Penyandang Tuli Kesulitan Kuasai Struktur Kalimat Bahasa Tulis
SR, Surabaya — Bagi mahasiswa Tuli di perguruan tinggi, tantangan terbesar dalam dunia akademik bukan terletak pada kemampuan intelektual, melainkan pada hambatan literasi bahasa tulis yang sering kali terabaikan.
Sebagai pionir kampus inklusif di Indonesia, Universitas Brawijaya (UB) melalui Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) mengungkapkan bahwa mayoritas mahasiswa difabel di sana adalah penyandang Tuli yang masih berjuang keras menyesuaikan logika bahasa isyarat mereka ke dalam kaidah bahasa tulis ilmiah.
Alies Poetri Lintangsari, peneliti dari Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya, dalam jurnalnya yang berjudul “Identifikasi Kebutuhan Mahasiswa Tuli Dalam Pembelajaran Bahasa Tulis”, menjelaskan bahwa ketulian seharusnya tidak lagi dipandang dari sudut pandang klinis sebagai sebuah ‘kerusakan’. Menurutnya, hambatan yang dialami mahasiswa Tuli adalah cerminan dari kondisi sosiokultural yang selama ini kurang mendukung perkembangan linguistik mereka.
Dalam kajian yang diterbitkan pada Indonesian Journal of Disability Studies tersebut, Alies Poetri Lintangsari menegaskan, bahwa ketulian bukanlah sebuah kondisi kerusakan fisik melainkan kondisi sosiokultural yang selama ini mengabaikan identitas sosiokultural masyarakat Tuli terutama dalam hal bahasa.
Ia menambahkan bahwa minimnya literasi bukan disebabkan oleh tingkat kecerdasan, melainkan karena tidak adanya mediasi yang memberikan kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan input bahasa yang setara dengan orang mendengar.
Data penelitian menunjukkan fakta yang cukup kontras mengenai penguasaan bahasa. Jika anak non-Tuli rata-rata mulai memahami kata tunggal pada usia 1 tahun, mahasiswa Tuli di UB rata-rata baru mengenal kata dan kalimat pada rentang usia 3 hingga 9 tahun. Keterlambatan sekitar 2 hingga 4 tahun ini berdampak langsung pada cara mereka menyusun karya tulis ilmiah di bangku kuliah.
Berdasarkan identifikasi dalam kelas bahasa di PSLD UB, Alies menemukan beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan mahasiswa Tuli dalam menulis. Masalah utama meliputi struktur kalimat yang sering kali terbalik antara Subjek, Predikat, dan Objek (SPO), penggunaan tanda baca yang sangat minim atau tidak ada sama sekali, hingga kesulitan menggunakan awalan dan imbuhan yang sesuai konteks.
“Bahasa Tulis mempunyai perbedaan karakteristik sangat jauh dengan bahasa lisan maupun bahasa isyarat. Dalam bahasa lisan maupun bahasa isyarat, ekspresi, intonasi, dan bahasa tubuh pembicara dapat membantu memaknai arti sebuah ujaran,” tulis Alies dalam jurnalnya. “Tanpa bantuan visual tersebut dalam teks, mahasiswa Tuli sering kali menulis kalimat yang sulit dimaknai karena strukturnya masih mengikuti logika bahasa isyarat atau bahasa lisan mereka,” imbuhnya.
Faktor latar belakang pendidikan juga memegang peranan penting. Mahasiswa Tuli yang berasal dari SMA Inklusi cenderung memiliki kemampuan menulis yang lebih baik dibandingkan mereka yang berasal dari Sekolah Luar Biasa (SLB), karena lingkungan sekolah inklusi memberikan paparan bahasa tulis yang lebih intensif. Selain itu, jenis ketulian—apakah terjadi sejak lahir (pre-lingual) atau setelah masa penguasaan bahasa (post-lingual)—sangat memengaruhi kecepatan mereka dalam memahami tata bahasa Indonesia.
Sebagai solusi, Alies Poetri Lintangsari menekankan perlunya metode pengajaran bahasa tulis yang memandang bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua bagi penyandang Tuli. Ia merekomendasikan penggunaan komunikasi simultan (simultaneous communication), yakni metode yang menggabungkan tiga media sekaligus: membaca ujaran bibir, bahasa isyarat, dan bahasa tulis secara bersamaan.
Selain itu, ketersediaan modul dan buku panduan menulis ilmiah yang ramah terhadap karakteristik visual mahasiswa Tuli menjadi kebutuhan mendesak. Dengan dukungan media dan metode yang tepat, diharapkan mahasiswa Tuli tidak lagi terjebak dalam eksklusivitas linguistik dan dapat berpartisipasi penuh dalam aktivitas akademik melalui tulisan yang berkualitas dan mudah dipahami. (*/dv/red)
Tags: disabilitas, mahasiswa tuli, psld, superradio.id, Universitas Brawijaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





