Kadin Jatim Ajak GMNI Rajin Baca Buku untuk Analisa Kebijakan

Rudy Hartono - 9 September 2026
Suasana Pendidikan kader GMNI Surabaya Raya, Senin (7/9/2026).

SR, Surabaya – Wakil Ketua Kadin Jawa Timur Bidang Migas, Tri Prakoso, menyoroti rendahnya tingkat literasi di kalangan generasi muda yang berdampak pada lemahnya kemampuan analisis terhadap persoalan ekonomi dan politik.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Sekolah Kader Vol. 2 yang digelar oleh DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Raya di Surabaya, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, penguatan literasi sangat krusial bagi mahasiswa agar mampu membaca arah kebijakan negara serta dinamika geostrategi internasional secara tajam.

Pria yang akrab disapa Pras ini menjelaskan bahwa kemampuan membaca buku bukan sekadar hobi, melainkan modal intelektual untuk memetakan pemikiran para pemimpin dunia. Tanpa dasar literasi yang kuat, kader organisasi dinilai akan kesulitan memahami fenomena global yang terjadi saat ini.

“Literasi yang rendah ini dampaknya jelas, kemampuan kita dalam menganalisis menjadi rendah,” ungkap Pras di hadapan para kader GMNI yang hadir.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kemampuan analisis sangat dibutuhkan untuk memahami dasar pemikiran tokoh politik besar, mulai dari tingkat domestik hingga global. Ia mencontohkan bagaimana kebiasaan membaca dapat membantu seseorang memetakan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto, Presiden China Xi Jinping, hingga Presiden Amerika Serikat.

“Analisis segala sesuatu, baik di ekonomi, geostrategi maupun geopolitik, karena kita tidak pernah baca buku. Jadi kita menganalisisnya sangat lemah atas semua fenomena,” tegasnya.

Asisten Deputi Pemprov Jatim Anom Surahno, anggota Dewan Peradi jatim Nonot Suryono, moderator, dan wakil Ketua Kadin Jatim Tri Prakoso mengisi Pendidikan kader GMNI Surabaya Raya, Senin (7/9/2026).

Terkait sosok pemimpin nasional, Pras menyebutkan bahwa karakter pemimpin yang gemar membaca sebenarnya lebih mudah untuk dipahami langkah-langkah strategisnya. Hal ini menjadi alasan kuat mengapa mahasiswa harus mulai memperkaya referensi mereka sejak dini.

“Presiden itu suka baca buku. Itu sebenarnya lebih gampang untuk menganalisis,” ucapnya memberikan contoh nyata pentingnya literasi bagi seorang pengamat maupun calon pemimpin.

Selain literasi, Kadin Jatim juga mendorong peserta Sekolah Kader GMNI untuk memperkuat kapasitas di bidang kewirausahaan. Pras menilai menjadi seorang entrepreneur tidak cukup hanya dengan modal keberanian, tetapi harus dibarengi dengan pemahaman manajemen, pemasaran, hingga investasi.

Kapasitas ini penting agar kemandirian ekonomi yang dicita-citakan organisasi dapat terwujud secara berkelanjutan melalui basis pengetahuan yang kokoh.

Sebagai langkah konkret, Kadin Jawa Timur menyatakan telah membuka berbagai ruang pelatihan yang dapat diakses oleh anak muda. Salah satu program unggulannya adalah kerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (IDX) untuk memberikan edukasi mengenai investasi saham. “Makanya kita latih dulu jenis-jenisnya,” kata Pras merujuk pada pengenalan berbagai instrumen investasi agar para pemuda tidak salah langkah dalam mengelola keuangan dan aset.

Tri Prakoso juga menambahkan bahwa tersedia berbagai pelatihan gratis yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan manajerial dan kewirausahaan. Penguatan kapasitas ini diharapkan mampu memberikan perspektif yang lebih luas bagi generasi muda dalam membaca perubahan zaman.

“Untuk penambahan wawasan, untuk penguatan pengetahuannya, agar kita bisa membaca situasi geostrategis, geopolitik yang terjadi,” tuturnya kembali menekankan kaitan erat antara pengetahuan dan analisis situasi.

Materi yang disampaikan Kadin Jatim ini pun memantik diskusi kritis dari para peserta, termasuk pertanyaan mengenai posisi Marhaenisme di tengah arus kapitalisme dan kewirausahaan. Meskipun tantangan ekonomi semakin kompleks, Pras berharap kader GMNI tidak hanya mampu membangun usaha yang mandiri secara ekonomi, tetapi juga tetap memegang teguh prinsip keadilan sosial. Sinergi antara literasi yang kuat dan jiwa wirausaha diharapkan menjadi bekal utama kader dalam menjawab tantangan pembangunan ekonomi di masa depan. (js/red)

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.