Bupati Gresik Dorong Pengelolaan SMA dan SMK  Kembali ke Daerah

Rudy Hartono - 9 September 2026
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani (tengah) saat membuka Simposium Nasional Revitalisasi Sekolah di Gresik, Jawa Timur, Selasa (8/9/2026). Kegiatan tersebut membahas penguatan pendidikan vokasi agar selaras dengan kebutuhan dunia industri. (sumber: antara)

SR, Gresik  – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mendorong pengembalian kewenangan pengelolaan SMA, SMK, dan SLB kepada pemerintah daerah agar kebijakan pendidikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan dan industri di daerah.

“Kami di tingkat kabupaten ingin bertanggung jawab penuh atas masyarakat kami sendiri. Harapannya, regulasi dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 bisa ditinjau kembali,” ujarnya saat membuka Simposium Nasional “Revitalisasi Sekolah Menuju Gresik Berkarya” di Gresik, Selasa (8/9/2026).

Menurut dia, pengelolaan pendidikan menengah yang berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi membuat pemerintah kabupaten memiliki keterbatasan dalam melakukan intervensi terhadap kebijakan pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah.

Yani mengatakan pengembalian kewenangan tersebut diperlukan agar Pemkab Gresik dapat lebih cepat menyelaraskan program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Untuk pendidikan SMA, lanjut dia, Pemkab Gresik ingin memastikan lulusan memiliki daya saing sehingga mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sementara pendidikan SMK diarahkan untuk menghasilkan lulusan dengan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Standardisasi kompetensi lulusan SMK juga menjadi perhatian utama agar para pemuda Gresik tidak hanya menjadi penonton di tengah masifnya industrialisasi daerah,” ujarnya.

Ia menilai revitalisasi sekolah vokasi tidak cukup dilakukan melalui pembaruan sarana dan prasarana, tetapi juga perlu mencakup peningkatan kompetensi guru, penyelarasan kurikulum, serta perluasan pengalaman siswa melalui program magang dan praktik kerja lapangan.

External Relation KEK Gresik Rr Ayu Yayuk Dwi Hastuti mengatakan pertumbuhan investasi perlu diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia lokal, khususnya lulusan pendidikan vokasi. “Dunia vokasi dan industri menjadi satu mata rantai yang harus saling mendukung,” katanya.

Ia menjelaskan KEK Gresik yang berfokus pada hilirisasi manufaktur membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi spesifik, antara lain di bidang metal, energi, logistik, kimia, dan elektronika.

Menurut dia, KEK Gresik diproyeksikan menyerap sekitar 42 ribu tenaga kerja dalam lima tahun dan kebutuhan tersebut dapat mencapai sekitar 200 ribu tenaga kerja hingga 2036.

Karena itu, sekolah vokasi perlu memperkuat kerja sama dengan industri melalui penyelarasan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, serta penambahan kesempatan magang dan praktik kerja lapangan bagi siswa.

“Revitalisasi diharapkan membuat lulusan pendidikan vokasi tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga keterampilan dan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja,” katanya. (*/ant/red)

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.