Makna “Rabu Abu” Pra Paskah, Awali Masa Pertobatan Umat Katolik
RD Yustinus Sumantri saat menemui anak anak yang berkerumun untuk meminta tanda tangan catatan kegiatan ibadah di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, Rabu (5/3/2025) sore. (foto:niken oktavia/superradio.id)
Suasana keramaian di depan gua maria, salah satu lokasi misa di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, Rabu (5/3/2025) sore. (foto:niken oktavia/superradio.id)
Umat dari berbagai wilayah Surabaya yang menghadiri perayaan ekaristi Rabu Abu menerima komuni kudus dari para asisten imam, Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, Rabu (5/3/2025) sore. (foto:niken oktavia/superradio.id)
Pemberian tanda salib abu di dahi menjadi ritual utama sebagai tanda pertobatan diri pada momen ekaristi Rabu Abu di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, Rabu (5/3/2025) sore. (foto:niken oktavia/superradio.id)
Anak anak pun antusias menerima giliran pemberian abu oleh Romo saat ekaristi Rabu Abu di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, Rabu (5/3/2025) sore. (foto:niken oktavia/superradio.id)
Umat berfoto usai melaksanakan misa perayaan Rabu Abu di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, Rabu (5/3/2025) sore. (foto:niken oktavia/superradio.id)
SR, Surabaya – Rabu Abu atau Ash Wednesday menandai permulaan masa Prapaskah dalam tradisi Kristen, khususnya bagi umat Katolik. Hari yang jatuh pada Rabu (5/3/2025) itu memiliki makna sebagai awal masa pertobatan yang berlangsung selama 40 hari menjelang Paskah. Rabu Abu juga merupakan salah satu hari raya wajib dalam Tahun Liturgi Gerejawi yang mengingatkan umat akan kefanaan hidup.
Dalam perayaan Rabu Abu, umat Katolik menerima tanda salib dari abu di dahi mereka. RD. Yustinus Sutikno menjelaskan, abu tersebut mengingatkan umat Allah akan asal-usulnya dan kefanaannya.
“Maknanya supaya umat Allah anggota gereja disadarkan dan kita kembali ke abu, ke tanah. Tetapi kita juga diingatkan bahwa kita bukan abu tanah yang tidak berharga, kita dicintai oleh Tuhan maka ada harapan. Jadi setelah kita meninggal, tetap ada hidup abadi,” ungkap RD. Yustinus Sutikno kepada Super Radio saat ditemui usai memimpin misa rabu abu di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, Rabu (5/3/2025) sore.
Tak hanya itu, Romo Sutikno juga menjelaskan, abu merupakan lambang pertaubatan dan pengingat bagi jiwa bahwa tubuh atau badan manusia adalah sesuatu yang fana dan tidak abadi.
Abu yang digunakan pada Rabu Abu berasal dari pembakaran daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya. Proses ini dilakukan sehari sebelum Rabu Abu sebagai persiapan simbolis untuk mengawali masa puasa selama 40 hari.
“Abu berasal dari daun palma yang tahun kemarin kan ada minggu palma, besok pekan suci diawali dengan itu lalu dibakar. Kemarin dibakar. Dikumpulkan kemudian kita memberi abu pada Rabu Abu,” tambah Romo Sutikno.
Pada perayaan ini, yang mendapat abu adalah terutama umat Allah baik yang sudah dibaptis maupun yang belum dibaptis juga semua boleh mendapatkan.
Adapun makna dari abu ini, kata Romo Sutikno, juga terkait dengan pengakuan akan dosa-dosa serta komitmen untuk memperbaiki diri. Tanda salib dari abu menjadi pengingat bahwa hidup di dunia ini sementara dan umat diharapkan untuk senantiasa mengarahkan hati kepada Tuhan.
“Salah satu esensinya juga pertobatan. Bertobat ya mengarahkan hati kepada Tuhan supaya kita selalu hidup memiliki arah dan orientasi kepada Tuhan” papar Romo Sutikno
Selama masa Prapaskah, umat Katolik menjalankan puasa dan pantang sebagai bentuk pengendalian diri dan penyerahan diri kepada Tuhan. Puasa berarti makan kenyang hanya satu kali sehari, dan bukan sekadar menahan diri dari makan berlebihan.
“Puasa ini bukan hanya menghindari makan dengan berlebihan. Tetapi juga tentang melatih diri untuk lebih fokus pada Tuhan melalui doa, pertobatan, dan pengendalian diri,” jelas Romo Sutikno.
Selain puasa, umat juga melakukan pantang terhadap makanan tertentu seperti daging, garam, atau jajanan, serta menjauhi kebiasaan sehari-hari yang dianggap kurang produktif. Menariknya, pantang tidak hanya terbatas pada makanan, namun juga pada aktivitas sehari-hari yang bisa mengalihkan fokus dari ibadah, seperti berbelanja, menonton televisi, bermain gim, berselancar media sosial atau kebiasaan lain yang digemari.
Romo Sutikno menekankan, esensi dari masa Pra-paskah bukan hanya terletak pada puasa dan pantang, namun lebih kepada sikap hati yang mau bertobat. Bertobat artinya mendengarkan sabda Tuhan, hidup rendah hati, dan tidak sombong.
“Saya harap umat Allah anggota gereja supaya bertobat. Bertobat artinya ya selalu mendengarkan sabda Tuhan, kehendak Tuhan, dan tidak sombong tapi rendah hati dan sederhana,” pesannya.
Selain itu, tanda pertobatan juga diwujudkan dengan hidup berbagi dan bersosial, membantu orang-orang miskin serta yang membutuhkan. “Itu tanda tobat juga. Tak hanya puasa tapi hidup berbagi dan membantu orang-orang yang miskin dan membutuhkan,” pungkasnya. (nio/red)
Tags: pra paskah, puasa, rabu abu, superradio.id, umat katolik
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





