Kisah Sopir Angkot, Sepi Penumpang hingga Jual Angkutan

Yovie Wicaksono - 9 September 2021
Suasana di Terminal Bratang, Surabaya, Kamis (9/9/2021). Foto : (Super Radio/Hamidiah Kurnia)

SR, Surabaya – Kembali diperpanjangnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa-Bali memberikan dampak yang cukup terasa terutama bagi masyarakat kecil, dan pekerja di sektor transportasi, seperti yang terjadi di Terminal Bratang, Surabaya.

Tiap harinya, para sopir angkot dan bus kota di sana berharap adanya keberuntungan untuk mendapatkan setidaknya satu penumpang agar bisa makan. Bahkan, ada beberapa dari mereka yang memutuskan menyerah dan menjual angkutan umumnya demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Angkutan umumnya banyak yang dirombengkan, kalau sekarang ada sekitar 25-50 angkot, tapi yang aktif itu trayek lyn S ada 2, lyn N ini 1, terus WB ini 1. Bus kota itu total armadanya ada 15 tapi tinggal 6 karena yang lainnya sudah dirombeng, banyak yang gak jalan, hanya tiga yang jalan,” kata petugas Dinas Perhubungan Surabaya, Teguh Santoso yang bertugas di Terminal Bratang, Kamis (9/9/2021).

Penurunan jumlah penumpang pun, lanjut Teguh, sangat drastis dibanding sebelum pandemi. Banyak masyarakat yang akhirnya ragu dan takut menggunakan kendaraan umum, terlebih dengan adanya PPKM yang semakin membatasi kegiatan.

“Kalau dulu penumpang itu hampir 20-25 dalam satu perjalanan bus, sekarang paling banyak cuma 3 penumpang. Kalau angkutan umum hampir gak narik. Jadi ada yang aktif dua misalkan, itu kadang gak narik, kadang ada yang narik tapi isinya cuma satu penumpang, dia akhirnya tekor bensin,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan oleh salah satu sopir angkot Lyn S trayek Joyoboyo-Bratang-Kenjeran, Eko Suyanto. Ia menyebut, meski pada PPKM kali ini tidak ada lagi penyekatan jalan, namun itu tidak banyak mempengaruhi jumlah penumpang.

Selama beberapa bulan ini, Eko harus berlapang dada dengan penghasilan yang hanya Rp 10-30 ribu sehari, berbeda dengan sebelum PPKM yang mencapai Rp 50 ribu. Dan tidak jarang pula, ia tidak mendapat penumpang sama sekali.

“Sehari kadang cuma narik 1, kadang 3, kadang gak blas. Itu orang satu Rp 10 ribu terus bensinnya ikut siapa, kadang gak makan, buat makan aja susah, kita kan makan perlu uang. Ada yang naik baru kita bisa makan,” kata Eko Suyanto.

Selama ini, lanjutnya, keluarganya hanya menggantungkan harapan padanya sebagai sopir angkot, sehingga ia tetap berusaha semangat datang ke terminal, dengan harapan semoga banyak penumpang yang naik angkotnya.

“Jadi ya selama PPKM ini kita cangkrung di terminal, ya berusaha, namanya rezeki, kita tetap keluar ke terminal, gak tahu rezeki gak disangka-sangka gitu. Kadang kosong juga,” lanjutnya.

Oleh karena itu ia berharap keadaan segera membaik dan pulih seperti semula, agar para sopir dapat kembali memperoleh pendapatannya.

“Ya mudah-mudahan kalau Covid-19 nya selesai bisa bangkit kembali. Jadi anak sekolah bisa carter, rombongan pengajian, terus besuk-besuk kan ada,” ungkapnya. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.