Menunggu Timbunan Sampah Kota Surabaya Menjadi Berkah
Persoalan Kebiasaan

Merespons temuan Super Radio Co-Founder Nol Sampah, Hani Ismail mengaku prihatin dengan perilaku warga. Menurutnya persoalan habbit (kebiasaan) atau kesadaran masyarakat pada sampah memang belum optimal. Padahal sesungguhnya sampah adalah tanggung jawab setiap individu.
Persoalan selanjutnya adalah pada pemilahan sampah. Hani menyebut, masyarakat masih cenderung menganggap sampah adalah tanggung jawab petugas kebersihan, sehingga tak terbiasa memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Padahal efeknya sangat banyak. Kalaupun ada pemilahan sampah, itu hanya terjadi saat ada lomba kebersihan. Yang dipilah pun hanya yang bersifat ekonomis, minim berkelanjutan.
“Sebagian besar, bukan di Surabaya saja, kebanyakan sampah kita itu masih tercampur (belum dipilah –Red). Jadi habbit mereka susah sekali belum ada tekat perubahan untuk memilah sampah. Baru kalau ada lomba kebersihan, atau pendampingan baru mau memilah sampah,” kritiknya.
Berdasarkan data Nol Sampah hingga 2024 sampah organik masih mendominasi Surabaya dengan kisaran 50-60 persen dari total limbah yang ada. Selanjutnya peringkat kedua ditempati sampah plastik sekira 22 persen, dan sampah lainnya. Jika sampah-sampah tersebut tidak dikelola dengan baik akan menghasilkan zat metana yang berimbas ke efek rumah kaca dan krisis iklim.

“Kebiasaan kecil yang bisa dilakukan misalnya berbelanja bawa tas sendiri, kemudian menghabiskan makanan yang tersedia,” usulnya. “Jika ada sisa makanan yang masuk TPA tapi tidak dapat diolah, maka makanan itu mengeluarkan zat bernama metan yang kalau partikelnya terbang di udara dampaknya sangat bahaya memicu gas rumah kaca berpengaruh pada perubahan iklim,”imbuhnya.
Untuk itu perlu peran semua pihak, termasuk perusahaan produsen. Hani mendorong agar produsen memerhatikan kemasan produk yang ramah lingkungan dan membuang limbah sesuai aturan. Sejalan dengan upaya tersebut, maka tugas selanjutnya adalah mengubah pola kebiasaan masyarakat.
Hani menyadari wacana membangun kebiasaan itu tak mudah diwujudkan karena memerlukan komitmen, kerja keras, dan konsistensi yang kuat antarpihak. “Mimpi kami inginnya selalu mendorong masyarakat punya habbit memilah sampah, tapi membangun kebiasaan itu butuh waktu lama, melihat kondisi saat ini, setidaknya masih perlu waktu 5 hingga 7 tahun lagi,” seloroh Hani.
Tampilkan Semua
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





