Citayam Fashion Week,Tunjukkan Eksistensi Diri dalam Gaya

Yovie Wicaksono - 21 July 2022
Citayam Fashion Week (CFW)(Foto:celebrities.id/MPI Novie Fauziah)

SR, Surabaya – Citayam Fashion Week (CFW) menjadi julukan bagi kumpulan remaja yang berpakaian modis dengan gaya street-style di seputaran jalan Jenderal Sudirman, Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Fenomena ini memperoleh respons dari masyarakat. Salah satunya dari Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR) Rachmah Ida.

Ida menilai fenomena ini merupakan sebuah contoh ketika anak muda tidak mendapat ruang oleh budaya mainstream yang sering dikuasai oleh mereka yang punya debut. “Mereka melihat area tersebut merupakan ruang publik baru yang selama ini tidak mereka dapatkan di media massa atau ruang publik yang terlalu elit,” katanya, Kamis (21/7/2022)

Tren busana yang selama ini disetir oleh kalangan menengah ke atas berusaha diubah oleh fenomena ini. “Mereka mencoba melakukan dekonstruksi terhadap barang-barang fashion yang tidak dapat dijangkau oleh orang-orang di jalan dengan menyajikan fashion jalanan yang tidak kalah menariknya dengan fashion yang biasa dinikmati oleh kalangan middle- upper class.” jelas guru besar pertama bidang media di Indonesia itu.

Menurut  Ida, busana yang dipakai kumpulan remaja di Citayam itu mengartikulasikan kreativitas dalam berpakaian keren tanpa adanya merek-merek ternama dan elit. “Mereka ingin mengkomunikasikan ini adalah urban street  fashion yang selama ini termarjinalkan, tidak diperhatikan, dan mungkin bahkan tidak mampu diakomodasi oleh media populer karena dianggap tidak laku,” ujarnya.

Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR) Rachmah Ida. (Fpto : Istimewa)

Bila dilihat dari tampilan, gaya yang ditunjukan di CFW cenderung unik dan berbeda. Menurut  Ida, hal itu merupakan bentuk dari liberated young people. Yakni, keinginan anak muda untuk membebaskan diri dari kungkungan kapitalisme melalui busana.

Keberanian kelompok remaja di CFW menunjukan eksistensi lewat busana, dipuji sebagai sebuah keberanian mengutarakan kebebasan berpakaian. “Selama ini, secara tidak sadar busana telah dikotak-kotakan. Ini busana identitas desa, identitas kota, dan sebagainya,” ucap dosen Ilmu Komunikasi UNAIR tersebut.

Kemunculan fenomena CFW dimaknai sebagai kemunculan subkultur yang harus bisa diterima. “Jangan hanya budaya yang dimiliki oleh kaum elit saja yang diterima, namun budaya yang lain juga punya kesempatan untuk menunjukan eksistensi identitas mereka,” pungkas Ida. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.