Irene Transformasikan Kerinduan dalam Bingkai Musik dan Seni Gerak
SR, Surabaya – Pertunjukan “In (Between) Movement” berhasil memukau penonton lewat perpaduan musik elektronik, gerakan tari, dan visual yang dinamis. Karya yang digagas komposer musik elektronik Irene Tanuwidjaja itu menghadirkan pengalaman pertunjukan yang berbeda melalui respons improvisasional para penari terhadap suara dan visual.
Pertunjukan yang digelar di Balai Budaya pada (3/9/2026) tersebut mempertemukan komposisi musik dan visual dengan gerakan para penari yang merespons lingkungan suara serta visual selama pertunjukan berlangsung.
Karya “In (Between) Movement” sendiri berangkat dari pengalaman Irene, selama berada di Jerman, Irene tidak hanya berhadapan dengan lingkungan baru, tetapi juga dengan perasaan rindu terhadap rumah. Pengalaman homesickness tersebut kemudian menjadi salah satu titik awal kegelisahannya. “Ini datang dari keresahan saya, saat di Jerman merasakan homesickness,” ujar Irene.
Dari pengalaman tersebut, muncul pertanyaan yang kemudian terus ia bawa dalam proses penciptaan karya. Bagaimana rasanya berada di posisi in between? Di mana seseorang tinggal, dari mana ia berasal, dan ketika berada di antara dua tempat, sebenarnya di mana seseorang merasa menjadi bagian?
Pemikiran tersebut menjadi dasar Irene dalam menciptakan In (Between) Movement. Melalui karya ini, ia mengeksplorasi rasa memiliki yang dapat terus berubah, baik terhadap ruang secara fisik maupun secara batin.
“Ini adalah pertama kalinya saya menuangkan pertanyaan pribadi mengenai identitas dan migrasi ke dalam karya,” kata Irene
Karya ini juga sebelumnya sudah pernah di bawakan di Galeri Salihara dan di Jakarta. Pertunjukan tersebut kemudian kembali dihadirkan di Surabaya sebagai bagian dari rangkaian penampilan karya Irene Tanuwidjaja bersama Ruben Reniers.

Dalam proses penciptaannya, Irene tidak hanya menghadirkan musik sebagai elemen utama. Ia turut menggarap bagian visual sehingga musik, gerakan tubuh, dan visual menjadi satu kesatuan dalam pertunjukan.
Irene Tanuwidjaja merupakan komposer musik elektronik kelahiran Jakarta pada 1998. Ia menempuh pendidikan di University of Music and Dance Cologne, Jerman. In Between juga menjadi salah satu karyanya yang berkaitan dengan perjalanan akademiknya, sekaligus bagian dari tugas akhir untuk meraih gelar S2.
Kegelisahan Irene tidak hanya terletak pada pemikiran yang ingin disampaikan, tetapi juga pada bagaimana pemikiran tersebut dapat diwujudkan melalui proyeksi visual dan di gerakan para penari, baik dalam proses produksi di Jerman maupun saat dibawakan kembali di Indonesia
Karya Irene sering mengembangkan potensi ekspresif dari gerakan tubuh dan mengeksplorasi musikalitas suara, dengan mengambil inspirasi dari berbagai hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam proses workshop, para penari juga diberi ruang untuk membawa pengalaman serta identitas mereka masing-masing. Mereka diajak menuliskan berbagai pengalaman, termasuk mengenai identitas, empowerment, dan pengalaman bermigrasi.
“Pas sesi workshop mereka dikasih waktu 15 menit untuk mencatat pengalaman mereka tentang empowerment, identity, dan juga mungkin pengalaman mereka bermigrasi,” ujar Irene.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari materi pertunjukan, salah satunya melalui penggunaan suara dan voice over di dalamnya. Dengan demikian, pengalaman personal para penari turut membentuk suasana dan materi dalam “In (Between) Movement”.
Tak hanya sampai situ, pertemuan Irene dengan Ruben Reniers turut menjadi bagian dari proses tersebut. Irene menemukan Ruben melalui Instagram setelah melihat karya kolaborasi komposer Indonesia tersebut dengan penari. “Saya lihat ini menarik, jadi saya langsung kontak dia dari Instagram,” kata Irene.

Menurutnya ketika ia melihat beberapa karya gerakan tari dan pengalaman dari Ruben ia sangat tertarik karena Ruben dapat menghadirkan visual yang berbeda. Ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi kolaborasi yang mempertemukan musik, gerakan, dan visual.
Menariknya, nama In (Between) Movement sendiri baru tercetus pada minggu terakhir sebelum pertunjukan. Irene ingin menghubungkan gagasan mengenai posisi “in between” dengan “movement” atau gerakan. Ia mendapatkan inspirasi bahwa gerakan atau movement justru menjadi bagian penting dari in between itu sendiri.
Bagi Irene, pertunjukan ini tidak dibuat untuk memberikan satu jawaban tertentu kepada penonton. Ia memberikan ruang bagi penonton untuk membangun interpretasi masing-masing melalui visual, suara, dan gerakan yang mereka saksikan.
Kolaborasi tersebut selanjutnya akan dilanjutkan melalui rencana pertunjukan berikutnya di Bandung. Ruben berharap pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga dapat memberikan pengalaman dan membuka ruang dialog bagi penonton.
“Bagi saya, yang paling penting adalah bagaimana membuat pertunjukan ini bisa memberikan sesuatu kepada orang-orang sekaligus membuat mereka merasakan sesuatu,” ujar Ruben. (davia/red)
Tags: balai pemuda, in between, irene tanuwidjaja, komposer musik, surabaya, Wisma Jerman
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





