KPU Kediri Monitoring Hak Suara Warga Terdampak Pembangunan Bandara

Yovie Wicaksono - 5 August 2020
Komisi Divisi SDM dan Parmas KPU Kabupaten Kediri, Nanang Qosim. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Menindaklanjuti rekomendasi dari Bawaslu, KPU Kabupaten Kediri, Jawa Timur, telah melakukan supervisi dan monitoring terhadap 100 lebih kepala keluarga yang terdampak pembangunan bandara. Setelah dilakukan monitoring, ternyata diketahui ada sejumlah warga yang sudah tidak tinggal di sekitar proyek pembangunan bandara tersebut.

“Jadi kami meneruskan rekomendasi dari Bawaslu ada beberapa warga Kabupaten Kediri yang terdampak bandara yang ternyata tidak bertempat  tinggal lagi di sekitaran wilayah tersebut,” ujar Komisi Divisi SDM dan Parmas KPU Kabupaten Kediri, Nanang Qosim.

Dari hasil supervisi dan monitoring bersama tim divisi data ternyata diketahui jika pada 31 Juli 2020 lalu, seluruh warga yang bertempat tinggal di sekitaran proyek pembangunan bandara sudah meninggalkan rumahnya masing- masing.

Dari hasil temuan tersebut, KPU Kabupaten Kediri telah berkonsultasi dengan KPU RI dan KPU Provinsi Jawa Timur, menyatakan bahwa mereka yang telah berpindah tempat masih tetap memiliki hak suara dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kediri Desember 2020 mendatang.

“Kami berkonsultasi dengan KPU RI dan KPU Provinsi dipastikan bahwa jika yang bersangkutan, tidak kehilangan hak suaranya. Mereka tetap masuk di dalam coklit,” ujar Nanang Qosim.

Secara teknis, KPU Kabupaten Kediri akan memfasilitasi jika warga yang lokasi pindahnya masih  dalam lingkup satu wilayah kecamatan, maka dimungkinkan bersangkutan bisa kembali ke tempat pemungutan suara lingkungan sekitar yang tidak terdampak pembangunan bandara. Jika pun nantinya warga pindah keluar dari wilayah  kecamatan, maka KPU akan memberinya form pindah tempat atau A5.

“Jika pun pindah diluar wilayah kabupaten maka kami akan klarifikasi, kami sudah memiliki data by name by address, termasuk nomor teleponnya. Masing-masing kepala keluarga sudah kami data. Nanti kita hubungi apakah memilih di tempat semula apakah dia  berpindah ke tempat tujuan,” katanya.

Nanang kembali menjelaskan, jika ada sekitar 100 kepala keluarga yang tinggal di dua wilayah kecamatan yang harus berpindah ketempat lain, yakni Kecamatan Tarokan, persisnya di Desa Bulusari, ada 3 TPS diantaranya  TPS 9, 10 dan 11. Kemudian di Desa Grogol, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri di 1 TPS.

“Jumlahnya sekitar 100 lebih. Ada yang tinggalnya di Tarokan, Grogol, ada yang pindah di Nganjuk dan Blitar,” ujarnya.

Dari sekian warga yang berpindah tempat, mayoritas mereka lebih memilih untuk bertempat tinggal di seputaran wilayah Kecamatan Tarokan, Grogol dan banyakan yang lokasinya tidak jauh dari lingkungan sebelumnya. Sementara hanya beberapa warga yang memilih untuk keluar dari wilayah Kabupaten Kediri, tinggal di Nganjuk dan Blitar. (rh/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.