebersihan diri sendiri, sementara sanitasi adalah upaya untuk menjaga kebersihan lingkungan.

“Kondisinya saat ini selain puasa adalah pandemi, sehingga lingkungan sekitar kita rentan terhadap bakteri patogen serta berbagai virus. Ketika kita lengah dan imunitas menurun, maka tubuh akan berisiko besar untuk terpapar virus tersebut. Jadi saran saya adalah jaga imunitas, kebersihan makanan, dan kebersihan lingkungan,” ujar dosen yang kerap disapa Mahmud itu.

Satu hal yang tidak kalah penting menurut Mahmud adalah menjaga keamanan makanan yang dikonsumsi selama puasa.

Dia menyebutkan, belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa makanan bisa menjadi media berpindahnya virus ke dalam tubuh manusia. Akan tetapi, virus bisa menempel selama beberapa jam pada benda mati, salah satunya adalah bungkus makanan.

Berdasarkan hal itu, dosen mata kuliah Keamanan Pangan itu menerangkan, kebersihan dan keamanan makanan harus menjadi perhatian utama untuk mencegah masuknya virus ke dalam tubuh.

“Kalau kita sendiri yang memasak makanan, kita bisa memastikan proses pengolahannya sudah bersih dan aman. Akan tetapi, ketika kita membeli makanan, maka sebagai antisipasi bungkus luar makanannya harus dibuang terlebih dulu baru dibawa masuk ke rumah,” ujarnya.

Selain itu, Mahmud menjelaskan, makanan yang dikonsumsi ketika sahur ataupun berbuka harus diperhatikan tingkat kematangannya. Pasalnya, bakteri sangat mudah tumbuh di dalam makanan yang mentah dan suhu ruang.

“Bakteri bisa mati ketika dipanaskan atau dalam suhu tinggi. Jadi kalau masak makanan harus yang matang,” imbuhnya.

Dosen yang juga mengampu mata kuliah Gizi Olahraga itu menambahkan, sebenarnya makanan utama sayuran dan buah yang dikonsumsi saat berbuka sudah cukup lengkap menjadi sumber vitamin bagi tubuh. Akan tetapi, apabila dikhawatirkan imunitas tubuh akan kurang saat puasa, maka Mahmud menyampaikan boleh ditambah dengan mengonsumsi suplemen sumber vitamin lainnya.

“Suplemen ini bersifat pilihan, jadi tidak wajib. Ahli Gizi selalu menyarankan sumber vitamin yang paling baik itu berasal dari buah dan sayur, tapi tidak masalah jika ingin mengonsumsi suplemen vitamin sebagai upaya ekstra untuk asupan antioksidan tubuh asalkan mengetahui dengan jelas manfaat dari vitamin yang diminum,” jelasnya.

Kemudian untuk menjaga tubuh agar tetap fit selama puasa di masa pandemi, dosen 32 tahun itu menyebutkan kita bisa melakukan aktivitas fisik seperti olahraga. Akan tetapi, dia tidak merekomendasikan olahraga dilakukan saat pagi atau siang hari karena di waktu itu gula darah dalam tubuh sedang rendah.

“Olahraga lebih baik dilakukan saat sore hari menjelang buka puasa biar tidak kehausan dan kelaparan,” pungkasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.