Mengenal Sawunggaling, Pembabat Alas Surabaya

Yovie Wicaksono - 28 April 2019
Juru kunci makam Sawunggaling,  Muhammad Baidowi menunjukkan Makam Raden Sawunggaling, Minggu (28/4/2019). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Berkunjung ke kawasan Surabaya Barat, tepatnya di Kecamatan Lakarsantri, Lidah Wetan, terdapat makam Sawunggaling, yang menyimpan sejarah kota Surabaya.

Terdapat lima makam didalamnya, yakni makam Raden Ayu Pandan Sari yang merupakan teman Sawunggaling saat membabat alas Surabaya, makam Sawunggaling, makam Dewi Sangkrah (Ibu Sawunggaling),  makam Mbah Buyut Suruh (pengasuh Dewi Sangkrah), dan makam Raden Karyosentono (Kusir Sawunggaling yang masih memiliki garis keturunan dengan Sunan Giri).

Juru kunci makam Sawunggaling,  Muhammad Baidowi mengatakan Sawunggaling merupakan sosok yang membabat alas (membuka lahan) Kota Surabaya bagian barat.

“Raden Sawunggaling itu sosok pahlawan yang babat alas Kota Surabaya bagian barat, anaknya Dewi Sangkrah sama Adipati Jayenggrono,” ujar Baidowi kepada Super Radio, Minggu (28/4/2019).

Baidowi mengatakan, di makam Sawunggaling ini setiap satu tahun sekali akan di gelar doa bersama dan gelar budaya setiap bulan suro (dalam bulan Jawa). Setiap satu bulan sekali saat Jumat Legi juga diadakan istighosah bersama dengan tujuan untuk nguru-uri (merawat) budaya.

Makam keluarga Raden Sawunggaling

Sejarah Sawunggaling

Baidowi menceritakan, Jayenggrono meninggalkan Dewi Sangkrah yang sedang hamil untuk bertugas sebagai Adipati di Surabaya, dan meminta Dewi Sangkrah untuk tetap tinggal di kampung Lidah Wetan, yang dulunya bernama kampung Lidah Donowati.

Jayenggrono berpesan, jika nanti anaknya yang lahir adalah laki-laki ia meminta anak tersebut dinamai Jaka Berek (nama kecil Sawunggaling), jika anaknya perempuan namanya terserah Dewi Sangkrah.

“Minta dinamai Jaka Berek karena saat Jayenggrono bertapa, pusakanya jatuh di rawa Wiyung dan membuat ikan yang ada disana itu berek (mati). Saat itulah Jayenggrono menafsirkan bahwa itu pertanda keberkahan Tuhan yang akan memberikannya anak lelaki yang kelak akan menggantikan dirinya,” ujar pria yang sudah menjadi juru kunci sejak 2007 ini.

Ketika beranjak dewasa, Jaka Berek bertanya kepada ibunya mengenai siapa dan dimana ayahnya, kemudian Dewi Sangkrah memberitahu Jaka Berek bahwa ayahnya adalah seorang Adipati di Surabaya, dan memberikan sebuah “Cinde Puspita” kepada Jaka Berek sebagai tanda bahwa ia adalah anak dari Adipati Jayenggrono.

Dengan membawa ayam kesayangannya dan cinde puspita, Jaka Berek menemui ayahnya, namun tidak semudah itu, karena dirinya harus melawan Sawungrana dan Sawungsari yang merupakan saudara tirinya.

“Jaka Berek bertemu dengan kakaknya yang bernama Sawungrana dan Sawungsari, mereka tidak percaya kalau Jaka Berek anaknya Adipati Surabaya. Akhirnya mereka adu ayam dan Jaka Berek menang,” ujar Baidowi.

Setelah itu Adipati Jayenggrono keluar dan menemui Jaka Berek yang membawa cinde puspita sebagai bukti yang menguatkan bahwa ia adalah anaknya. Setelah itu Jaka Berek ditugasi untuk memelihara kuda sebanyak 144 ekor di Surabaya.

Setelah sekian lama, saat Adipati Jayenggrono sudah tua ia bingung memberikan tahtanya kepada siapa, akhirnya kakak dari Adipati Jayenggrono, yakni Adipati Cakraningrat memberikan usul untuk membuat sayembara memanah umbul-umbul untuk umum, siapa yang menang akan menggantikan tahta Adipati Jayenggrono.

“Setelah sayembara diumumkan, Sawungrana dan Sawungsari mengikuti sayembara tersebut tanpa sepengetahuan Jaka Berek, namun tidak ada yang bisa menjatuhkan umbul-umbul itu,” ujar Baidowi.

Secara diam-diam juga, ternyata Jaka berek menggunakan topeng sambil menaiki kuda berhasil menjatuhkan umbul-umbul tersebut. Setelah dibuka topengnya dan mengetahui itu adalah Jaka Berek, akhirnya ia lah yang meneruskan tahta ayahnya dengan gelar Raden Mas Ngabehi Sawunggaling Kulmosostronagoro untuk babat alas Surabaya.

Kemudian disaat pesta perayaan untuk pengangkatan Jaka Berek, Belanda sekongkol dengan Sawungrana dan Sawungsari untuk mencelakai Jaka Berek yang telah berganti nama menjadi Sawunggaling dengan memberikan minuman yang telah dicampur dengan racun. Namun hal tersebut diketahui oleh Adipati Cakraningrat, sehingga ia menumpahkan minuman itu.

Saat itu sempat terjadi kesalahpahaman, dimana Sawunggaling mengira Adipati Cakraningrat ingin mempermalukan Sawunggaling dihadapan para tamu. Namun setelah Adipati Cakraningrat menjelaskan apa yang terjadi, Sawunggaling meminta maaf dan menjadi benci dengan Belanda. Sejak saat itu Sawunggaling berusaha mengusir keberadaan Belanda.

Setelah itu, saat Sawunggaling menjalankan tugasnya untuk membabat alas Surabaya, ia dihadang oleh Raden Ayu Pandan Sari, sosok penguasa hutan. Dengan keberaniannya, Sawunggaling berusaha mengalahkannya.

“Raden Ayu Pandan Sari memberikan syarat, yakni minta dinikahi oleh Sawunggaling. Lalu singkat cerita akhirnya Raden Ayu Pandan Sari yang merupakan lelembut, masuk  dalam tombak Sawunggaling yang digunakan untuk membabat alas Surabaya,” tandas Baidowi.

Begitulah singkat cerita kisah Sawunggaling, sang pembabat alas Surabaya. Namun hingga saat ini, tanggal lahir dan kematian Sawunggaling belum diketahui.

Sekedar informasi, berdasarkan SK Walikota No.188. 45/ 270/436. 1.2/2013  Makam Joko Berek ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Surabaya. Peresmian sebagai cagar budaya dilakukan Wakil Walikota Whisnu Sakti Buana pada 15 Juli 2013. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.