Menepis Stigma Gen Z Minim Adab Lewat Kacamata Mukhlish

Rudy Hartono - 9 September 2026
Mukhlis, sarjana Sastra Indonesia Universitas Airlangga penyandang disabilitas netra siap ikuti program magang di Super Radio 88,5 FM Surabaya. (foto: dipta/superradio.id) ‎

SR, Surabaya — Stigma bahwa Generasi Z (Gen Z) minim adab dinilai tidak sepenuhnya tepat. Mukhlish, sarjana Sastra Indonesia Universitas Airlangga penyandang disabilitas netra, menyebut anggapan tersebut kerap muncul akibat ketidaksiapan generasi terdahulu menghadapi karakter anak muda yang kritis.

‎‎​Pandangan ini disampaikan Mukhlish menyambut program magangnya di Super Radio 88,5 FM Surabaya. Lewat bekal ilmu sastra dan minatnya di bidang psikologi sosial, ia bersiap membuktikan potensi disabilitas di industri media sekaligus meluruskan prasangka sosial terhadap Gen Z.

‎Menurut Mukhlish, sebutan “kurang beradab” lebih dipicu oleh perbedaan sudut pandang antar-generasi serta kebiasaan berekspresi di dunia digital yang terbawa ke dunia nyata.

‎”Boomer sering menganggap Gen Z nggak tahu adab, padahal aslinya karena mereka (Gen Z –Red) kritis dan tidak sesuai dengan pemikiran mereka (Boomer –Red),” ujar Mukhlish yang ditemui di Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya, Selasa (7/9/2026).

‎”Masalah utamanya bukan di adab, tapi lebih ke asal nyeplos di media sosial. Begitu terbentur etika di dunia nyata, mereka kelabakan. Di sinilah pentingnya penanaman budaya lokal dan pengawasan orang tua,” tambahnya.

Kekuatan Sastra dan Pemikiran Kritis

‎​Ketajaman analisis Mukhlish terbentuk selama delapan semester berkuliah di Sastra Indonesia Unair. Ketertarikannya pada buku dan film membuatnya mendalami peran bahasa dalam membentuk pola pikir masyarakat.

‎”Aku kagum gimana hal-hal yang nggak ada bisa diciptakan secara imajiner lewat film maupun buku menjadi wujud nyata. Sastra itu nggak sekolot yang dibilang orang, peluangnya sangat luas,” ungkapnya.

‎Melalui kesempatan magang ini, Mukhlish memilih fokus untuk bergerak di balik layar. Ia berkomitmen penuh untuk menyalurkan ide-ide kreatif serta gagasan inovatifnya guna memproduksi konten-konten media yang tidak hanya informatif, tetapi juga memiliki dampak sosial yang positif bagi masyarakat luas.

‎‎​”Kalau untuk penyiaran monolog panjang aku bukan ke sana. Tapi kalau bikin naskah konten, penyusunan gagasan berita, atau jadi narasumber ide kreatif, aku siap,” pungkasnya. (dipta/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.