Eksistensi Pemijat Tunanetra di Tengah Pandemi 

Yovie Wicaksono - 9 July 2020
Dinas Sosial Kota Kediri memfasilitasi sejumlah pemijat tunanetra untuk membuka praktik pijat shiatsu di kantor Dinas Sosial di Jalan Brigjen Pol Imam Bachri, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Pandemi virus corona (Covid-19), tidak menyurutkan semangat bagi sejumlah pemijat tunanetra di Kota Kediri  untuk terus berkarya demi memperoleh penghasilan.

Tidak dapat dipungkiri, di tengah situasi saat ini mereka mengaku jika pendapatannya berkurang. Keluh kesah ini ternyata mendapat respon dari Dinas Sosial Kota Kediri yang kemudian berinisiatif untuk memfasilitasi sejumlah pemijat tunanetra untuk membuka praktik pijat shiatsu.

Bentuk fasilitas yang diberikan yakni mereka diizinkan untuk memakai salah  satu ruangan yang tidak terpakai di kantor Dinas Sosial di Jalan Brigjen Pol Imam Bachri, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, sebagai tempat praktik memijat.

“Ini merupakan bentuk kepedulian, terutama bagi para penyandang disabilitas tunanetra supaya tetap bisa berpenghasilan di tengah pandemi seperti saat ini,” ungkap Vina Nurannisa, salah satu pendamping penyandang disabilitas dari Kementrian Sosial RI yang ditempatkan di Dinsos Kota Kediri.

Pemijat yang terdaftar di dalamnya merupakan pemijat yang membuka praktik mandiri dan tentunya mereka sudah memiliki keterampilan yang mumpuni di bidangnya.

Sementara itu, dalam pelaksanaannya, pengunjung yang berminat untuk pijat bisa pre order terlebih dahulu untuk membuat janji, mengingat tempat yang juga terbatas. Disamping itu, sebelum melakukan praktik pijat, mereka telah melakukan rapid test dan didapati hasilnya non reaktif.

“Bagi yang mau pijat silahkan membuat janji dulu, untuk kemudian kami atur jadwalnya, selain itu calon konsumen juga bisa menghendaki siapa yang akan memijat mereka, apakah laki-laki atau perempuan,” imbuh Vina.

Karena terbilang cukup baru, praktik pijat refleksi shiatsu ini belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Untuk itu, guna menarik minat masyarakat, selama masa promo, konsumen tidak dipatok tarif, alias sukarela.

“Seluruh pendapatan dari praktik pijat shiatsu ini 100 persen diberikan kepada pemijat, pihak manajemen tidak mengambil keuntungan,” jelas Vina.

Lebih lanjut, Vina menginginkan nantinya jerih payah para pemijat ini dapat menunjang perekonomian mereka sehari-hari. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.