Pemikiran Visioner Bung Karno Masih Relevan hingga Saat Ini
SR, Surabaya – Di tengah kemajuan zaman, pemikiran visioner Bung Karno masih relevan untuk diimplementasikan hingga saat ini. Hal tersebut disampaikan Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Ampel Surabaya, Achmad Room Fitrianto.
“Pemikiran Bung Karno masih sangat relevan dengan kondisi saat ini, meskipun dicetuskan sebelum kemerdekaan, tapi pemikiran beliau masih sangat relevan,” ujarnya.
Salah satu pemikiran yang masih relevan adalah bagaimana Bung Karno memberikan ruang kepada perempuan pada proses perjuangan bangsa, yang saat ini diimplementasikan melalui aturan-aturan di pemerintahan yang mengedepankan perempuan dalam proses pembangunan.
“Biasanya disebut dengan istilah pengarusutamaan gender. Tapi sebetulnya itu sudah diawali oleh Bung Karno yang dirangkum dalam buku Sarinah. Buku itu memberikan pemaparan tentang bagaimana posisi perempuan yang bukan hanya sebagai konco wingking atau perhiasan sangkar madu, tapi bagaimana perempuan harus mampu berkegiatan dalam masyarakat,” sambungnya.
Meski begitu, kata Room, bukan berarti perempuan diberi ruang sebebas-bebasnya untuk berkreasi tanpa mengingat kodrat perempuan sebagai fundamental rumah tangga juga tumpuan dalam rumah tangga.
“Sehingga di sini posisi perempuan diletakkan dalam posisi yang seimbang, baik sebagai pemikir, sebagai tulang punggung keluarga maupun sebagai urat nadi revolusioner pada masa revolusi saat itu,” imbuh Room.
Selain itu, pemikiran Bung Karno soal moderasi beragama juga masih sangat relevan dengan situasi sekarang. Dimana masyarakat didorong untuk saling menghormati perbedaan antar kelompok masyarakat yang berbeda keyakinan.
Menurutnya, Bung Karno lewat buku Dibawah Bendera Revolusi jilid 1 mengungkapkan, konsep Nasakom bukanlah bentuk penyatuan antara ideologi nasionalis, keagamaan dan komunis dalam satu bingkai, namun justru sebagai bentuk bagaimana beberapa unsur yang berbeda secara ideologi, kepercayaan dan aliran ini memiliki semangat bersama untuk Indonesia merdeka.
“Sebenarnya itu esensinya, bukan bentuk perkawinan ideologi nasionalis, keagamaan dan komunis dalam satu bingkai, bukan,” tegasnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya, Bambang Sigit Widodo. Menurutnya, Trisakti Bung Karno hingga saat ini masih relevan untuk diimplementasikan.
Adapun Trisakti Bung Karno yakni berdaulat di bidang politik, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan.
“Konsep Trisakti Bung Karno itu harus tetap kita pertahankan. Budaya misalnya, memang orang sekarang itu dihadapkan pada kehidupan yang tidak lepas dari dunia maya, sosial media, internet, AI, dan lainnya sehingga budaya lokal jadi tergerus. Kalau kita kemudian konsisten, berkepribadian, maka konsepnya kita berpandangan internasional dan global tetapi masih mempertahankan local wisdom,” kata Bambang.
Kemudian pemikiran gotong royong Bung Karno yang saat ini juga terus ditanamkan dan dipraktikkan melalui sikap kolaborasi. Ini juga menunjukkan masih relevannya pemikiran-pemikiran revolusioner Bung Karno.
Menurut Bambang, Indonesia masih belum memiliki lagi sosok pemimpin atau tokoh seperti Bung Karno. Dimana gaya kepemimpinan tokoh bangsa kelahiran Surabaya ini menggunakan pendekatan the Great–Man Theory, yakni pemimpin yang hebat memiliki sifat kepemimpinan yang terbawa dari lahir, bukan karena dibentuk.
“Bagaimana sosok Bung Karno yang kharismatik, memiliki daya tarik, berwibawa serta energi yang luar biasa sehingga mampu mempengaruhi dan menggerakkan semua komponen masyarakat,” pungkasnya. (fos/red)
Tags: Bung Karno, gotong royong, kesetaraan gender, Pemikiran Visioner Bung Karno, Sarinah, Trisakti Bung Karno
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





