Saat Trauma dan Nyinyiran Netizen Menjelma Seni di ArtSpace Artotel Surabaya
SR, Surabaya – Pameran seni rupa bertajuk “Fraktal” resmi dibuka di Artspace lantai UG Artotel Hayam Wuruk Surabaya pada hari Jum’at (5/6/2026). Tiga perupa: Anas Hope, XGO, dan Roni Sanjaya menyuguhkan 25 karya seni yang tidak biasa.
Mereka menjadikan kanvas sebagai ruang pengakuan dosa, meja terapi psikologis, sekaligus panggung teater tempat mereka menertawakan kegaduhan dunia modern.
Anas Hope, membawa narasi domestik yang sangat personal melalui karya bertema “Ikan Bertetangga”. Karyanya lahir dari pengamatannya terhadap interaksi sosial di sekitar rumahnya. Baginya, hubungan antar-tetangga memiliki keunikan tersendiri yang penuh dengan dinamika.
“Karya ‘Ikan Bertetangga’ menceritakan tentang di tetangga di sekitaran rumah yang selalu saya dapat karena saya lebih kebanyakan di rumah akhir-akhir ini. Karya ini termasuk yang sangat emosional karena terlalu dekat di kehidupan saya”.
Menariknya, Anas tidak hanya menangkap dinamika sosial, tetapi juga menggunakan seni sebagai media regulasi mental atas trauma masa kecilnya. Pilihan warna yang cenderung lembut dan pastel dalam karyanya merupakan cara sengaja untuk menjaga stabilitas emosinya.
“Saya lebih senang suka warna-warna yang soft, tidak suka warna yang berat atau hard karena warna itu mempengaruhi mental saya karena saya mempunyai trauma masa lalu masa kecil,” ungkapnya.

Fenomena Para Cocot Kencono
Sementara street art bernama pena XGO lebih mendapatkan inspirasi lukisan dari kegaduhan dunia digital. Melalui karya provokatif berjudul “Opera”, XGO secara telanjang menyindir fenomena netizen masa kini yang ia sebut sebagai “para cocot kencono”, istilah dari bahasa Jawa: cocot itu mulut sedangkan kencono itu emas.
Para cocot kencono itu merupakan metafora pedas untuk para pengguna media sosial yang gemar menghakimi, merasa paling benar, dan merasa paling pintar di kolom komentar orang lain. “Judulnya memang ‘Opera’, itu kalau bahasa Jawa itu ‘para cocot kencono’. Jadi saya mengangkat itu kegaduhannya di sosial media, cocot dan netizen-netizen gitu… karena kalau kita melihat sosial media itu kan semua merasa paling pinter benernya sendiri,” kata XGO sembari terkekeh.
Latar belakang XGO sebagai street artist juga memberikan pengaruh besar terhadap karya-karyanya. Baginya, kehidupan jalanan menawarkan realitas yang lebih kompleks. Ia merasa bahwa energi dari jalanan di malam hari memberikan pondasi emosional yang tidak bisa didapatkan dari sekadar teknik menggambar biasa. “Saya lebih suka orang-orang jalanan malam, mereka lebih jujur dan apa adanya. Makanya itu yang mempengaruhi karya saya mulai dari pilihan warna sampai tema-tema kegelisahan,” terang XGO.

Kristalisasi Pengalaman Hidup
Pengembaraan visual ketiga seniman ini memantik pujian dari seorang akademisi yang hadir saat pembukaan pameran. Kartika Herlina Candra, Dosen Seni Rupa dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menyebut bahwa karya-karya dalam “Fraktal” adalah hasil kristalisasi dari “big data” pengalaman hidup para senimannya.
Karya ini dinilai matang bukan sekadar karena teknik, melainkan karena kemampuan para seniman dalam merangkum akumulasi peristiwa pahit-manis yang pernah mereka rasakan.
“Kalau saya melihat dari semua lukisan ini memang ada satu kesatuan di mana warnanya itu sangat vibrant… Palet warna yang dihadirkan di sini sangat kaya, namun semuanya terlihat masih balance,” puji Kartika.
Pameran “Fraktal” yang berlangsung hingga 5 September 2026 ini menjadi bukti bahwa seni adalah muara dari segala bentuk kegelisahan dan pengalaman manusia.
Bagi publik yang ingin menyaksikan dari dekat karya-karya imajinatif tiga perupa itu bisa berkunjung di Artspace lantai UG Artotel Hayam Wuruk Surabaya. Pameran lukisan itu digelar dari Jumat (5/6/2026) hingga 5 September 2026, terbuka untuk umum secara gratis. (js/red)
Tags: artotel hayam wuruk surabaya, artspace, fraktal, pameran lukisan, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





