3 Tradisi Malam 17 Agustus di Jatim
SR, Surabaya – Malam 17 Agustus merupakan malam yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Di malam tersebut, ada banyak tradisi yang digelar warga untuk menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) tercinta, termasuk Jawa Timur (Jatim). Maka tak heran jika di malam 17 Agustus, banyak warga yang menutup jalan untuk menggelar tradisi.
Berikut Tiga Tradisi Malam 17 Agustus di Jatim:
1. Tradisi Barikan
Mengutip situs resmi Kemdikbud, di Jawa Timur terdapat tradisi Barikan. Ada yang menyebut, kata barik berasal dari bahasa Arab yaitu barokah yang artinya berkah. Namun, ada juga yang menyebut kata barikan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti baris.
Tradisi Barikan digelar di malam 17 Agustus, atau malam HUT RI. Biasanya, warga berkumpul di perempatan, pertigaan gang atau jalan kampung, kemudian duduk beralaskan tikar sambil membawa makanan. Makanan yang dibawa tergantung kesepakatan bersama, biasanya berupa buah-buahan, kue, hingga nasi.
Tradisi Barikan dipadukan dengan kegiatan keagamaan dan seni budaya. Barikan menjadi momen untuk mengucapkan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia. Bahkan Lagu kebangsaan Indonesia Raya pun dilantunkan warga sebagai tanda cinta Tanah Air.
Di Jawa Timur, tradisi ini lestari di wilayah Malang Raya dan sekitarnya. Namun, ada juga daerah lainnya yang menggelar Barikan di luar momen Hari Kemerdekaan, misalnya di Kediri ada Barikan menyambut Tahun Baru Islam.
2. Tradisi Tirakatan
Jika di Malang ada tradisi Barikan pada malam 17 Agustus. Warga Surabaya dan sekitarnya lebih akrab dengan istilah Tirakatan.
Dijelaskan dalam situs resmi Wonderful Indonesia Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Tirakatan merupakan salah satu tradisi yang terkenal di Jawa.
Tidak ada aturan baku dalam penyelenggaraan Tirakatan, setiap daerah bisanya memiliki susunan acara masing-masing. Misalnya pembacaan sajak atau mengenang jasa pahlawan, mengheningkan cipta, doa bersama, lalu kemudian dilanjutkan dengan makan bersama satu kampung.
Biasanya, warga terlebih dahulu menggelar perlombaan Agustusan. Sehingga tradisi Tirakatan malam 17 Agustus juga kerap menjadi momen untuk membagikan hadiah pada pemenang lomba Agustusan.
Di Kota Pahlawan, Tirakatan terbilang populer. Saat malam Hari Kemerdekaan, akan banyak jalan kampung dan gang-gang yang ditutup warga. Karena di malam itu, warga biasa berkumpul di jalan, melakukan doa dan makan bersama.
3. Tidur di Tenda
Selain Barikan dan Tirakatan, banyak hal unik lainnya yang dilakukan warga Jatim di malam 17 Agustus, salah satunya menginap di tenda.
Pada tahun 2017, warga Dusun Daleman, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Mojokerto mendirikan 45 tenda yang berjajar di jalan depan rumah. Kemudian mereka tidur di tenda-tenda tersebut saat malam Hari Kemerdekaan.
Selain melestarikan budaya gotong-royong, tradisi ini juga untuk menghilangkan budaya egoisme di antara warga. Karena dalam kehidupan sehari-hari, warga kurang berinteraksi karena kesibukan masing-masing. Dengan tidur di tenda, warga bisa ngobrol ngalor ngidul. (*/vi/red)
Tags: Barikan, hari kemerdekaan, Tirakatan, tradisi, Tradisi Malam 17 Agustus di Jatim
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





