Bosan Hidup di Jalanan, 5 Punkers Banting Setir Jual Sambal Penyetan

Yovie Wicaksono - 19 January 2021
Pemuda Punk saat Berjualan Sambal Penyetan. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Bosan hidup di jalanan yang seringkali identik dengan kekerasan, lima pemuda punk asal Babat Lamongan sejak 10 hari terakhir ini memilih gantung gitar, berhenti menjadi pengamen dan beralih bekerja di warung makan penyetan 99 di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kota Kediri.

Meski sudah berhenti mengamen di jalan dan bekerja di warung makan, penampilan mereka masih eksentrik, tetap identik dengan dandanan ala punk rock. Kuping ditindik, tangan bertato, rambut panjang hingga pernak pernik gelang tangan yang dipakai.

“Awalnya saya ketemu mereka ini lagi ngamen di perempatan traffic light Babat Lamongan sekitar pukul 21.30 WIB. Malam itu saya mengantar istri periksa ke rumah sakit. Begitu ketemu, mereka kemudian menawarkan diri minta untuk diajak kerja. Ketiga pengamen ini lalu saya ajak ngobrol sambil minum kopi di warung, ternyata mereka ini orangnya asyik,” ujar Arofik, pemilik warung makanan penyetan 99.

Meski sama sekali belum kenal, pria berusia 40 tahun ini begitu percaya dan ingin memberi kesempatan mereka untuk bekerja.

“Saya orangnya percaya sama orang, nggak pernah sangsi. Awalnya waktu itu 3 orang saja, ternyata nambah 2 menjadi 5 orang. Mereka kemudian saya ajak ke Kota Kediri untuk bekerja, Saya kan dulu pernah bekerja ikut orang, jadi tahu bagaimana rasanya,” ujar bapak 3 anak ini.

Selama tiga hari, ke lima pemuda punk ini diajari bagaimana cara mencabuti bulu bebek dan bulu ayam, memasak nasi, serta membuat sambal penyetan. Karena memiliki semangat kerja yang besar, apa yang sudah diajarkan, begitu  mudah diserap dan diterima oleh mereka.

“Ngajarinnya mudah, mereka cepet nyantol, ini karena semangat mereka untuk berubah begitu besar,” ujar warga Babat Lamongan ini.

Karena masih awal bekerja, ke lima pemuda punk ini diberi upah Rp 70.000 per hari plus 1 bungkus rokok. Jam kerja mereka mulai aktif pukul 10.00 WIB, mulai dari menyiapkan sambal, lauk pauk, ayam dan bebek goreng, hingga menanak nasi. Menginjak petang, sekira 17.00 WIB, warung makan mulai dibuka sampai tutup pada 01.00 WIB.

“Sekilas jika melihat keinginan mereka untuk berubah, tidak menutup kemungkinan nantinya mereka memiliki usaha sendiri. Rencananya 2 atau 3 orang saya geser ditempatkan di cabang jalan Joyoboyo,” ujar Arofik.

Sementara itu, salah satu pemuda punk bernama Segak mengutarakan alasannya  bekerja di warung makan penyetan. Menurutnya, ia ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang banyak.

Ia mengaku sudah bosan hidup di jalanan selama 3 tahun yang  tidak jelas juntrungan arah hidupnya. Selama itu, ia gantungkan hidupnya sebagai seorang pengamen dan selalu hidup nomaden, berpindah pindah tempat tanpa arah dan tujuan yang jelas.

“Kalau luar pulau Jawa nggak pernah. Paling jauh di Banyuwangi sampai Jakarta,” ujar pemuda yang putus sekolah sejak bangku sekolah dasar ini.

Segak merasa sangat bersyukur bisa diterima dan diberi kesempatan bekerja disini. Menurutnya, sangat jarang ada orang yang mau menerimanya, karena penampilanya.

“Soal penampilan saya sebenarnya ingin berubah, tapi belum waktunya sekarang,” ujar pemuda yang pernah tersandung persoalan hukum ini.

Bagi para pecinta kuliner penyetan, tidak ada salahnya untuk mencicipi racikan sambal buatan lima pemuda punk ini.  Menu sambal penyetan yang disajikan berupa sambal ijo, sambal bajak dan sambal korek ini pedasnya terasa lezat dan tak kalah dengan racikan juru masak profesional. Harganya pun tidak mahal, standart dan ramah dikantong. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.