Halal Bihalal, Said Ajak Gus-Ning Pesantren Jadikan PDI Perjuangan Rumah Politik

Rudy Hartono - 13 April 2026
Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Said Abdullah menyapa segenap tamu di halal bihalal PDI Perjuangan Jatim di Shangrilla Hotel Surabaya, Minggu (12/4/2026). (foto : hamidiah kurnia/superradio.id)

SR, Surabaya – Gelaran halal bihalal PDI Perjuangan Jatim berlangsung meriah di Shangrilla Hotel Surabaya, Minggu (12/4/2026). Diikuti kader serta gus dan ning pondok pesantren Jatim, kegiatan tersebut jadi momentum meneruskan tradisi Bung Karno.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Said Abdullah menyebut, kegiatan ini sekaligus memperkuat sinergi nasionalis dengan Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya banyak kesamaan antara NU dan PDI perjuangan.

Mereka sama-sama melakukan pemberdayaan bagi umatnya. PDI Perjuangan di arus politik memperkuat pemerintahan lewat legislatif eksekutif untuk memberdayakan umat. Sedangkan NU memberdayakan umat lewat budaya dan agama.

Qori’ah nasional Elviyatur Rosyidah melantunkan ayat-ayat Alquran sebagai pembuka halal bihalal PDI Perjuangan Jatim di Shangrilla Hotel Surabaya, Minggu (12/4/2026). (foto : hamidiah kurnia/superradio.id)

“Karena itu kewajiban kita, tidak boleh ditinggalkan. Karena dua akar ini lebih banyak persamaan daripada perbedaan, mari kita bersama bergandengan tangan NU dan PDI Perjuangan pada tugas masing masing,” ucapnya.

Lebih lanjut, Said menjelaskan, NU dan PDI Perjuangan punya cita cita ideologis yang sama, tidak mengingkan Islam dihadirkan sebagai sesuatu yang menakutkan. PDI Perjuangan dan NU jauh dari ajaran islamofobia.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Said Abdullah berkeliling menyapa segenap tamu di halal bihalal PDI Perjuangan Jatim di Shangrilla Hotel Surabaya, Minggu (12/4/2026). (foto : hamidiah kurnia/superradio.id)

Pihaknya pun terbuka menjadikan PDI Perjuangan sebagai rumah politik semua lini. “Maka di dalam setiap kader NU selalu kita akan menyebut ahli sunnah wal jamaat. Dengan demikian kami senang sekali bila ada tokoh NU yang menjadikan PDI perjuangan sebagai rumah politiknya,” tuturnya.

Halal bihalal ini, lanjutnya, menjadi bagian tradisi untuk saling memafkan. Membangun semangat baru untuk perjuangan ke depan.

“Halal bihalal sungguh sangat baik, tradisi ini perlu dijaga di tengah budaya kepalsuan yang tumbuh. Karena kita memasuki era post truth, kesulitan membedakan yang benar dan salah, kejujuran dan kebohongan,” pungkasnya. (hk/red)

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.